Kamis, 22 Juni 2023

Belajar Hidup Ramah Lingkungan dari Suku Baduy

 

Suku Baduy (Dinas Pariwisata Prov. Banten)

Peradaban manusia di abad ke-21 sudah semakin modern. Globalisasi, perkembangan teknologi, digitalisasi, saling berkelindan mengisi dimensi-dimensi kehidupan masa kini. Mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara, semua dituntut beradaptasi dengan kebudayaan modern yang tak kenal batas ruang dan waktu. Berbagai teknologi dengan segala kecanggihannya hadir memikat umat manusia dengan sifat-sifatnya yang praktis, cepat, efektif, dan efisien. Sayangnya, kemudahan yang diberikan oleh teknologi menyisakan efek samping berbahaya berupa kerusakan lingkungan. Efek rumah kaca, polusi udara, pencemaran air, hutan gundul, tumpukan sampah yang sulit terurai, krisis iklim, dan masih banyak lagi, adalah ekses dari aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia yang tak ada habisnya.

Sikap manusia yang tergantung pada teknologi memang tak terelakkan. Namun, bukan berarti kita menutup mata terhadap kerusakan alam yang ada dan nyata mengancam keberlangsungan hidup generasi mendatang. Oleh karenanya, diperlukan kesadaran bersama dari diri kita masing-masing untuk memulai, sedikit demi sedikit, membudayakan hidup ramah lingkungan. Hal ini bisa distimulasi dengan menginternalisasi nilai-nilai ramah lingkungan yang melekat dalam kearifan lokal masyarakat adat di Indonesia. Berikut merupakan kisah menarik dari salah satu suku di Indonesia yang senantiasa menjaga kearifan lokal dan hidup berdamai dengan alam. Kisah ini saya rangkum dari berbagai sumber dan semoga dapat menjadi refleksi bagi kita semua.

 

Mengenal Suku Baduy

Masyarakat Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang sampai sekarang masih mempertahankan nilai-nilai budaya yang diyakininya ditengah kemajuan peradaban. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang. Adat, budaya, dan tradisi masih kental mewarnai kehidupan masyarakat baduy. Hal utama yang mewarnai keseharian mereka, yaitu bersahabat dengan alam yang alami dan hingga saat ini masyarakat Baduy masih berusaha tetap bertahan pada kesederhanaannya di tengah kuatnya arus modernisasi di segala segi (Kameswari, 2020).

Kepercayaan masyarakat Kanekes atau suku Baduy yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes atau suku Baduy. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep ‘tanpa perubahan apapun’, atau ‘perubahan sesedikit mungkin’. Kelompok masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam (Suryani, 2014).

            Masyarakat suku Baduy adalah cerminan masyarakat adat yang senantiasa kukuh terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang dimilikinya. Menurut keyakinan mereka, menjaga dan memelihara alam adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Hal ini bertujuan agar tetap terjaganya keseimbangan alam sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan dan keharmonisan kehidupan manusia.

 

 

Hidup Sederhana

Sederhana dan kesederhanaan merupakan titik pesona yang melekat pada suku Baduy. Hingga saat ini suku Baduy masih tetap bertahan pada kesederhanaannya di tengah kuatnya arus modernisasi di segala segi. Bagi mereka kesederhanaan bukanlah kekurangan dan ketidakmampuan, akan tetapi menjadi bagian dari arti kebahagiaan hidup sesungguhnya. Di tengah kehidupan modern yang serba nyaman dengan listrik, kendaraan bermotor, hiburan televisi serta tempat-tempat hiburan yang mewah, suku Baduy masih setia dengan kesederhanaan, hidup menggunakan penerangan lilin atau lampu minyak (lampu templok). Tidak ada sentuhan modernisasi disana, segala sesuatunya sederhana dan dihasilkan oleh mereka sendiri, seperti makan, pakaian, alat-alat pertanian dan sebagainya. Meski demikian, mereka tetap menghormati kehidupan modern yang ada disekitarnya. Kesederhanaan dan toleransi terhadap lingkungan disekitarnya adalah ajaran utama suku Baduy. Dari kedua unsur tersebut, dengan sendirinya akan muncul rasa gotong royong dalam kehidupan mereka. Tidak ada rasa iri satu dengan lainnya karena semuanya dilakukan secara bersama-sama. Kepentingan sosial selalu dikedepankan sehingga jarang dijumpai kepemilikan individu. Tidak ada kesenjangan sosial maupun ekonomi antara individu pada suku Baduy (Suryani, 2014).

Bagi masyarakat Baduy, kesederhanaan ditengah perkembangan zaman bukan berarti ketertinggalan. Kesederhanaan justru memberi arti kebahagiaan yang sesungguhnya, menjalani hidup dengan apa adanya, mensyukuri yang ada, dan yang terpenting bagi mereka semesta terpelihara.

 

Bersahabat dengan Alam

Segala hal yang alami, yang berhubungan dengan alam adalah sahabat suku Baduy. Hal ini terlihat dari letak geografis mereka tinggal. Lingkungan tempat tinggal mereka tidak dijangkau oleh transportasi modern, dan terpencil di tengah-tengah bentangan alam pegunungan, perbukitan rimbun, serta hutan lengkap dengan sungai dan anak sungai, juga hamparan kebun dan ladang (huma). Suku Baduy secara umum telah memiliki konsep dan mempraktikan pencagaran alam (nature conservation). Misalnya mereka sangat memperhatikan keselamatan hutan, hal ini mereka lakukan dengan menjaga hutan (Suryani, 2014). Kearifan lokal suku Baduy dengan menjaga kelestarian hutan ini agaknya menampar para manusia modern yang memiliki kewenangan menjaga hutan Indonesia. Pasalnya, menurut data dari Global Forest Watch, Indonesia kehilangan 9,75 juta hektar hutan primer antara tahun 2002 dan 2020 (BBC News, 2021).

Ada beberapa kebijakan adat yang diberlakukan di Baduy Dalam. Pertama, larangan panen setahun dua atau tiga kali karena masyarakat Baduy khawatir tubuh mereka akan terlalu kelelahan jika bekerja terlalu keras. Kedua, larangan menggunakan barang-barang hasil produksi pabrik, seperti sabun, shampo dan pasta gigi. Bahkan, penggunaan pupuk anorganik dan pestisida buatan pabrik juga dilarang di daerah ini. Untuk mengakalinya, masyarakat Baduy menggunakan daun cicaang atau daun honje untuk keperluan mandi dan menerapkan pertanian organik (Rodhiya, 2018).

Ketaatan masyarakat Baduy dalam menerapkan hukum adat inilah yang akhirnya membuat mereka hidup bersahabat dengan alam, menerapkan nature conservation sehingga hutan tetap utuh, tidak mencemari sungai sehingga aliran airnya bersih, dan cukup panen setahun sekali agar keseuburan lahan pertanian tetap terjaga.  

 

Pertanian yang Ramah Lingkungan

Aktivitas ekonomi suku Baduy untuk menunjang kehidupan perekonomiannya adalah bertani. Aspek ekonomi yang diajarkan hanya sederhana yaitu belajar bercocok tanam dengan tetap menjaga keseimbangan alam. Menurut suku Baduy, sistem berladang yang mereka kerjakan sesuai dengan kepercayaan serta ideologi hidup mereka, yaitu untuk tidak membuat perubahan secara besar-besaran pada alam karena justru akan menimbulkan ketidakseimbangan alam. Dengan sistem berladang, mereka tidak melakukan perubahan bentuk alam karena mereka menanam mengikuti alam yang ada. Mereka menanam padi dan tumbuhan lainnya sesuai dengan kontur lereng dan mereka tidak membuat terasiring. Sistem pengairan tidak menggunakan irigasi teknis, tetapi hanya memanfaatkan hujan yang ada. Ada larangan penggunaan air sungai atau mata air untuk mengairi sawah karena ada anggapan pada suku Baduy bahwa membelokkan arah sungai akan merusak keseimbangan alam (Suryani, 2014).

 

 

Pengobatan Tradisional

Dalam hal kesehatan, suku Baduy memilih tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mereka. Berbagai penyakit yang menimpa suku Baduy diatasi dengan cara tradisional yaitu diobati oleh obat-obatan alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sedangkan untuk peralatan hidup mereka menggunakan tumbuhan bambu sebagai teman hidupnya. Bambu dengan segala kelebihannya telah menyediakan dirinya menjadi bahan baku bagi hampir semua kebutuhan hidup manusia. Hampir tidak ada dari bagian tumbuhan ini, mulai dari akar hingga pucuk dan daun-nya yang tidak bisa dimanfaatkan. Akar bambu sering dipakai sebagai bahan ramuan obat, pucuk (rebung) bambu dibuat sayuran, dan batang bambu dewasa untuk bermacam keperluan bangunan. Bahkan tanah tempat bekas rumpun bambu adalah bagian tanah yang amat subur untuk berladang (Suryani, 2014).

            Di tengah ingar-bingar perkembangan arus teknologi dan informasi yang membawa banyak masyarakat Indonesia menjadi manusia modern, ternyata masih ada sekelompok masyarakat tradisional yang tetap memegang teguh kearifan lokalnya. Kelompok masyarakat ini dikenal dengan Suku Baduy yang bermukim di kaki pegunungan Kendeng, Banten. Masyarakat Baduy adalah eksistensi unik dari manusia yang memegang teguh ajaran leluhurnya untuk senantiasa menjaga dan melestarikan alam. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran tersebut mereka implementasikan secara nyata dalam kehidupan yang sederhana, bersahabat dengan alam, dan memanfaatkan apa yang alam sediakan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka. Kisah-kisah seputar masyarakat Baduy yang hidup berdamai dengan alam seperti ini layak disebarluaskan, diapresiasi, dan dijadikan refleksi bagi masyarakat umum. Tentu saja bukan untuk menjiplak apa yang diterapkan masyarakat Baduy, karena rasanya itu tidak mungkin terjadi. Maka, refleksi dari nilai-nilai karakter seperti hidup ramah lingkungan dan tidak merusak alam sekitar hendaknya terinternalisasi dalam diri kita masing-masing. Sehingga, bermula dari kesadaran individu tentang rasa cinta pada alam, harapannya dapat berkembang menjadi kesadaran kolektif bahwa manusia memang tidak bisa hidup tanpa alam.

 

 

Daftar Pustaka:

BBC News. 2021. Indonesia Termasuk Negara Pembabat Hutan Terbanyak, Menteri LHK: 'Pembangunan Era Jokowi Tidak Boleh Berhenti Atas Nama Deforestasi'. Diakses melalui website https://www.bbc.com/, 27 Mei 2023 (09.23 WIB).

Kameswari, D. and Yusup, M., 2020, July. Kearifan Lokal Bercocok Tanam Pada Masyarakat Pedalaman Suku Baduy. In SINASIS (Seminar Nasional Sains) (Vol. 1, No. 1).

Rodhiya, F. 2018. Kesejahteraan Ramah Lingkungan Suku Baduy. Diakses melalui website https://www.hipwee.com/, 26 Mei 2023 (08.35 WIB).

Suryani, I., 2014. Menggali Keindahan Alam dan Kearifan Lokal Suku Baduy (Studi Kasus Pada Acara Feature Dokumenter “Indonesia Bagus” di Stasiun Televisi Net. TV). Musãwa Jurnal Studi Gender Dan Islam, 13(2), pp.179-194.


Selasa, 16 Mei 2023

MEMPERSOALKAN PROSES KURANG DEMOKRATIS DALAM LEGISLASI RUU OMNIBUS LAW KESEHATAN

 

[ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj]

Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi dalam pemerintahannya. Demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sehingga pada hakikatnya, rakyatlah yang berkuasa. Dengan demikian, sudah menjadi niscaya untuk melibatkan rakyat dalam proses berjalannya pemerintahan, termasuk dalam proses legislasi atau pembuatan Undang-Undang.

Masalah mendasar dalam proses legislasi Undang-Undang (UU) beberapa waktu belakangan adalah adanya kecenderungan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menganggap bahwa proses ini hanya urusan mereka. Kerja-kerja yang mereka lakukan diklaim telah sesuai peraturan, sehingga kritik dan masukan masyarakat dianggap sebagai gangguan belaka. Kalaupun ada, partisipasi masyarakat hanya diperlukan sebagai formalitas, sekadar didengarkan, tapi tidak untuk dipertimbangkan. Undang-Undang Cipta Kerja adalah contoh yang nyata di mana terjadi proses legislasi yang kurang demokratis, tergesa-gesa, lalu dinyatakan inskonstitusional bersyarat oleh Mahkamah Konstitusi, kemudian Presiden mengambil jalan pintas mengeluarkan Perppu Cipta Kerja yang akhirnya disahkan DPR menjadi Undang-Undang.

Penyusunan Undang-Undang (UU) dengan metode omnibus law nampaknya sedang menjadi tren di negeri ini. Baru-baru ini yang menjadi sorotan publik adalah proses penyusunan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Kesehatan yang disinyalir mengulang pola ugal-ugalan seperti pada pembentukan Omnibus Law UU Cipta Kerja. RUU Omnibus Law Kesehatan akan menggabungkan 13 UU yang berkaitan dengan kesehatan. Menurut Ketua Badan Legislasi DPR RI, Supratman Andi Agtas, tujuan utama dari RUU Omnibus Law Kesehatan adalah meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan, meningkatkan kualitas kesehatan, dan menurunkan biaya kesehatan di Indonesia. Rancangan undang-undang ini juga akan membentuk kerangka regulasi baru untuk sektor kesehatan, termasuk pembentukan badan asuransi kesehatan nasional (Indonesian Parliamentary Center, 2023).

Alih-alih menuai dukungan, RUU Omnibus Law Kesehatan justru mendapat penolakan dari berbagai organisasi profesi kesehatan. Pada 24 November 2022, lima pimpinan organisasi profesi kesehatan mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. Mereka adalah ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) turut menandatangani surat itu.

Ada empat alasan organisasi profesi kesehatan menolak RUU Omnibus Law Kesehatan. Pertama, pembahasan RUU Omnibus Law Kesehatan dinilai sangat tidak transparan dan tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, tidak ada naskah akademik yang dibicarakan bersama pemangku kepentingan dan masyarakat untuk melihat dasar filosofi, sosiologis, dan yuridis yang bertujuan untuk kebaikan bangsa, sehingga dianggap sarat kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Kedua, RUU Omnibus Law Kesehatan sarat kepentingan atas liberalisasi dan kapitalisasi kesehatan yang akan mengorbankan hak kesehatan rakyat selaku konsumen kesehatan. Organisasi profesi kesehatan juga menilai substansi isi rancangan undang-undang berpotensi mengancam perlindungan dan keselamatan masyarakat atas pelayanan yang bermutu, profesional, dan beretika.

Ketiga, adanya gerakan pelemahan terhadap peran profesi kesehatan karena tidak diatur dengan undang-undang tersendiri. Terdapat juga upaya-upaya untuk menghilangkan peran-peran organisasi profesi yang selama ini telah berbakti bagi negara dalam menjaga mutu dan profesionalisme anggota profesi yang semata-mata demi keselamatan dan kepentingan pasien.

Keempat, terdapat upaya-upaya mengabaikan hal-hal yang telah mendapatkan putusan dari Mahkamah Konstitusi seperti Putusan Nomor 14/PPU-XII/2014, Putusan Nomor 82/PPU-XII/2015, dan Putusan Nomor 10/PPU-XV/2017 dan Nomor 80/PPU-XVI/2018 (Supriatin, 2022).

Tidak berhenti sampai disitu, pada hari Senin, 28 November 2022, lima organisasi profesi diatas juga menggelar demonstrasi 'Aksi Damai' di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Tuntutan dari massa aksi yaitu: (1) menolak RUU Kesehatan (Omnibus Law) dan mendesak pimpinan DPR RI agar RUU ini dikeluarkan dari prolegnas prioritas; (2) menolak liberalisasi dan kapitalisasi Kesehatan; dan (3) menolak pelemahan profesi kesehatan dan penghilangan peran-peran organisasi profesi (Sagita et al, 2023).

Kendati mendapat berbagai penolakan, proses penyusunan RUU Omnibus Law Kesehatan tetap berjalan sebagaimana dapat dipantau melalui laman https://www.dpr.go.id/uu/detail/id/319. RUU Omnibus Law Kesehatan disetujui menjadi RUU inisiatif DPR RI pada rapat paripurna 14 Februari 2023. Setelah itu Draft RUU Omnibus Law Kesehatan diserahkan ke Pemerintah yang menandai dimulainya proses partisipasi publik. Proses partisipasi publik melibatkan institusi pemerintah, lembaga, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dan organisasi lainnya secara luring maupun daring. Pada hari Rabu, 5 April 2023, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Omnibus Law Kesehatan ke Komisi IX DPR RI. Sebelum menyerahkan DIM kepada DPR, Kemenkes mengklaim telah menggelar partisipasi publik masif atau public hearing pada 13-31 Maret 2023 dengan melibatkan 115 kegiatan partisipasi publik, 1.200 pemangku kebijakan yang diundang, dan 72 ribu peserta terkait RUU Kesehatan. Setelah DIM diserahkan, Komisi IX DPR RI menyatakan bahwa RUU Kesehatan tersebut akan dibahas dalam rapat kerja selanjutnya oleh Panitia Kerja (Panja) tentang RUU Kesehatan.

Terkini, penolakan kembali dilontarkan oleh organisasi profesi kesehatan. Lima organisasi profesi kesehatan yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Kesehatan Bangsa (Aset Bangsa) menggelar aksi damai menolak pembahasan RUU Omnibus law Kesehatan pada Senin, 8 Mei 2023. Lima organisasi ini terdiri dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Aksi ini merupakan respons atas upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dan DPR untuk mempercepat pengesahan RUU Kesehatan. Mereka menilai pembahasan yang menyangkut kesehatan masyarakat tidak bisa dilakukan terburu-buru. Massa menuntut pembahasan RUU Omnibus Law Kesehatan tidak bisa dilanjutkan karena masih banyak substansi yang bermasalah di dalamnya.

RUU Omnibus Law Kesehatan dalam perjalanannya menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Menurut Pemerintah dan DPR RI, RUU ini akan menjadi reformasi kesehatan di Indonesia, sehingga layanan kesehatan dapat diakses masyarakat dengan lebih mudah, murah, dan akurat. RUU ini diklaim hadir dalam rangka menjamin hak warga negara untuk mewujudkan kehidupan yang baik dan sehat sejahtera lahir dan batin. Sayangnya, niat baik dari Pemerintah dan DPR RI ini dilakukan dengan proses yang kurang demokratis. Teknik omnibus law atau acapkali disebut sebagai teknik ‘sapu jagad’ dalam pembentukan Undang-Undang (UU) memang lebih menguntungkan Pemerintah dan DPR RI. Pertama, mempersingkat proses legislasi. Kedua, mencegah kebuntuan dalam pembahasan RUU di parlemen sebagai akibat banyak substansi yang dimuat dalam omnibus law, maka anggota parlemen punya kesempatan untuk berkompromi karena bisa saling bertukar kepentingan. Ketiga, efisiensi biaya proses legislasi. Keempat, harmonisasi pengaturan akan terjaga mengingat perubahan atas banyak ketentuan yang tersebar diberbagai UU dilakukan dalam satu waktu. Selain keuntungan tersebut, teknik omnibus law juga terdapat sejumlah kelemahan antara lain: (1) pragmatis dan kurang demokratis; (2) membatasi ruang partisipasi sehingga bertolak belakang dengan demokrasi deliberatif; (3) mengurangi ketelitian dan kehati-hatian dalam penyusunannya; dan (4) potensi melampaui ketentuan dalam konstitusi akibat keterbatasan partisipasi dan kurangnya kehati-hatian dalam membahas (Anggono, 2020).

Penolakan dan reaksi keras dari lima organisasi profesi kesehatan terhadap proses maupun substansi RUU Omnibus Law Kesehatan bukan tanpa alasan. Keputusan lima organisasi profesi kesehatan melakukan 'ekstra parlementer' untuk kedua kalinya ini menunjukkan ada gejala tersumbatnya saluran-saluran aspirasi mereka. Kemunculan draft Naskah Akademik dan RUU yang tidak bertuan, DPR dan Kemenkes RI kompak tidak mengakui draft tersebut berasal dari mereka. Proses penyusunan yang relatif singkat, bahkan terkesan tergesa-gesa. Public hearing yang telah dilakukan dinilai tidak mengakomodir saran dan partisipasi dari lima organisasi profesi kesehatan. Kasus pemecatan seorang Guru Besar bidang Kedokteran diduga akibat tulisan opininya yang mengkritik RUU Omnibus Law Kesehatan. Viralnya edaran di lingkup Kemenkes RI tentang keharusan mendukung RUU Omnibus Law Kesehatan dan tidak berkomentar yang berseberangan. Bahkan, Drone Emprit (sistem yang mampu menganalisa media sosial berdasarkan big data) menemukan adanya dugaan kuat pengerahan buzzer untuk mempromosikan RUU Omnibus Law Kesehatan. Pengerahan buzzer tersebut terlihat dari penggunaan narasi yang seragam, kampanye terstruktur dan terencana, serta unggahan yang dikeluarkan pada periode yang cukup dekat (Fahmi, 2023). Gejala-gejala tersebut merupakan ekses dari sebuah proses legislasi yang kurang demokratis. Oleh karena itu, apabila Pemerintah dan DPR serius melakukan transformasi kesehatan melalui RUU Omnibus Law Kesehatan, seyogianya berusaha sebaik-baiknya memperhatikan prinsip demokrasi dalam proses legislasinya dengan cara:

  1. Menunda pembahasan RUU Omnibus Law Kesehatan di Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2023.
  2. Mengevaluasi proses legislasi RUU Omnibus Law Kesehatan dan memastikan terpenuhinya sejumlah syarat apabila teknik omnibus law diadopsi di Indonesia, yaitu: (1) adanya pemenuhan asas keterbukaan dan partisipasi masyarakat sejak tahap penyusunan; (2) saat pembahasan di DPR harus secara transparan, hati-hati dan tidak tergesa-gesa; (3) substansinya harus dipastikan tidak melampaui konstitusi; dan (4) tetap mengakomodir aspek filosofis dari berbagai UU yang diubah (Anggono, 2020). 
  3. Memfasilitasi dialog dan konsultasi publik. Omnibus Law Kesehatan akan bermanfaat bagi masyarakat jika dapat menghadirkan layanan kesehatan yang profesional, aman, terjangkau, akurat, dan tidak diskriminatif. Hal itu hanya mungkin terjadi jika pemerintah dan DPR memahami betul urgensi dari masalah-masalah kesehatan yang ada. Jadi, sudah semestinya dibuka ruang seluas-luasnya untuk publik dan semua pemangku kepentingan menyalurkan aspirasi agar terjadi dinamika dan dialektika yang merupakan cara ampuh untuk memahami sebuah persoalan secara menyeluruh.
  4. Mengedepankan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi. Diantara berbagai polemik RUU Omnibus Law Kesehatan, ada hal pelik dan memilukan yaitu dugaan adanya upaya terstruktur memecah belah organisasi profesi kesehatan. Alih-alih menjadi mediator, Pemerintah dalam hal ini Kemenkes justru memanfaatkan kehadiran organisasi-organisasi yang pro terhadap RUU Omnibus Law Kesehatan untuk menunjukkan dukungan ‘semu’ dari masyarakat profesi medis dan kesehatan. Kemenkes seharusnya menjadi mediator dengan mengupayakan rekonsiliasi antara organisasi-organisasi yang ada di pihak pro dan pihak kontra, agar terbangun pemahaman yang sama dan tercapai solusi yang terbaik. Karena faktanya, pemerintah tidak bisa sendirian mengatasi masalah kesehatan. Pandemi Covid-19 adalah contoh paling aktual di mana kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi menjadi garda terdepan membawa Indonesia terbebas dari pandemi. Apabila bobot kepentingan kesehatan publik jauh lebih besar dibanding kepentingan-kepentingan lainnya, bukankah sudah sepatutnya pemerintah menggandeng dan melibatkan secara bermakna organisasi profesi?

Jadi, legislasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan menggunakan teknik omnibus law seharusnya dilaksanakan dengan tetap mematuhi konstitusi dan ketentuan peraturan perundang-undangan sehingga dapat terwujud keadilan prosedural yang merupakan gerbang awal dari keadilan substantif. Memperhatikan asas transparansi dan partisipasi bermakna dalam prosesnya, sehingga jalan simplifikasi yang dipilih tidak berarti harus mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi. Mendorong sinergisme dan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi, sehingga dapat terwujud transformasi sistem kesehatan bangsa yang lebih baik.

Semoga saja antara pemerintah, DPR, organisasi profesi, dan stakeholder lainnya saling terbuka memberi-menerima kritik dan masukan, tanpa memaksakan kehendak maupun ancaman bagi pihak-pihak yang berbeda pendapat. Jangan sampai karena mengutamakan ego kelompok menyebabkan lahirnya regulasi yang membahayakan kesehatan, yang merupakan hak dasar semua warga negara Indonesia. Prinsip solus populi suprema lex (keselamatan rakyat hukum tertinggi) harus selalu dipegang, dan karena itulah, pemerintah (dan semua pemangku kepentingan) wajib mengutamakan amanat konstitusi untuk ‘melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia’.



REFERENSI:

Anggono, B. D. 2020. Omnibus Law Sebagai Teknik Pembentukan Undang-Undang: Peluang Adopsi dan Tantangannya Dalam Sistem Perundang-Undangan Indonesia. Jurnal Rechtsvinding. 9(1): 17-37.

Fahmi, I. 2023. RUU Omnibus Law Kesehatan. Diakses pada website https://www.slideshare.net/, 06 Mei 2023 (08.33).

Indonesian Parliamentary Center. 2023. RUU Kesehatan (Omnibus Law). Diakses pada website https://openparliament.id/, 06 Mei 2023 (09.10).

Sagita, N. S., & Nushratu, H. 2022. Kontra RUU Kesehatan Omnibus Law, 5 Organisasi Profesi Sampai Demo di DPR. Diakses pada website https://health.detik.com/, 06 Mei 2023 (09.18).

Supriatin. 2022. Sederet Alasan RUU Kesehatan Ditolak. Diakses pada website https://www.merdeka.com/, 06 Mei 2023 (09.15).

Senin, 27 Maret 2023

INDONESIA, ISRAEL, DAN FIFA DALAM KONTROVERSI PIALA DUNIA U-20 2023

 

(FIFA via Getty Images/Tom Dulat - FIFA)



        Hari-hari ini warganet ramai memperbincangkan pembatalan drawing Piala Dunia U-20 2023 di Bali, Indonesia. Pembatalan oleh FIFA ini diduga kuat akibat gelombang penolakan terhadap Timnas U-20 Israel untuk bermain di Indonesia pada 10 Mei-11 Juni 2023. Para penolak ini beragam, mulai dari gubernur, politisi, agamawan, dan berbagai ormas.

        Bermacam argumen, narasi, dan provokasi bermunculan. Narasi paling kencang tentu atas dasar yuridis, yaitu mematuhi Konstitusi/UUD 1945 yang menolak penjajahan di atas dunia. Kedua, secara politis, Indonesia selalu konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan meminta dunia internasional agar mematuhi Resolusi Nomor 242 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) yang disahkan pada 1967. Resolusi itu mendesak Israel menarik mundur seluruh pasukannya dari tiga wilayah Palestina, yaitu Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur. Secara politis, Israel adalah negara yang tidak akan pernah diakui eksistensinya oleh negara Indonesia, sampai Israel mengakui kemerdekaan dan kedaulatan negara Palestina.

        Pemerintah Indonesia dan PSSI saat ini menghadapi situasi dilematis. Di satu sisi sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, harus siap menerima dan menjamin keamanan seluruh peserta, termasuk Timnas Israel U-20. Di sisi lain, ada desakan sebagian masyarakat, agar pemerintah menolak kedatangan timnas Israel U-20. Seakan-akan harus memilih antara berkhianat terhadap konstitusi atau siap menanggung segala sanksi apabila Indonesia dianggap gagal menjadi tuan rumah. Rumit, bukan? Seakan tidak ada win-win solution untuk situasi ini, sampai ada warganet yang menulis, “Timnas Israel apa nggak mau mengundurkan diri saja? Turu wae, ra resiko.”

        Kontroversi kedatangan Timnas Israel ini merupakan salah satu tanda kalau kita nggak siap dan (mungkin) nggak akan pernah siap menjadi tuan rumah event sepakbola dunia. Bagaimana tidak, mitigasi risiko dari Pemerintah dan PSSI patut dipertanyakan. Apalagi kalau dilihat dari respons pejabatnya yang yaaa sudah hafal lah ya… terkesan normatif dan menyepelekan. Menpora pernah bilang kalau perkara ini sudah dibahas sejak 2019. “Semua negara yang lolos Piala Dunia U-20 dipersilakan untuk bermain”. Statement serupa muncul dari Exco PSSI, “Siapapun yang lolos bisa datang.” Termasuk Timnas Israel. Tentu kalian masih ingat betapa ‘enteng’-nya respon pejabat ketika awal pandemi Covid dulu? Hmmm serupa, tapi tak sama.

      Oh iya, ada juga narasi “pisahkan sepakbola dari politik”. Hmmm lha wong FIFA-nya saja berpolitik kok! FIFA itu ya bermain politik. Tengok saja sikap FIFA pada Rusia. Karena menyerang Ukraina, FIFA menghukumnya sangat berat. Akibat keputusan FIFA-UEFA, timnas Rusia tak bisa menjalani laga playoff Piala Dunia 2022 dan absen di Qatar. Klub Rusia Spartak Moskow juga dicoret dari babak 16 besar Liga Eropa. Hayo, piye? Semakin runyam, bukan?
        
        Sebagai warga negara biasa, saya hanya bisa berharap, ya meski sulit, ada solusi yang mengakomodir dua narasi besar ini. Di satu sisi, kita harus menghargai mereka yang berpegang pada UUD 1945 untuk menolak. Kita pun harus menghargai mereka yang tak ingin mencampuradukan olahraga dan politik. Mungkinkah?

        IOC sudah memberi contoh luar biasa saat Olimpiade Tokyo, 2020 lalu. Karena Rusia dihukum karena invasinya ke Ukraina, maka negara itu dilarang tampil. Rusia sebagai negara dilarang, tapi atletnya tidak. Maka munculah bendera NOC Rusia. Si atlet tetap boleh berlaga, tetapi simbol negara: bendera dan lagu kebangsaannya dilarang. Nah, mungkin ini bisa jadi jalan terbaik. Apalagi duta besar Palestina di Jakarta juga tidak mempermasalahkan sepanjang pandangan politik Indonesia pada Palestina tidak berubah.

Rabu, 11 Mei 2022

REVIEW BUKU SAINSPIRASI - DONI SWADARMA

Judul Buku : SAINSPIRASI
Penulis : Doni Swadarma
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal :  292 halaman
Tahun Terbit : 2015
Kategori : Non-Fiksi, Inspirasi
My Rated : 5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang berisi analisis penulis mengenai fenomena sains atau alam yang ternyata dapat dijadikan prinsip hidup kita sehari-hari. Buku ini berjudul SAINSPIRASI: Inspirasi Kehidupan Berdasarkan Fenomena Sains karya Doni Swadarma.

#DESKRIPSI
"Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan alam, manusia wajib menjaga keseimbangannya. Sebab kehidupan di dunia ini berlangsung dengan prinsip keseimbangan alam. Apabila manusia melakukan kebaikan berarti melakukan sesuatu yang selaras dengan kesimbangan alam sehingga kebahagiaan yang dihasilkannya akan bertahan. Namun sebaliknya, bila manusia melakukan keburukan berarti melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan keseimbangan alam, sehingga kebahagiaan yang dihasilkannya tak akan bertahan, bahkan lambat laun akan berubah menjadi penderitaan. Buku “SAINSPIRASI: INSPIRASI Kehidupan Berdasarkan Fenomena SAINS” ini menjadi menarik sekaligus penting untuk dibaca, tidak semata-mata oleh mereka yang sudah melek pengetahuan dan teknologi sejak lama, tetapi juga oleh orang biasa yang masih memandang ilmu-pengetahuan-teknologi sebagai “dewa” tak tersentuh yang hanya bersemayam di mayapada. Ilmu pengetahuan ada di sekitar kita, perilaku sederhana alam dan hewan bisa melahirkan teknologi yang tak terbayangkan sebelumnya. Tinggal bagaimana kita mencermatinya dengan saksama, lalu menjadikannya energi positif sebagai modal memelihara dan mengembangkan peradaban berbasis etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi.”


#ULASAN
SAINSPIRASI terdiri dari dua kata, yaitu ‘sains’ yang berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan alam dan ‘inspirasi’ yang bisa diartikan sebagai pencerahan, pengetahuan atau petunjuk. Buku SAINSPIRASI yang ditulis Doni Swadarma ini berisi 37 fenomena di alam semesta yang dikemudian ditelaah, dikaji dan dimaknai sehingga pembaca bisa memperoleh inspirasi bagi kehidupannya. 


Penulis memandang bahwa alam dan fenomenanya tersebut merupakan guru ‘terbaik’ bagi kehidupan manusia karena kebenarannya bersifat universal sehingga bisa diterima semua umat manusia. Alam bersifat jujur, konsisten dan terbuka kepada siapa saja yang ingin mempelajarinya. Alam semesta ini dipenuhi berbagai hukum, ada yang menyebutnya ‘hukum alam’ ada pula yang menyebutnya ‘sunnatullah’. Sejak awal air yang dipanaskan akan menguap, air didinginkan akan membeku, maka sampai kapanpun akan seperti itu.
 

Fenomena-fenomena yang diulas dibuku ini menghasilkan inspirasi yang beragam, mulai dari aspek keprobadian, ekonomi, ideologi, politik, dan peradaban. Salah satu contoh yang aku suka yaitu kombinasi hukum Ohm, Joule dan Coulumb menghasilkan rumus P=V2/R (P=daya, V=potensi, R=hambatan) yang dapat dimaknai seseorang ‘berdaya’ besar adalah orang yang ‘potensi’-nya telah dimaksimalkan dan disaat yang sama, ‘hambatan’ dalam dirinya berhasil diminimalkan. 


Dari buku ini aku kembali disadarkan bahwa manusia selama ia hidup maka akan selalu bersentuhan dengan alam. Persentuhan inilah yang akhirnya menimbulkan ‘pengalaman’. Pengalaman ini lama-kelamaan akan bertambah, seiring dengan sifat dasar manusia yang ‘ingin tahu’ dan mendapat jawaban atas segala pertanyaan tentang kehidupan yang pada ujungnya akan melahirkan ‘pengetahuan’. Tidak berhenti disitu, manusia sebagai makhluk yang berpikir dan berperasaan juga perlu ‘rasa aman’ dan ingin hidupnya menjadi lebih baik dikemudian hari yang pada akhirnya akan menghasilkan ‘teknologi’. Sebagai penutup, aku mengutip quote dari Albert Einstein:


“Look deep into nature and then you will understand everything better.”


Selasa, 10 Mei 2022

REVIEW BUKU I AM MALALA - NUR IHSAN

 

Judul Buku : I am Malala
Penulis : Nur Ihsan
Penerbit : Kata Media
Tebal :  124 halaman
Tahun Terbit : 2013
Kategori : Non-Fiksi, Biografi
My Rated : 4/5



Hallo, Sobat Reader !

Kali ini aku mau mengulas buku yang berisi ringkasan kisah hidup seorang gadis dari Pakistan dan aktivis pendidikan perempuan yang mengalami percobaan pembunuhan oleh Taliban. Buku ini berjudul I am Malala: Gadis Kecil Ditembak Peluru Demi Sekolah karya Nur Ihsan.

#DESKRIPSI
"Di mana Malala? Yang mana di antara kalian yang bernama Malala? Katakan atau kutembak kalian semua!" Teriak seorang laki-laki bersenjata di bus yang membawa pulang anak-anak sekolah di Mingola, Pakistan. Dalam hitungan menit, timah panas bersarang di kepala dan leher Malala.'

Peristiwa tersebut menggegerkan dunia. Malala Yousat'zai, gadis usia 14 tahun ditembak oleh Taliban, kelompok Islam garis keras, karena kegigihannya memperjuangkan pendidikan untuk anak perempuan di Lembah Swat, Pakistan.

Buku ini merangkum berbagai informasi mengenai sepak terjang Malala, jauh sebelum insiden penembakan hingga perjuangan terkini si Bunga Jagung".


#ULASAN
“Aku harus bersuara. Jika aku diam, siapa yang akan berbicara?”
Kalimat diatas muncul dari seorang gadis pemberani bernama Malala Yousafzai. Malala merupakan pelajar kelahiran Mingora, lembah Swat, Pakistan, yang sejak berusia sebelas tahun telah aktif menjadi aktivis pendidikan anak perempuan. 


Pada tahun 2009, Taliban (kelompok militan bentukan AS saat perang melawan pengaruh Soviet) menguasai lembah Swat, dan mengeluarkan maklumat pelarangan pelarangan sekolah untuk anak-anak perempuan. Kegelisahan berada dibawah ancaman Taliban dan keinginannya kembali sekolah, Malala tuangkan dalam diary-nya yang menjadi pembuka buku ini. Selain melalui diary, Malala juga menuangkan pemikirannya melalui blog BBC berbahasa urdu dan pernah berpidato dengan tegas bahwa perempuan harus memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki. Keberaniaannya menantang tirani Taliban itu bukan tanpa risiko, pada 9 Oktober 2012, ia ditembak di dalam bus sekolah oleh sekelompok Taliban. Kondisinya parah, dua peluru bersarang di kepala dan tenggorokannya. Momen kebrutalan Taliban melakukan percobaan pembunuhan kepada Malala ini kemudian menjadi ‘monumen’ perlawanan terhadap totalitarianisme Taliban dan perjuangan menegakkan kembali hak dasar kehidupan manusia, yakni pendidikan.


Buku ini hadir sebagai sketsa kehidupan Malala yang dilengkapi dengan dokumentasi momen-momen penting dalam hidupnya. Keberanian dan kegigihan Malala dapat dijadikan contoh bagi anak-anak di Indonesia agar semangat meraih pendidikan setinggi-tingginya. Sebab dengan pendidikan itulah seseorang akan bisa mencegah dirinya terjangkiti kanker ekstremisme.

“Jika generasi baru ini tidak diberi pena, mereka akan diberi senjata oleh para teroris.”
-Malala Yousafzai


Jumat, 29 April 2022

REVIEW BUKU SKEPTIC TANK - JULIAN JACOB

 

Judul Buku : Skeptic Tank
Penulis : Julian Jacob
Penerbit : Bhuana Sastra
Tebal :  105 halaman
Tahun Terbit : 2017
Kategori : Fiksi, Entertaintment, Humor
My Rated : 3/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang berisi curahan hati seorang pemuda skeptis. Di dalamnya banyak kita jumpai sudut pandang penuli tentang hal-hal di sekitar kita yang dikemas dengan lucu, satir dan pastinya skeptis! Buku ini berjudul Skeptic Tank karya Julian Jacob.

#DESKRIPSI
Curahan hati Jacob Julian seorang pemuda jomblo yang belum punya pekerjaan tetap. Dia memandang dunia di sekitarnya secara sinis baik tentang percintaan, pergaulan, maupun tentang fenomena kehidupan masa kini. Buku ini diumpamakan sebagai septic tank yang menampung pemikiran skeptisnya, disajikan dengan gaya cerita humor.
 

#ULASAN
‘Skeptic Tank’ menurutku bukan hanya ‘curahan hati’ si penulis, melainkan materi stand up comedy wkwk. Jokes ‘skeptis’ ala Jacob Julian mampu menyegarkan tubuhku kembali setelah lelah merampungkan tugas.


Buku ini berisi pandangan-pandangan sinis dan skeptis dari penulis tentang hal-hal yang mudah kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Misalnya saja banyak nama anak lokal zaman sekarang yang rasa ‘internasional’, hampir tiap café ada tulisan ‘free wifi’ tapi tidak benar-benar ‘free’ karena pembelinya harus bayar makanan/minuman wkwk, banyak orang yang mudah percaya begitu saja dengan mitos-mitos yang didoktrinkan sejak kecil, dan masih banyak topik lainnya. 


Dari semua topik ‘skeptis’ yang ada di buku ini, ada satu yang menurutku penting diperhatikan terutama dalam kehidupan saat ini. Fenomena yang sedang viral belakangan mengenai ‘judi online’ berkedok trading bisa dijadikan pelajaran. Daripada berpikir dua kali atau setidaknya mempelajari dan mempertimbangkan banyak hal sebelum berkata ‘setuju’, ternyata banyak orang begitu mudah percaya dengan sugesti ‘kaya secara instan’ yang ditawarkan agen-agennya. Inilah terkadang memang perlu sikap skeptis di awal daripada menyesal bekalangan. Skeptis bukan melulu tentang ‘berpikir negatif’, melainkan lebih mengarah kepada pencarian kebenaran dan tidak mudah mempercayai klaim / informasi / sesuatu yang baru, sebelum benar-benar menemukan bukti yang kuat dan rasional. Maka aku sependapat dengan pandangan penulis:

 

“Hidup di zaman serba modern seperti ini, kesungguhan dan kesahihan fakta seharusnya bisa jadi kunci untuk percaya akan suatu hal. Jangan mau tertipu. Gali sebuah kata sampai ke akar. Kalau ada masalah, jangan lupa temui dulu akar permasalahannya agar titik terangnya terlihat jelas.”


Well, overall aku suka buku ini, tapi ada dua hal yang jadi kekurangan buku ini. Pertama, tidak ada daftar isinya. Kedua, penulis terlalu banyak mengaitkan sesuatu dengan kejombloannya, awalnya lucu tapi lama-lama jadi garing.

Kamis, 28 April 2022

REVIEW BUKU WARAS DI ZAMAN EDAN - PRIE G.S.


Judul Buku : Waras di Zaman Edan
Penulis : Prie G.S.
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal :  236 halaman
Tahun Terbit : 2013
Kategori : Non-Fiksi, Humor, Sosial-Budaya
My Rated : 5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang bisa menyadarkan kita bahwa untuk hidup di zaman edan seperti saat ini sejatinya bisa dilalui dengan tetap waras. Judul bukunya yaitu Waras di Zaman Edan karya Prie G.S.

#DESKRIPSI
Merenung sambil berhumor atau berhumor sambil merenung? Dua-duanya sama saja. Corak itulah yang mewarnai buku ini. Prie GS mengajak kita mengobrol beraneka macam sendi kehidupan, mulai dari hal ringan hingga berat, yang justru kadang kita lupakan begitu saja. Kita akan menemukan banyak humor, kekonyolan, sekaligus hikmah. Pengalamannya yang unik, mengharukan, mendebarkan, bahkan kadang menggelikan, disajikan di dalamnya.

Buku ini memperlihatkan kelebihan Prie GS dalam merangkai kata-kata menjadi cerita yang ringan dan nikmat dibaca oleh siapapun. Prie GS berucap: “Seluruh hal yang saya tulis di buku ini adalah keasyikan saya menangkap aneka kelebatan itu yang menjadi keasyikan saya sejak lama. Tapi lebih dari itu saya menulis karena saya adalah seorang penulis. Penulis yang tidak menulis sama saja dengan suami yang tidak mencintai anak-anak dan istri.”

Selamat membaca, merenung, dan tertawa riang.


#ULASAN
Pertama kali aku tahu nama Prie G.S. dari berita meninggalnya beliau setahun silam. Setelah mencari tahu, ternyata almarhum adalah seorang budayawan yang cukup tersohor di Indonesia. Beliau dikenal khas dalam memberi kegembiraan, renungan, sekaligus inspirasi melalui humor-humornya. Banyak karya yang telah almarhum terbitkan, salah satunya buku ‘Waras di Zaman Edan’.


Buku ini berisi cerita dari pengalaman keseharian Prie G.S. yang dibalut dengan sudut pandang kebudayaan dan sentuhan humor khas penulis. Topik-topik yang diangkat sederhana, namun dari kesederhanaan itu dapat berkembang menjadi sesuatu yang besar, kompleks dan berbahaya. Cara penulis merangkai kata tak perlu diragukan lagi, aku sangat terbantu dengan keindahan kata demi kata yang nikmat sekali dibaca. Cerita-cerita itu disajikan dalam berbagai menu, mulai dari belum waras, mengenal waras, belajar waras, berlatih waras, mulai sedikit agak nyaris setengah waras, sedikit agak nyaris setengah waras, agak nyaris setengah waras, nyaris setengah waras, setengah waras, sampai puncaknya ‘waras’.


Suka atau tidak, senyatanya kita memang sedang berada di zaman edan yang katanya kalau tidak ikutan edan maka siap-siap ‘tidak kebagian’, begitulah kiranya gambaran keedanan zaman. Namun, alih-alih ikutan edan, menurut Prie G.S. dengan kewarasan kita tetap bisa survive di zaman edan. Pesan-pesan berisi antitesis dari keedanan zaman itu bisa dipelajari di buku ini. 


Oleh karena itu, buku ini cocok sekali dijadikan bahan renungan dan evaluasi tingkat kewarasan diri sendiri wkwk. Sebab, pembaca tidak hanya diajak mengkritisi keedanan zaman dengan cara jenaka, tapi juga ditunjukkan solusi berbagai masalah kehidupan yang sebenarnya sederhana. Kesederhanaan itu yang justru membuat pembacanya tetap waras dan bahkan menertawakan dirinya sendiri, termasuk aku wkwk. Jadi, kalau kamu tertarik untuk merenung sambil berhumor atau berhumor sambil merenung, cobalah baca buku ini!

"Masa silam sering memenjara kita. Lalu, pada masa depan, kita sibuk merangkai aneka bayangan yang serba-menakutkan. Masa depan itu penting dibayangkan, tetapi tidak untuk ditakutkan. Pertama, karena ia pasti terjadi, dan kedua karena kejadian di depan itu tidak selalu semenakutkan seperti apa yang kita bayangkan. Hidup saya pada hari ini sungguh saya syukuri. Namun, inilah dulu masa depan yang sangat saya takuti. Jadi, begitu sibuknya otak saya ini mengurus masa lalu dan masa depan sampai kadang membuat saya lupa menikmati hari ini."

"Sejak lahir, manusia sudah dihadapkan oleh berbagai macam kesulitan. Kesulitan itu ternyata pada akhirnya tidak menyulitkan. Sebaliknya, ia bertugas memudahkan. Ternyata, lewat aneka kesulitan itulah manusia bertumbuh dan berkembang. Jadi, untuk setiap kesulitan kita hanya butuh keberanian untuk merampungkan."

 

"Di dalam dada yang lapang tersedia hidup yang lapang, bahkan sekalipun di dalam kesulitan. Kesulitan itu sendiri tetap, jika datang ia tetap berupa keadaan menyulitkan. Namun, kesulitan di dalam dada yang lapang sangat berbeda dibanding kesulitan di dada yang sempit. Dada yang sempit itu, bahkan tanpa kesulitan pun sudah sulit karena dirinya sendiri."


Senin, 25 April 2022

REVIEW BUKU MEREKA BILANG, SAYA MONYET! - DJENAR MAESA AYU

 

Judul Buku : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis : Djenar Maesa Ayu
Penerbit : GPU
Tebal :  135 halaman
Tahun Terbit : 2002
Kategori : Fiksi, Sastra, Kumcer
My Rated : 4,5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang kumpulan cerpen yang bakal membuat pembacanya mengevaluasi dirinya, apakah selama ini mampu mengendalikan sifat kebinatangan yang ‘tersembunyi’ dibalik topeng ‘kebaikan’ manusia ? Buku ini berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

#DESKRIPSI
Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah buku pertama Djenar Maesa Ayu yang langsung merebut perhatian pembaca sejak pertama kali diterbitkan. Tema yang berani dan cara bercerita yang lugas serta eksploratif membuat karya ini menuai banyak pujian ketika awal diluncurkan. Dalam perjalanannya buku ini telah dicetak ulang berkali-kali. Dua dari cerpen dalam buku ini pun menjadi inspirasi bagi Djenar untuk film Mereka Bilang, Saya Monyet! yang disutradarainya sendiri. Film ini berhasil meraih perhatian media massa, bahkan menyabet beberapa penghargaan pada festival bergengsi di dunia, seperti Indonesian Movie Award 2008 (Winner for the Best Actress, Winner of The Best New Comer Actress, Nominated as The Most Favorite Movie), Singapore International Film Festival 2008 (Nominated as The Best Asian Feature Film, Silver Screen Award), Osian’s Cinefan International Film Festival (Nominated as The Best First Feature Film), dan Hongkong International Film Festival 2008 (Official Selection). Djenar pun mendapat Piala Citra dari kategori Skenario Adaptasi Terbaik dan sebagai Sutradara Baru Terbaik pada Festival Film Indonesia 2009.

#ULASAN
Awalnya aku penasaran dengan isi buku ini karena judulnya menarik dan setelah membacanya, wow… (emot geleng-geleng kepala). Reaksiku yang demikian bukan menandakan ketidaksukaan atau kekecewaan, melainkan kekagumanku pada penulis karena mengangkat tema yang mungkin tabu dan berat bagi sebagian orang. Djenar bercerita dengan lugas, jujur, dan berani dalam 11 cerpen yang menurutku bermaksud menelanjangi manusia dengan mengeluarkan sisi gelapnya. 


Narasi yang sejak kecil digaungkan bahwa manusia adalah makhluk ‘mulia’ diantara makhluk lainnya mungkin tidak menemukan tempatnya di kumcer ini. Sebab, Djenar mengangkat realita kehidupan yang selama ini diselimuti kemunafikan. Pada dasarnya semua cerpen pada bukunya ini bercerita tentang pelecehan seksual pada perempuan, baik dari keluarga dan lingkungannya. Hal yang sudah menjadi rahasia umum, namun mungkin masih tabu untuk dibicarakan pada masa itu (awal 2000-an). Untuk itu, Djenar bercerita dengan gaya yang ‘berbeda’ di buku ini.


Dalam kumcernya, Djenar banyak menggambarkan manusia sebagai binatang, seperti ungkapannya “Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai.” Hal ini menarik, karena pembaca ditunjukkan betapa ‘dekat’-nya manusia dengan binatang. Manusia sejatinya memiliki sifat-sifat kebinatangan itu, dan yang membedakannya dengan binatang adalah 'akal jernih'. Kumcer ini mengingatkan pembaca betapa pentingnya fungsi akal jernih bagi manusia, karena itu yang membedakan manusia dengan binatang.
 

Jadi, kumcer ini meskipun secara cerita penuh ironi dan penderitaan yang membuatnya jadi kurang ‘enak’, tapi tetap menarik dibaca karena hal-hal tabu juga perlu dibicarakan dan didiskusikan. Tiga kata untuk buku ini: jujur, sarkas dan berani!

“Bukankah semua anak punya hak untuk bertanya?”


“Manusya muak. Segala sesuatu yang tidak dapat terjawab selalu berakhir atas nama Tuhan. Misalnya, mengapa seorang anak bisa jadi bajingan padahal orangtuanya santri? Dijawab, itu sudah takdir dari Tuhan. Sebaliknya, jika orangtuanya rusak tapi anaknya begitu bauk, dijawab, itulah kuasa Tuhan. Alangkah mudahnya. Tidak adakah penjelasan lain yang lebih memuaskan? Tidak adakah jawaban lain yang lebih masuk akal? Mungkin manusia sudah malas berfikir, pikir Manusya.”

Sabtu, 23 April 2022

REVIEW BUKU LO NGERTI SIAPA GUE - SOPHIA MEGA

 

(Sumber: Togamas) 

Judul Buku : Lo Ngerti Siapa Gue
Penulis : Sophia Mega
Penerbit : Metagraf
Tebal :  104 halaman
Tahun Terbit : 2020
Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement
My Rated : 4/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang bisa kamu jadiin acuan membangun personal branding di media sosial maupun di kehidupan tatap muka. Buku ini judulnya Lo Ngerti Siapa Gue karya Sophia Mega.

#DESKRIPSI
Media sosial bukan tentang seberapa banyak follower atau menjadi selebgram. Meskipun pada kenyataannya pikiran untuk selalu menjadi yang terbanyak pengikutnya selalu muncul.

Namun, ada alternatif lain dalam menggunakan media sosial, yaitu menciptakan personal branding yang memberi manfaat dalam kehidupan kita. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu dituntut untuk menjadi orang lain sehingga kita dan orang lain akan mengerti siapa diri kita sepenuhnya.

#ULASAN
Pernah gak, kamu memfollow instagram orang dan suka mengikuti konten-kontennya karena kamu merasa mendapat value or just positive vibes, lalu konsep dan cara dia menyampaikan itu ‘ngena’ banget? Kalau pernah, menurut Sophia Mega, berarti orang tersebut berhasil membangun personal branding di instagramnya yang ‘dia banget.’


Nah, sebenarnya penting gak sih membuat personal branding di medsos kita? Menurut Sophia Mega, penting, karena itu bisa mendatangkan manfaat tidak hanya bagi diri kita tapi juga orang lain. Ya secara pragmatis orang jadi mengerti siapa diri kita ‘sebatas’ melihat media sosial kita dan ini jadi penting kalau kita sedang melamar pekerjaan, misalnya. Tapi perlu dibedakan yaa antara personal branding dengan ‘pencitraan.’ Kalau personal branding itu sebenarnya sudah ada di diri kita masing-masing tinggal bagaimana memaksimalkannya saja, jadi fokusnya di kompetensi, karakter dan jangka waktunya lama. Sedangkan pencitraan itu lebih ke dibuat-buat gitu, lebih parahnya orang itu hanya ingin dikenal citra baiknya saja padahal gak punya kompetensi dan ini biasanya hanya berlangsung sesaat.


Lalu, sudahkah kamu membangun personal branding di media sosialmu? Jika belum dan butuh referensi bacaan, buku ini aku rekomendasiin banget! Di buku ini, Sophia Mega bakal ngejelasin cara membangun personal branding yang kuat, baik di kehidupan online maupun tatap muka. Khusus di kehidupan online, penulis menekankan pentingnya manajemen diri saat menghadapi krisis bermedia sosial seperti self obsession, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan respon-respon netizen yang diluar kendali kita. Nah, semua itu dijelasin dengan sederhana plus ada gambar-gambar yang bikin pembaca jadi mudah memahaminya. 


Jadi, buku ini bakal membantu kita membangun personal branding yang “lo ngerti siapa gue” banget tanpa jadi selebgram. Sebab, sejatinya kita mampu menyampaikan value diri kita dengan efektif. 


“Personal branding bukan soal kita mengemas diri, tapi memaksimalkan karakter kita. Jadi apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita harus kita maksimalkan lagi. Sehingga apa yang ada dalam diri kita tersebut menjadi personal brand yang kuat. Sebenarnya setiap orang sudah memiliki personal brandnya sendiri, memiliki kompetensi, standar dan gaya yang membuat seseorang khas dan relevan terhadap orang lain.”


“Kompetensi diri atau skill menyampaikan nilai-nilai diri itu mudah dipelajari, tapi jika etikanya buruk maka akan susah diperbaiki. Etika yang buruk biasanya akan sering mematahkan kompetensi diri yang sudah baik. Ini berlaku baik di media online maupun dunia tatap muka. “



Rabu, 20 April 2022

REVIEW BUKU PEREMPUAN ULAMA DI ATAS PANGGUNG SEJARAH - K.H. HUSEIN MUHAMMAD


  

Judul Buku : Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah
Penulis : K.H. Husein Muhammad
Penerbit : IRCiSoD
Tebal :  235 halaman
Tahun Terbit : 2020
Kategori : Non-Fiksi, Agama
My Rated : 4,5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang akan membuka mata kita tentang eksistensi dan kontribusi nyata dari Perempuan Ulama yang selama ini mungkin masih tersisihkan di panggung sejarah peradaban Islam. Buku ini berjudul Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah karya K.H. Husein Muhammad.

#DESKRIPSI
Ada banyak perempuan ulama, cendekia, intelektual, dan pemilik pengetahuan Islam yang luas serta mendalam. Bahkan, mereka boleh jadi merupakan para pejuang keadilan dan kemanusiaan. Sayangnya, sejarah dan aktivitas keilmuan serta sosial mereka tidak banyak direkam dan diabadikan oleh para penulis buku-buku sejarah Islam, bahkan mereka cenderung dilupakan. 


Nah, buku ini merekam sejarah hidup dan perjalanan lengkap sekitar tiga puluh tokoh perempuan ulama dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Buku ini sangatlah penting untuk dihadirkan ke sidang pembaca agar publik mengetahui lebih jauh rekam jejak perjuangan kaum perempuan dengan kapasitas intelektual dan keilmuan serta peran sosial yang setara, bahkan sebagian lebih unggul daripada laki-laki. 


Inilah sebuah buku yang sangat istimewa, terlebih ia ditulis secara apik oleh K.H. Husein Muhammad, seorang cendekiawan muslim Tanah Air yang sudah sejak lama berkiprah dan berjuang untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan.


#ULASAN
Perempuan Ulama diatas Panggung Sejarah berisi uraian singkat dari tiga puluh tokoh yang menarik menurut penulis dari sekian banyak perempuan ulama. Selain itu, penulis juga mengisahkan perjuangan panjang kaum perempuan Indonesia untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017 merupakan momen bersejarah bagi gerakan perempuan Indonesia sekaligus cikal bakal kaum perempuan muslim Indonesia yang bekerjasama dengan laki-laki untuk menegakkan keadilan sosial tanpa diskriminasi. Kongres ini menghasilkan Ikrar Kebon Jambu yang intinya merupakan deklarasi tentang reeksistensi ulama perempuan. Ulama perempuan yang sesungguhnya telah eksis dan berperan aktif dalam berbagai ruang kehidupan, namun tersisihkan bahkan tenggelam dalam tumpukan produk-produk kebijakan politik patriarkisme.

Perjuangannya memang tidaklah mudah. Masalah utamanya terletak pada kita, masyarakat, budaya, tradisi, politik, instrumen-instrumen hukum, pandangan keagamaan, dan kebijakan lain dalam memberi ruang dan akses yang sama untuk laki-laki dan perempuan.

Melalui buku ini, penulis berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari perempuan ulama berperan penting dalam sejarah peradaban Islam. Kenyataan bahwa hari-hari ini dalam banyak hal, peran dan ruang bagi perempuan, apalagi perempuan ulama masih jauh dari kata adil, maka mengutip kalimat K.H. Husein Muhammad dalam buku ini, "Usaha usaha untuk menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat memang tidak boleh berhenti."

Apabila firman Tuhan dalam Al-Qur'an menyerukan keadilan dan baik laki-laki maupun perempuan berhak untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan pada nyatanya masih ada perempuan yang geraknya dibatasi hanya di dalam rumah, menunggu dan melayani, aktivitas intelektualnya dibatasi, tidak boleh menjadi pemimpin, belum lagi stigma 'liberal, sesat, dsb' yang tersemat apabila rasionalitas mereka berkembang. Maka, sudah semestinya tradisi dan ideologi patriarki seperti ini dikritisi dan diubah menjadi keadilan berdasarkan gender.

“Konservatisme dan pengulang-ulangan suatu pemikiran atau pemahaman keagamaan yang dilakukan dalam waktu yang panjang dan tanpa kritik, serta ditransfer melalui metode doktrinal, pada gilirannya akan melahirkan keyakinan bahwa produk pikiran yang diwariskan tersebut ialah kebenaran agama atau keyakinan itu sendiri beserta seluruh makna sakralitas dan universalitasnya. Maka, yang terjadi ialah universalisasi atas norma partikular dan partikularisasi norma universal. Keadaan ini sesungguhnya berpotensi menimbulkan problem serius dalam dinamika kebudayaan dan peradaban. Cara pandang konservatisme yang berlarut-larut ini berpotensi berkembang menjadi ekstrimisme.”


“Mereka (publik) berdalih dengan hadits Nabi Saw., “Aku tidak meninggalkan suatu 'fitnah' yang lebih membahayakan laki-laki selain perempuan.” Hadits ini dimaknai bahwa perempuan harus dikurung di dalam rumahnya agar tidak membikin kehancuran kaum laki-laki. Bukannya bermakna bahwa kalian harus menghormati kaum perempuan. Jangan mengganggu mereka. Jangan merendahkan mereka. Jangan melecehkan mereka. Sebab, jika kalian melakukannya, kalian akan merugi dan menjadi nista.“


“Feminis adalah orang yang memiliki kesadaran tentang adanya perendahan, diskriminasi, dan penindasan terhadap perempuan. Kesadaran ini kemudian ditindaklanjuti dengan upaya-upaya dan aksi untuk mengatasi problem tersebut. Seseorang dapat dikategorikan sebagai feminis, laki-laki maupun perempuan, selama ia memiliki kesadaran akan adanya diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan yang diakibatkan oleh berbagai hal, dan pada saat yang sama ia juga melakukan gerakan untuk mengeliminasi, bahkan menghapuskan penindasan tersebut.”



Sabtu, 15 Januari 2022

REVIEW BUKU 9 DARI NADIRA - LEILA S. CHUDORI

 

Judul Buku : 9 Dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG
Tebal :  270 halaman
Tahun Terbit : 2009
Kategori : Fiksi, Kumcer
My Rated : 4/5



Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas sebuah novel karya Leila S. Chudori yang ceritanya benar-benar menyesakkan. Judulnya 9 dari Nadira.

#DESKRIPSI
Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus - yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri - sungguh mengejutkan.

Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak ("Melukis Langit"); seorang wartawan ("Tasbih"); seorang kekasih ("Ciuman Terpanjang"); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya ("Kirana"),


#ULASAN

Karya ketiga dari Ibu Leila S. Chudori yang pernah kubaca. Kali ini judulnya 9 dari Nadira, berisi 9 cerpen yang setelah kubaca semuanya ternyata sebuah kesatuan kisah yang utuh. Meskipun ada part-part yang bisa berdiri sendiri. Alur ceritanya tidak linier dan jeda waktunya loncat-loncat cukup jauh. Tapi hebatnya sentuhan penulis, aku dibuat tersedot ke dalam momen-momen penting kehidupan Nadira.

Gaya bercerita dan plotnya menjadi keunikan dari buku ini. Pembaca dituntut menyusun keping-keping cerita hidup Nadira. Nadira sebagai poros yang merangkai tokoh-tokoh lainnya seperti Nina dan Arya sebagai dua kakaknya, Kemala sang ibu, Bram sang ayah, dan Utara Bayu sesosok lelaki yang mencintai Nadira dalam hening.

Ya, Nadira Suwandi namanya, tokoh utama yang kisahnya menimbulkan kesan menyesakkan. Seorang jurnalis muda dengan beban psikologis yang berat dirasanya selepas kematian sang ibu. Beban psikis ini yang kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak, wartawan, kekasih, istri dan akhirnya menjadi ibu. 

Membaca buku ini, pembaca disuguhkan konflik-konflik psikologis yang berat, baik tersirat maupun tersurat. Diantara 9 cerpen dalam buku ini, “Tasbih” menjadi favoritku. Ada part dimana Nadira mewawancarai Mr. X, tersangka kasus pembunuhan sadis, dikenal juga sebagai psikiater ternama. Disini, perasaan Nadira benar-benar diuji, dengan lihainya Mr. X ‘memaksa’ Nadira membuka kembali kamar gelap yang selama ini berusaha ia kunci rapat-rapat -tentang ibunya yang mati bunuh diri. Selain konflik psikologis, buku ini juga menyajikan tema-tema tentang jurnalisme, cinta, tradisi dan harga diri.

Isu-isu politis pun disisipkan secara tersirat dalam buku ini, seperti Petisi 50, demo mahasiswa ’66, Malari, tentang NKK/BKK, premanisme di era Orde Baru, mundurnya Presiden Gusdur, hingga isu seputar 9/11 serta wacana War on Terorism.

Ceritanya memang gelap, tapi justru gelap ini yang membuat cerita Nadira luar biasa. Setiap manusia pasti pernah salah dalam membuat keputusan, tapi itulah bagian dari pendewasaan. Dari situ kita belajar untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Dan terkait beban psikis yang berat, tidak ada orang yang ingin terus-menerus dalam posisi itu. Namun, bangkit dan sembuh dari keterpurukan memang bukan hal mudah, perlu waktu, penuh perjuangan dan mungkin perlu juga bantuan dari orang lain.
Beberapa quote tentang jurnalisme yang kusuka di buku ini:

“Ayah cuma mau menasihati, meski kau tak setuju dengan kebijakan politik pejabat yang kau wawancarai, kau harus tetap bersikap netral. Sebaliknya, kalau mewawancarai Cory Aquino, mentang-mentang perempuan jangan lantas jatuh sampai tak karuan. Dingin. Kau harus tetap dingin.” (79)

“Masyarakat wartawan, di mata Nadira adalah sebuah masyarakat yang selalu menuntut hal-hal yang besar, yang terbaik, terkadang muluk dan paradoksal. Sebuah masyarakat yang terkadang secara tidak sadar, merasa moralnya berada di atas apa yang disebut sebagai ‘masyarakat awam’.” (80)

“Lo, masalahnya dia itu narasumber. Bajingan atau pahlawan, kita harus tetap sopan dan bertugas mewawancarai.” (200)


Senin, 10 Januari 2022

REVIEW BUKU ARAH MUSIM - KURNIAWAN GUNADI

   

Judul Buku : Arah Musim
Penulis : Kurniawan Gunadi
Penerbit : Bentang
Tebal : 188 halaman
Tahun Terbit : 2019
Kategori : Fiksi, Novel
My Rated : 5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang berhasil menamparku berkali-kali, mengingatkan Kembali tentang pentingnya bersyukur dan semangat menjalani hidup. Buku ini berjudul Arah Musim karya Kurniawan Gunadi.

#DESKRIPSI
Tindakan-tindakan kecil kita di masa lalu telah mengubah banyak di kehidupan kita saat ini. Mungkin kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin kita telah melupakannya. Meski kemudian kita kebingungan karena tidak mampu memahami rentetan kejadian sebab dan akibat itu.

Kita sering gagal memahami bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah hal-hal terbaik yang bisa kita dapatkan. Kita sering salah memahami maksud-maksud tersembunyi yang Dia hadirkan dalam semua rentetan kejadian hidup yang amat berharga. Dia ingin mengajarkan kita sesuatu. Sesuatu yang sering kita tolak kehadirannya. Sesuatu yang barangkali menjadi doa-doa kita selama ini.

Tapi, kita tidak cukup sabar untuk melewati perjalanan ini, melewati musim-musim yang silih berganti.


#ULASAN

Dari cover bukunya saja sudah menarik, ternyata isinya juga menakjubkan.Tebalnya relatif tipis untuk sebuah novel, tapi isinya kujamin padat dan begizi. Buku ini terbagi dalam enam arah musim, masing-masing ada 15-20 chapter yang pendek-pendek, Yang unik dari novel ini, kita bisa memulai membaca dari halaman manapun dan meskipun nuansa islaminya kental, menurutku nilai-nilainya yang universal layak dibaca oleh siapapun.

Secara garis besar, novel ini mengangkat dinamika kehidupan keluarga, tapi eksplorasi dari Mas Gun luar biasa. Pembaca disuguhkan cerita yang cukup kompleks tentang roda kehidupan mulai dari kehamilan, kelahiran hingga kematian. Bagian favoritku, ketika si tokoh utama sedang dalam masa-masa Quarter Life Crisis. Ia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit berikut dengan asumsi-asumsi yang muncul, justru semakin membautnya rumit. Kemudian ia mulai sadar bahwa hidup tidak mungkin hanya berisi senang dan mudah, pasti ada masanya sedih dan sulit. Untuk itu kita diingatkan agar dalam menjalani kehidupan, perlu ruang untuk memaknai kesedihan, kegagalan dan kekecewaan.

“Suatu hal dalam hidup ini yang selalu sulit kita tahu adalah, kita diciptakan dengan peran. Kita ditempatkan di tempat terbaik sesuai potensi yang kita miliki. Jika sekarang kita kebingungan mau jadi apa, mau bagaimana, apa yang harus dilakukan, coba amati hidupmu sebelum-sebelum ini, perjalananmu yang mengantarmu sampai di titik ini.” (15)


Buku ini juga akan membuat pembacanya melakukan self-talk tentang musim-musim kehidupan yang telah dilewati. Seberapa sering kita salah memahami maksud tersembunyi dibalik ramahnya musim semi, teriknya musim kemarau, syahdunya musim gugur dan dinginnya musim hujan ? Seberapa sadarkah kita bahwa manusia memiliki batasan-batasan yang terkadang disangkal oleh ego kita ?

“Sebab, kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita. Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup.” (149)


Berdoa dan berserah setelah berusaha, sabar dan kuat dalam menghadapi masalah, bersyukur dan berlapang dada atas sesuatu yang terjadi. Merupakan prinsip-prinsip sederhana yang kadang masih susah diterapkan dalam menghadapi musim-musim kehidupan yang silih berganti. Mungkin itulah ‘visi’ dari buku ini. Mengingatkan pembacanya tentang sebaik apapun rencana manusia, tetaplah rencana-Nya yang terbaik.