Selasa, 31 Agustus 2021

REVIEW BUKU DAHLAN : SEBUAH NOVEL - HAIDAR MUSYAFA


Judul Buku : Dahlan
Penulis : Haidar Musyafa
Penerbit : Javanica
Tebal : 414 halaman
Tahun Terbit : 2017
Kategori : Fiksi, Novel Biografi
My Rated : 5/5


Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang merupakan novel biografi Ulama besar Indonesia sekaligus pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, yaitu KH. Ahmad Dahlan. Buku ini berjudul Dahlan karya Haidar Musyafa.

#DESKRIPSI
Ia terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kyai Abu Bakar, adalah seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Semenjak remaja ia sering bertanya: kenapa umat Islam begitu terpuruk dalam banyak hal? Saat itu ia berpikir umat Islam begitu terkungkung oleh hal-hal takhayul. Ia pernah mencoba bertanya dan memberontak, tetapi justru penolakan dan cacian yang didapatnya.

Keresahan batin mendorong Darwis menuntut ilmu setinggi-tingginya, hingga takdir melayarkannya ke Mekah. Di Mekah ia belajar pada banyak guru. Ia pun berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Imam Besar Masjidil Haram dari Sumatera, bersama teman seperjalanan dari Jombang: Hasyim Asy’ari. Di Mekah pula ia mendapat nama baru: Ahmad Dahlan. Sepulang dari Tanah Suci ia diangkat menjadi Ketib Amin Masjid Gede oleh Sultan Hamengkubuwana VII dan mendapat gelar Raden Ngabehi. Hasrat terpendam untuk memajukan umat Islam mengilhaminya mendirikan sebuah persyarikatan bernama Muhammadiyah. Ia bercita-cita Muhammadiyah bisa menjadi lokomotif perubahan bagi umat Islam di Nusantara.

Dahlan adalah sebuah novel langka yang membabar kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan, seorang ulama besar pemancang tonggak pembaharuan Islam di Nusantara.

“Novel ini dapat menjadi penggerak pikiran kaum muda untuk menjadi pelopor pembaruan, sebagaimana kehadiran Kyai Dahlan di pentas sejarah.”
Dr. Haedar Nashir, M.Si, Ketua Umum PP Muhammadiyah

“Pembaca tanpa terasa dibawa ke dalam suasana kehidupan keseharian Kyai Ahmad Dahlan.”
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penulis Syekh Siti Jenar

 

#ULASAN 

KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai Sang Pencerah atau Sang Pembaharu dalam menegakkan ajaran Islam di bumi nusantara. Sejak kecil, dirinya terusik melihat masih banyak masyarakat menjalankan adat istiadat yang justru mengarah pada kesyirikan. Ketika mencoba bertanya, balasan yang didapat adalah “kamu masih kecil belum tahu apa-apa.” Waktu berlalu, takdir membawa beliau belajar ke Mekkah dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Dari Syekh Ahmad Khatib inilah, beliau tertarik dengan gagasan pembaharu islam yang dikampanyekan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Jamaluddin Al-Afghany, dua ulama pembaharu dan reformis Islam dari Mesir dan Afghanistan. Sepullang dari Mekkah, Ahmad Dahlan bercita-cita melakukan perubahan khususnya di desa Kauman, Yogyakarta.
 

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita sebagai pembaca dapat merasakan sendiri sisi psikologis dan pemikiran Ahmad Dahlan. Walaupun beliau berdakwah dengan meniru cara-cara Rasulullah yaitu dengan halus, lemah lembut dan tidak memaksakan kehendak, tetapi banyak kalangan yang terang-terangan mencaci bahkan menuduh beliau sebagai Kyai sesat, kafir, wahabi dan kebarat-baratan. 

 

“Terkadang ego jauh lebih cepat manguasai hati daripada nalar sehingga cenderung melakukan sesuatu dengan grusa-grusu yang justru membawa dampak yang buruk bagi orang lain.”

-Haidar Musyafa-

 
Ahmad Dahlan tentu tidak gentar, beliau justru semakin bersemangat menggunakan stategi-strategi dakwah yang baru. Salah satunya dengan berorganisasi, selain sebagai medium berdakwah beliau juga merasa mendapat dukungan dan semangat baru dari orang-orang yang sepemikiran dalam organisasi itu. Tercatat, semasa hidup Ahmad Dahlan pernah menjadi anggota Jami’atul Khoir, Budi Utomo dan Syarikat Islam.
 

Sadar akan pentingnya organisasi dalam berdakwah, pada tahun 1912 Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk mewujudkan tujuan pembaruan Islam di bumi nusantara. Kini, Muhammadiyah menjelma sebagai organisasi islam dan sosial yang besar, menaungi ribuan institusi pendidikan, ratusan rumah sakit, poliklinik, panti asuhan dan pusat pengembangan masyarakat lainnya.
 

Ahmad Dahlan bukan hanya sosok penting dalam Muhammadiyah, tapi juga seorang pahlawan bangsa yang menyadarkan umat Islam bahwa nasibnya terjajah dan perlu untuk merdeka. Melalui Muhammadiyah, Ahmad Dahlan mendorong kemajuan dan kecerdasan tidak hanya dalam beragama tetapi juga ilmu pengetahuan. Selain itu, melalui Aisyiyah, berhasil mengangkat derajat perempuan pada waktu itu yang sebagian besar masih terkungkung dalam dominasi laki-laki.
 

Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang penasaran dengan kisah hidup Ahmad Dahlan. Penulis mengakui, meskipun disajikan dalam bentuk novel, alur dan peristiwa dalam novel ini berdasarkan fakta dari riset yang dilakukannya. Dengan memetik hikmah perjuangan Ahmad Dahlan, pembaca diingatkan tentang pentingnya mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh.
 

“Sebanyak apapun ilmu seseorang, dia tidak akan pernah mampu mengamalkannya jika tidak berusaha mencobanya sedikit demi sedikit. Sebaliknya, seseorang yang minim pengetahuan akan menjadi terwawas pikirannya jika dia mau mencari dan berbagi.”

-Haidar Musyafa-









Rabu, 11 Agustus 2021

REVIEW BUKU PENAKLUK BADAI: NOVEL BIOGRAFI HADRATUSYEIKH KH. HASYIM ASY'ARI - AGUK IRAWAN MN


Judul Buku : Penakluk Badai: Novel Biografi Hadratusyeikh KH. Hasyim Asy'ari

Penulis : Aguk Irawan MN

Penerbit : Republika

Tebal : 562 halaman

Tahun Terbit : 2018

Kategori : Fiksi, Novel Biografi

My Rated : 5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang merupakan novel biografi Ulama besar Indonesia sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama, yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Buku ini berjudul Penakluk Badai karya Aguk Irawan MN.


#DESKRIPSI

“Membaca sosok Hadratusyeikh seakan-akan kita membaca suasana dan kondisi dialogis antara agama dengan tradisi dan budaya setempat. Beliau mampu mempertemukan antara idealism yang berada dalam tataran ide dengan kebutuhan-kebutuhan praktis yang mendesak keseharian umat.”

-- Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siroj, MA.


“Saya merasa novel biografi ini ditulis oleh tangan yang tepat. Semoga bermanfaat.”

-- Cucu KH. Hasyim Asy’ari, KH. Salahuddin Wahid


“Lelah duduk, baca berbaring. Bosan telentang, ganti telungkup. Tapi detik demi detik perjalanan Mbah Hasyim terlalu sulit untuk dilewatkan. Datang rasa haru seakan-akan hadir di majelis hadits Syaikh Mahfuzh at-Tarmusi di Masjidilharam bersama mbah Hasyim. Datang amarah memuncak ketika membaca pesantren Mbah Hasyim dibakar rata dengan tanah. Oh sungguh kehidupan Mbah Hasyim penuh liku dan warna. Ada saatnya pula shalat bersama Tan Malaka. Puncaknya novel ini memberi informasi dan ide untuk menulis disertasi berjudul: Peran Mbah Hasyim Dalam Kajian Hadits Di Indonesia. Karomah Mbah Hasyim, proposal desertasi itu langsung diterima di Oum Durman University Sudan. Semoga mampu menulis secair akhi Aguk Irawan.”

-- Datuk Seri Ulama Setia Negara, Haji Abdul Somad, Lc., MA.


#ULASAN

Sebagai orang yang tumbuh dan berkembang di Jombang, tentu aku tidak asing dengan kemasyhuran KH. Hasyim Asy’ari. Sosok ulama, ahli hadist, penulis, pejuang nasional, sekaligus pendiri PP Tebuireng dan organisasi islam Nahdlatul Ulama. Sejak di bangku sekolah, aku mengagumi beliau karena selain penuh teladan dalam hal agama, beliau juga selalu konsisten menyerukan persatuan bangsa dan pentingnya memiliki sikap nasionalisme.

Setelah membaca novel ini, aku semakin terkagum-kagum dengan beliau. Aguk Irawan dalam novel ini tidak hanya berhasil mengangkat kisah-kisah yang mungkin jarang terpublikasi, tapi juga berhasil menggambarkan karakter KH. Hasyim Asy’ari. Ulama yang haus ilmu, moderat, toleran, lebih mengedepankan persamaan daripada perbedaan, bijak dalam mengambil keputusan, dan wah masih panjang daftar kata untuk menggambarkan sosok beliau yang gak mungkin aku tuliskan semua disini, hehe.

Novel ini dibagi dalam 25 bagian. Menurutku cukup lengkap merangkum kisah KH. Hasyim Asy’ari dari lahir sampai meninggal dunia. Lahir di lingkungan orang-orang alim, berasal dari keturunan yang baik, besar dari satu pesantren ke pesantren, sempat belajar di negeri Arab sehingga sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah saw. Kemudian berjuang tidak hanya demi agama, tapi juga kemerdekaan Indonesia. Dan ketika wafat membuat Jombang bak lautan manusia pada waktu itu.

Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang penasaran dengan biografi, lika-liku kehidupan dan ajaran-ajaran dari KH. Hasyim Asy’ari. Karena disajikan dalam bentuk novel, pembaca bisa merasakan langsung berada ditengah-tengah momen penting dalam perjalanan hidup beliau. Seperti kebesaran namanya yang sudah terlihat sejak lahir, betapa indahnya kedekatan beliau dengan M. Darwis / Ahmad Dahlan, semangat bertahan hidup walau dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, komitmen beliau terhadap persatuan, serta kegigihan beliau untuk belajar dan mengajar. Dan tentu masih banyak lagi kepingan-kepingan kisah beliau yang sarat akan pelajaran hidup. 

Sungguh kehidupan KH. Hasyim Asy’ari penuh lika-liku dan perjuangan. Air mata dan penderitaan seakan menjadi teman akrab menemani perjalanan hidup beliau. Meski KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama kharismatik yang kedalaman ilmunya tidak diragukan, beliau tetap tidak tinggi hati dan bahkan menjadi sosok pengayom masyarakat yang penuh kasih dan toleran. Maka, sebuah keniscayaan bahwa nama beliau masih harum hingga kini, NU yang beliau dirikan bahkan kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan keteladanannya kerap menjadi inspirasi dalam merajut persatuan bangsa.


“Hadratusyeikh pergi meninggalkan kehidupan yang fana dengan meninggalkan jejak sejarah perjuangan yang patut dicatat dengan tinta emas. Beliau berjuang untuk umat dan negara dengan hati yang dipenuhi keikhlasan.” 

"Apa yang terlisankan akan cepat berlalu. Tetapi, apa yang dituliskan akan mengabadi. Apa yang berlalu cepat terlupakan, sedang apa yang mengabadi akan selalu terekam dan tak lekang dicacah ruang dan waktu."

"Dan kelak meskipun kedua santri ini (Hasyim Asy’ari dan M. Darwis) telah menjadi tokoh, tetap bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Meskipun ada beberapa perbedaan pendapat dan perjuangan, tetapi keduanya tetap punya nilai dan harga yang sama."

– Aguk Irawan MN --



Kamis, 05 Agustus 2021

REVIEW BUKU KENANGAN TAK TERUCAP: SAYA, AYAH, DAN TRAGEDI 1965 - NANI NURRACHMAN SUTOJO

 


Judul Buku : Kenangan Tak Terucap – Saya, Ayah, dan Tragedi 1965

Penulis : Nani Nurrachman Sutojo

Penerbit : Kompas

Tebal : 228 halaman

Tahun Terbit : 2013

Kategori : Non-Fiksi, Memoar, Sejarah

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang merupakan memoar dari anak salah satu pahlawan revolusi yang dibunuh pada peristiwa G30S 1965. Buku ini berjudul Kenangan Tak Terucap – Saya, Ayah, dan Tragedi 1965 karya Nani Nurrachman Sutojo.

 

#DESKRIPSI

Sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dipenggal-penggal. Dia juga bukan tafsir satu pihak untuk kepentingan praktis. Sejarah bangsa Indonesia disusun dari penggalan-penggalan kisah individual warga negara. Ia menyatu dalam pergolakan batin setiap warga secara umum sepanjang peristiwa ke peristiwa.


“Sesuatu capaian yang jelas memerlukan kemauan dan ketahanan diri yang hanya penulis sendiri yang bisa merasakan secara menyeluruh. Kita sebagai pembaca dan pengamat bisa ikut merasakannya, tetapi tidak selalu bisa benar-benar menghayati apa artinya kemauan menggumuli secara berkelanjutan suatu peristiwa traumatis dalam kehidupan pribadi dan kemudian memutuskan untuk membaginya dengan orang lain. Inilah sumbangan penting memoar ini.”

-Prof. Dr. Saparinah Sadli, Guru Besar Psikologi UI dan Pemerhati Isu Perempuan.


“Perlu dibaca oleh sebanyak mungkin orang yang ingin lebih beradab. Berbagai macam konflik di akar rumput belum menemukan jalan keluarnya, sebagai warisan Orde Baru. Maka, rekonsiliasi harus dimulai dari diri sendiri dan itu sudah dimulai oleh Mbak Nani.”

-Putu Oka Sukanta, Sastrawan, Tapol Order Baru


“Ini bisa dibaca sebagai langkah untuk membebaskan ingatan personal dari tekanan sejarah resmi. Menuju sejarah Bersama atau shared history yang mempertemukan suara dan ingatan para korban tentang penderitaan. Sangat diperlukan negeri ini untuk keluar dari jerat trauma masa lalu.”

-Dr. Hilmar Farid, Sejarawan.


#ULASAN

Mengungkap pengalaman traumatik bukan perkara mudah, butuh kemauan dan ketahanan yang kuat untuk bergumul dengan pikiran dan perasaan yang penuh luka. Untuk itu aku sangat berterima kasih kepada Ibu Nani karena sudah menulis buku ini sehingga kami sebagai generasi muda bisa belajar dari pengalaman dan sejarah pribadi yang bersinggungan dengan sejarah nasional.

Penulis adalah anak dari Mayjen TNI Anumerta Sutojo Siswomiharjo, salah satu pahlawan revolusi yang dibunuh pada peristiwa G30S. Sutojo dikenal sebagai perwira yang jujur, sederhana dan sering dipercaya dalam tugas-tugas pemberantasan korupsi. Lulusan terbaik SESKOAD 1960, jabatan terakhirnya inspektur kehakiman dan direktur akademi hukum militer. Sebagai ayah, beliau akrab dengan anak-anaknya dan ‘membiasakan’ Nani dekat dengan buku-buku bacaan. Kelak, kepada buku-buku inilah Nani ‘melarikan diri’ dari kesedihan pasca meninggalnya sang ayah. Dari buku-buku yang ia baca, ia mendapat gambaran bagaimana menjadi perempuan yang kuat dan mandiri.

Buku ini berupaya memberikan pemahaman dan penyelesaian sejarah masa lalu bangsa dengan pendekatan psiko-sosial-historis. Dibagi menjadi dua bagian: Pertama, menggambarkan sisi personal penulis. Kedua, mencerminkan sisi akademiknya sebagai seorang dosen Psikologi Sosial. Sentuhan tangan dari seorang psikolog begitu terasa karena ketika membaca tulisan ini aku seperti mendengar Ibu Nani bercerita langsung disampingku. Penderitaan dan perasaan yang timbul akibat trauma seperti loss of trust, perasaan dikhianati, defensif, alone and lonely masih membekas setelah selesai membaca buku ini. Pengalaman dan pemahaman yang telah diperoleh penulis mendorongnya pada sebuah kebijaksanaan, “Rekonsiliasi harus dimulai dari diri sendiri”, “Memaafkan, tapi tidak melupakan”, dan “Tidak ada kebenaran tunggal yang baku dalam sebuah peristiwa sejarah.”

Jika sejarah sering dijadikan pertarungan antara menang dan kalah, dalam buku ini kategorisasi itu terasa tak relevan lagi, karena antara keluarga para pahlawan revolusi dan mereka yang dianiaya Orba karena tuduhan terlibat G30S justru terdorong untuk menyimpulkan bahwa ‘kami’ semua adalah korban. Penulis mengharapkan kita dapat menuju sejarah bersama (shared history) dimana suara dan ingatan para korban tentang penderitaan dapat dipertemukan. Keberanian moral untuk menatap masa lalu dengan jujur dan tanpa rasa takut inilah yang diperlukan Indonesia untuk keluar dari jerat trauma masa lalu. Karena bagaimanapun, tak ada sejarah tanpa tragedi dan memahaminya adalah lebih baik dan sehat daripada mengingkarinya.


“Rekonsiliasi yang dimulai dari diri sendiri, sehingga mampu menceritakan kepahitan masa lampau tanpa menimbulkan kebencian, tetapi tetap mengakui dan menghargai pribadi manusia dengan segala perbedaan.”

- Nani Nurrachman Sutojo -


Rabu, 04 Agustus 2021

REVIEW BUKU PENGAKUAN ALGOJO 1965 - KURNIAWAN DKK

 


Judul Buku : Pengakuan Algojo 1965

Penulis : Kurniawan dkk

Penerbit : TEMPO Publishing

Tebal : 177 halaman

Tahun Terbit : 2013

Kategori : Non-Fiksi, Investigasi

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang mengungkap sudut pandang para ‘algojo’ dalam tragedi pembasmian orang-orang yang dianggap komunis pasca G30S 1965. Buku ini berjudul Pengakuan Algojo 1965 karya Kurniawan dkk.


#DESKRIPSI

Kebijakan pemberantasan orang-orang PKI dan para simpatisannya menyulut api pembunuhan yang membakar Jawa dan Bali, dan terus menyebar ke daerah lain. Algojo bermunculan. Atas nama dendam pribadi, keyakinan, atau tugas negara, para algojo menghunus pedang menyembelih mereka yang dicap PKI. Mayat mereka dibuang begitu saja ke jurang, sungai, atau luweng. Mengapa para pelaku tak merasa bersalah atas perbuatannya?

Buku ini mencoba melihat peristiwa 1965 dari perspektif para algojo tanpa niat membuka aib atau menyudutkan para pelaku. Politik Indonesia pada masa itu sangat kompleks. Menjelang tragedi September, konflik PKI dan partai politik lain memanas. PKI, yang merasa di atas angin, menekan penduduk yang tidak sealiran. Ketika keadaan berbalik, luapan pembalasan tak terkendali. Pembunuhan direstui oleh sesepuh masyarakat dan tokoh agama. Masa 1965-1966 tak bisa dinilai dengan norma dan nilai-nilai masa kini. Membaca sejarah kelam Indonesia pada masa itu hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial-ekonomi pada masa itu pula.

[Pernah dimuat dalam Liputan Khusus Majalah Tempo edisi 1-7 Oktober 2012]


#ULASAN

Buku ini merupakan kumpulan liputan khusus yang pernah dimuat di majalah TEMPO. Upaya yang dilakukan oleh TEMPO ini bertujuan untuk menengok kembali sejarah ‘pembantaian’ pasca G30S yang jarang dibahas dalam buku-buku sejarah di sekolah. Dengan menyimak perspektif dari para ‘algojo’ ini kita bisa merasakan bagaimana kondisi psikologis dan suasana kehidupan bermasyarakat pada saat itu. Kita tahu kondisi politik Indonesia pada waktu itu sangatlah panas dan kompleks. Sebelum G30S, PKI merupakan partai yang memiliki basis massa yang banyak, konflik dengan berbagai pihak terjadi di banyak daerah. Suasana ini menciptakan ‘api dalam sekam’ yang meledak pasca G30S. Luapan pembalasan dan amarah ini semakin menjadi-jadi karena terus-menerus dipompa oleh ‘proyek’ rezim Orde Baru untuk menumpas komunisme sampai ke akar-akarnya. 

Dari pengakuan para ‘algojo’ ini terungkap fakta memilukan bahwa diberbagai daerah terutama Jateng dan Jatim telah terjadi kejahatan kemanusiaan. Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran, perampasan kemerdekaan, penyiksaan, pemerkosaan, penganiayaan dan penculikan merupakan buah dari kebijakan pembasmian orang-orang komunis oleh negara. Jumlah yang terbunuh ada berbagai versi, mulai dari puluhan ribu sampai jutaan nyawa. Sungguh sebuah tragedi berdarah yang jangan sampai terulang lagi.

Perlu kiranya kita menyadari bahwa yang menjadi korban dari tragedi 1965 bukan hanya para pahlawan revolusi dan keluarganya, tetapi juga orang-orang yang dituduh PKI / simpatisan komunis yang tidak penting ada atau tidak kaitan mereka dengan G30S tetapi semuanya divonis bersalah dengan stigma kejam ‘terlibat pemberontakan.’ Begitu pun keluarga dan anak-cucu mereka di masa mendatang harus menerima ‘stempel’ dari masyarakat sebagai ‘pengkhianat negara’ atau ‘terlibat G30S.’ Lebih dari itu, akal sehat generasi pasca G30S juga turut menjadi korban karena selama 30 tahun mereka dicekoki propaganda, indoktrinasi, fitnah, penipuan sejarah, pembodohan dan teror negara.

Ada satu narasi besar yang coba disuarakan dalam buku ini, yaitu REKONSILIASI. Namun, upaya bijaksana untuk ‘mengobati’ luka masa lalu ini ternyata tidaklah mudah. Persoalan utama dari sulitnya rekonsiliasi secara nasional ini bukan semata masalah prosedural, melainkan lebih kepada para ‘algojo’ yang tak mau mengakui kesalahannya. Ini terjadi akibat berbagai apologi yang terus-menerus digencarkan bahwa tindakan mereka itu demi mempertahankan kedaulatan negara dan mereka merasa memiliki ‘license to kill.’ Pembenaran yang tertanam dalam diri para ‘algojo’ ini diperkuat oleh propaganda rezim Orde Baru dengan narasi perjuangan heroik. Apologi-apologi ini ibarat tiang penyangga atas ‘kebanggaan’ yang mereka yakini. Kemungkinan terjadinya rekonsiliasi akan terbuka jika tiang-tiang penyangga itu roboh sehingga ‘kebanggaan’ semu yang mereka yakini akan perlahan runtuh.

“Tak selayaknya kita alergi terhadap komunisme. Sudah lama ideologi itu bangkrut. Uni Soviet porak-poranda, Cina kini sama kapitalisnya dengan Amerika. Ide masyarakat tanpa kelas adalah utopia yang usang dan sia-sia.”

-Kurniawan-


Senin, 02 Agustus 2021

REVIEW BUKU TEH DAN PENGKHIANAT - IKSAKA BANU

 


Judul Buku : Teh dan Pengkhianat

Penulis : Iksaka Banu

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 180 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Fiksi, Kumpulan Cerpen

My Rated : 4,3/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang berisi kumpulan cerpen bertema masa kolonialisme Belanda. Buku ini berjudul Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu.


#DESKRIPSI

Dari penulis karya sastra pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 kategori prosa., Semua untuk Hindia, hadir kembali tiga belas cerita pendek berlatar kolonial. Dalam Teh dan Pengkhianat kita diajak bertamasya lagi ke masa silam: ketika awal mula sepeda dipakai kaum bumiputra di Hindia Belanda, sewaktu wabah cacar mengancam sementara sarana dan prasarana transportasi masih terbatas, saat globe masih merupakan produk pencerahan budi yang mewah, tatkala rekayasa foto tidak bisa lai kecuali dilakukan dengan cara manual yang merepotkan, dan seterusnya.

Iksaka Banu menampilkan sejarah sebagai pergulatan manusia berikut susah-senang maupun kekecewaan dan harapan yang meliputi. Kebebalan ataupun nalar tiap generasi.

"Kehebatan Iksaka Banu adalah keberhasilannya 'menghidupkan' Belanda yang sudah pergi dari Nusantara sejak kita merdeka. Sebaliknya, penulis Belanda zaman sekarang gagal menampilkan pelaku utama Indonesia dalam karya-karya mereka, padahal kita sudah hampir tiga seperempat abad merdeka"--Joss Wibisono.


#ULASAN

Rasa haus akan sejarah Indonesia yang mengantarkanku membaca kumpulan cerpen karya Iksaka Banu ini. Setelah membaca Semua Untuk Hindia, rasanya tidak kaget ketika membaca Teh dan Pengkhianat, penulis juga mengambil sudut pandang yang sama, yakni dari orang Belanda. Tokoh ‘orang Belanda’ yang ditonjolkan adalah mereka yang tidak setuju dengan kolonialisme, memiliki keberpihakan terhadap kemanusiaan dan berempati kepada pribumi. Penulis lagi-lagi ingin menyuarakan bahwa sejarah penjajahan tidak sesederhana doktrin pribumi baik vs penjajah jahat. Ada ruang dimana anomali sejarah itu terjadi.

Dari 13 judul cerpen yang ada di buku ini, semuanya aku suka. Tema yang diangkat tidak melulu tentang pertumpahan darah, tapi membentang lebar perihal perjuangan, keluh kesah, gengsi, ironi, tragedi, komedi bahkan epidemi. Dilihat dari gaya bahasa, penokohan dan setting dari ceritanya, dapat dikatakan observasi yang dilakukan Iksaka Banu tidak main-main. Ketika membacanya, aku seperti diajak hadir ditengah-tengah peristiwa itu sehingga konflik dan pertentangan yang ada terasa begitu dekat. Tak sampai disitu, aku juga terangsang untuk browsing seputar fakta sejarah dibalik setiap cerpen dalam buku ini. Jadi, menurutku kurang lengkap kalau hanya membaca cerpen ini tanpa menelisik lebih lanjut fakta sejarah yang terkandung didalamnya.

Jika memilih 3 cerpen terbaik dari 13 judul cerpen di buku ini, aku memilih Teh dan Pengkhianat, Variola dan Indonesia Memanggil. Cerpen Teh dan Pengkhianat mungkin yang paling membuat geram karena mengisahkan seorang pemimpin pasukan yang sebelumnya adalah tangan kanan Pangeran Diponegoro tetapi kemudian berbalik haluan menjadi pembela Belanda. Dalam cerpen Variola, aku dibuat tercengang, ternyata sikap konservatif dari kalangan agamawan yang menolak upaya ilmiah dalam penyelesaian wabah penyakit sudah ada sejak zaman kolonial. Sedangkan dalam cerpen Indonesia Memanggil, aku mendapat pengetahuan baru tentang peran Australia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Teh dan Pengkhianat disampaikan dengan ringan tapi mengguggah dan berbobot. Bermacam-macam rasanya ketika selesai membaca buku ini. Yang jelas aku suka cara penulis menyampaikan kisah ini, ditambah adanya ilustrasi yang memanjakan mata semakin menggugah imajinasiku. Buat kamu yang suka dengan buku fiksi sejarah, aku merekomendasikan karya Iksaka Banu ini untuk dibaca. 


"Bangkitlah menjadi pria pemberani di hadapan kebenaran. Tuntutlah ilmu. Buatlah dunia Barat yang pongah ini mengerti, betapa berdosa merampas hak hidup seseorang. Apalagi suatu bangsa."

- Iksaka Banu -


Minggu, 01 Agustus 2021

REVIEW BUKU JEJAK CIA DALAM TRAGEDI 1965 - JOKO SUYONO DKK

 


 

Judul Buku : Jejak CIA Dalam Tragedi 1965

Penulis : Seno Joko Suyono, dkk.

Penerbit : TEMPO Publishing

Tebal : 174 halaman

Tahun Terbit : 2015

Kategori : Non-Fiksi, Rubrik Liputan Khusus

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang berisi investigasi jurnalistik tentang keterlibatan CIA dalam sejarah kelam Indonesia tahun 1965. Buku ini berjudul Jejak CIA Dalam Tragedi 1965 karya Seno Joko Suyono, dkk.


 #DESKRIPSI

“PEMBERONTAKAN kaum komunis Indonesia itu yang merupakan partai komunis nomor tiga kuatnya di seluruh dunia sesudah partai komunis di Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina, dapat ditumpas oleh ABRI Bersama-sama dengan rakyat dalam tempo yang amat singkat tanpa bantuan satu negara asing pun.” -Adam Malik, Mengabdi Republik Jilid II:Angkatan 45

“PIHAK Angkatan Darat Indonesia tidak punya daftar penting seperti ini. Marshall Green, Ed Masters dan Robert Martens mengatakan hal itu kepada saya bahwa kita (Amerika) memberikan nama ini kepada Angkatan Darat ketika mereka telah jelas setuju untuk menyerang PKI di seluruh Indonesia.” -Kathy Kadane, wartawan States News Service (wawancara Tempo 2001).

“BENAR bahwa saya memberikan nama-nama pemimpin PKI dan kader senior ke pasukan nonkomunis selama enam bulan chaos yang disebut kudeta dan akhirnya berujung pada jatuhnya Sukarno. Poin sebenarnya, bagaimanapun, nama-nama yang saya berikan berdasarkan seluruhnya -saya ulangi seluruhnya- dari media komunis Indonesia dan bisa diperoleh siapa saja.” -Robert Mertens, Pejabat Politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.


#ULASAN

Jawaban dari pertanyaan tentang siapakah dalang dibalik tragedi September 1965 masih menjadi perdebatan hingga dewasa ini. Dari beragam versi sejarah tentang dalang tragedi 1965 ini, ada satu hal menarik yang perlu diperhatikan, yakni tentang keterlibatan CIA (badan intelijen Amerika Serikat).  Benarkah CIA terlibat dalam tragedi 1965 ? Sejauh apa keterlibatannya ? Bagaimana kesaksian dari para tokoh tentang dugaan ini ? Semua pertanyaan ini akan terjawab di buku ini. Buku ini merupakan kumpulan liputan khusus dari TEMPO yang membentang dari tahun 90-an sampai 2015. Investigasi jurnalistik ini berusaha menggali informasi dari berbagai pihak, termasuk dari nama-nama pejabat kedutaan Amerika pada waktu itu.

Dugaan ini muncul bermula dari publikasi artikel oleh wartawati Amerika bernama Kathy Kadane yang menyebut bahwa Amerika dan CIA terlibat dalam pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di Indonesia. Artikel ini kemudian diperkuat dengan pembukaan akses publik ribuan dokumen yang termasuk didalamnya ‘merekam’ laporan kedutaan Amerika kepada Presiden Amerika pada tahun 1960-an. Pembukaan ini dilakukan oleh CIA berdasarkan azas keterbukaan informasi dan karena masa retensi ‘dokumen rahasia’ sudah habis. Hal inilah yang kemudian mendorong jurnalis TEMPO untuk menggali lebih dalam tentang keterlibatan CIA / Amerika.

Kumpulan liputan khusus dalam buku ini berhasil mengungkap fakta-fakta seperti adanya daftar nama, bantuan alat komunikasi, penyaluran dana dan komunikasi antara pihak Amerika dengan Indonesia. Kemudian ada juga pandangan dari berbagai pihak terkait isu ini, seperti dari pihak TNI AD, pejabat kedutaan Amerika, pengamat politik, sejarawan, sutradara dan masih banyak lagi.

Sebuah buku yang menarik untuk dibaca karena menyuguhkan berbagai sudut pandang yang kompleks. Menurut opini pribadiku, CIA tidak memiliki peran signifikan -bahkan tidak ada sama sekali- dalam memantik terjadinya peristiwa G30S. Tetapi, pasca peristiwa G30S inilah yang masih menjadi abu-abu, apakah daftar nama yang diberikan oleh pejabat keduataan AS -yang dianggap sebagai kepanjangan tangan CIA- kepada ajudan Adam Malik dimaksudkan untuk ‘membantu’ Angkatan Darat dalam ‘mengganyang’ PKI ? Pertanyaan ini belum mendapat jawaban yang clear, selain itu daftar nama ini juga aneh karena berdasarkan nama-nama yang pernah diberitakan oleh koran, jika demikian bukankah pihak TNI memiliki daftar nama yang lebih detail ? Kemudian tentang bantuan berupa alat komunikasi kepada TNI AD dan sejumlah uang kepada Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu) tidak bisa dikatakan bahwa CIA / AS adalah dalang dibalik ‘pengganyangan’ pasca G30S.

Soal apakah AS mendapat keuntungan dari tragedi 1965 ini, ya jelas, karena ketika rezim Orde Baru memegang pemerintahan, sudah jadi pengetahuan umum kalau AS kemudian melebarkan sayapnya dalam sektor perusahaan di wilayah Indonesia. Ditambah lagi pada waktu itu sedang berlangsung perang dingin antara blok barat vs blok timur (komunisme) dimana AS khawatir kalau Indonesia sampai jatuh ke tangan komunisme, maka dengan ‘hancurnya’ komunisme pasca G30S, AS merasa ‘lega.’

Pada akhirnya, buku ini bisa menambah wawasan kita tentang jejak tangan-tangan pihak asing dalam hal ini adalah Amerika dalam tragedi 1965. Apakah data, fakta dan kesaksian yang sudah terungkap cukup untuk menarik kesimpulan bahwa CIA / AS yang ‘menggerakkan’ penggayangan pasca G30S ? Jawabannya sepenuhnya diserahkan kepada para pembaca.