Minggu, 14 Maret 2021

REVIEW BUKU SEMUA UNTUK HINDIA - IKSAKA BANU

 

Cover Buku Semua Untuk Hindia
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Semua Untuk Hindia

Penulis : Iksaka Banu

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal :  154 halaman

Tahun Terbit : 2014

Kategori : Fiksi, Cerpen, Sejarah

My Rated : 4,2/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku fiksi sejarah yang berjudul ‘Semua untuk Hindia’. Buku ini aku baca di IPUSNAS. Bisa dibilang ini pertama kalinya aku membaca buku yang berlatar era kolonialisme namun menggunakan sudut pandang si penjajah atau orang ‘londo’. Iksaka Banu begitu lihai dan lincah meramu tokoh-tokoh yang bukanlah tokoh utama di kisah nyata, tapi sudut pandangnya mengenai suatu peristiwa sejarah tidak bisa dibuang begitu saja.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang merentang dari masa pra-kedatangan Cornelis de Houtman hingga awal Indonesia merdeka. Penulis tidak main-main dalam merangkai cerita, karena ia mendasarkan pada riset para sejarawan. Meski demikian, fiksi tetaplah fiksi, bisa jadi diantara sekian tokohnya adalah ciptaan penulis sendiri.

Dibagian awal, pengantar dari Nirwan Dewanto dengan tagline ‘Hindia Timur Untuk Kita, Hari Ini’ bagiku sangatlah membantu untuk menyingkap peristiwa sejarah apa dibalik kumpulan cerpen Iksaka Banu ini. 


“Penulis kelahiran Yogyakarta, 1964, ini menyadarkan kita bahwa Hindia Timur bukanlah menempel pada kehidupan kita hari ini, tapi merasuk ke dalamnya, mempengaruhi cara kita dalam menerima dunia luas. Tiga belas cerita pendek dalam buku ini menyangkal praduga umum bahwa sejarah kita apak, berdebu-sawang, dan berbau kemenyan.” 

-Nirwan Dewanto


Dari 13 judul cerpen yang disajikan, ada dua yang menjadi favoritku. Pertama, ‘Semua untuk Hindia’ yang mengisahkan tentang seorang wartawan De Locomotief saat meliput peristiwa Perang Puputan di Bali, tersayat hatinya melihat peristiwa yang sangat memilukan ini. Lalu aku coba googling tentang Perang Puputan ini dan memang ‘ngeri’ membayangkannya. Yang kedua, ‘Selamat Tinggal Hindia’ yang mengisahkan seorang wanita asal Belanda bernama Geertje ternyata adalah orang yang dicari-cari oleh tentara NICA karena disinyalir menyebarkan propaganda anti-NICA. Namun, Geertje berhasil kabur dari rumahnya dan meninggalkan pesan yang ia goreskan di cermin riasnya, ‘Selamat tinggal Hindia Belanda. Selamat datang Repoeblik Indonesia.’

Bila dalam buku-buku sejarah semasa sekolah dulu, yang aku rasakan ketika menyimak sejarah kolonialisme hanya sebatas pertentangan hitam dan putih. Si penjajah sepenuhnya salah, sebaliknya yang dijajah adalah korban. Buku ini akan menjungkirbalikkan semua itu. Karena dalam buku ini, kita akan dituntut melihat secara objektif pertentangan antara tokoh pribumi dan Belanda. Namun, di momen-momen tertentu, penulis seakan menuntun kita untuk melihat sang tokoh bukan dari latar belakangnya -tidak peduli dia Belanda atau pribumi- tetapi berusaha melihat dari sisi nuraninya. Lantas kita akan menemukan ada lho orang yang meskipun berasal dari Belanda tetapi berempati terhadap pribumi dan menyadari betul akan kekejaman bangsanya. Sebaliknya, ada pula kalangan bangsawan yang merasa berkedudukan lebih tinggi lalu semena-mena terhadap saudaranya sendiri. 


“Kita hidup di zaman menyedihkan. Di masa ketika seseorang dengan kemakmuran atau garis darah tertentu bisa memiliki kedudukan, kehormatan, dan hak lebih tinggi dari yang lain. Orang-orang semacam ini kemudian berkumpul, membentuk lembaga pemerintahan sembari meminjam hukum, kisah-kisah lama, kesepakatan lama, bahkan agama atau hal-hal lain yang bisa mempersatukan orang banyak untuk dibelokkan menuju pencapaian cita-cita mereka, yaitu: mengatur hidup orang lain.”

-Iksaka Banu


Jadi, kalau kamu suka dengan tema fiksi sejarah, buku ini aku rekomendasikan untuk dibaca. Secara bahasa sebenarnya cukup mudah dipahami, hanya saja penulis tidak jarang menggunakan kosakata bahasa Belanda. Cara mengawali ceritanya pun cukup variatif, namun seringkali kita langsung dilemparkan ke tengah-tengah situasi yang menegangkan. Dan sebagai penutup, mungkin kita juga sudah tahu, kalau buku ini mengantarkan Iksaka meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa, pada tahun 2014. Ya untuk buku sebagus ini, menurutku memang layak sih. Mantap ! 


“Ini tanahku. Ini rumahku. Apapun yang ada di ujung nasib, aku tetap tinggal di sini.” 

-Iksaka Banu


REVIEW BUKU PEREMPUAN DI TITIK NOL - NAWAL EL SAADAWI

 

Cover Buku Perempuan di Titik Nol
(Sumber : Mojok)

Judul Buku : Perempuan di Titik Nol

Penulis : Nawal El-Saadawi

Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tebal :  156 halaman

Tahun Terbit : 2002

Kategori : Fiksi, Novel Klasik

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku terjemahan dari Timur Tengah yang cukup ramai diperbincangkan di Indonesia. Judulnya Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi.

Nawal El-Saadawi ialah seorang dokter bangsa Mesir. Ia terkenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita. Ia pernah sampai dibebastugaskan dari jabatan Direktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Health akibat buku pertamanya , 'Women and Sex'. Tapi Saadawi tidak dapat dihalangi, ia terus menerbitkan buku-buku tentang status, psikologi dan seksualitas wanita. Dan salah satu karya fenomenalnya ialah, Women at Point Zero.

Perempuan Di Titik Nol ini diangkat dari kisah nyata. Berawal dari penelitian yang dilakukan Saadawi di salah satu penjara Mesir, hingga akhirnya ia bertemu Firdaus, perempuan yang sedang menunggu hari kematiannya di balik jeruji besi akibat kasus pembunuhan terhadap laki-laki. Namun, bagi Saadawi, ia sama sekali tidak melihat kejahatan itu ada pada Firdaus, lewat sorot tajam matanya membuat Saadawi penasaran ingin mengetahui lebih dalam apa sebenarnya yang terjadi.

Hidup Firdaus telah hancur sejak ia kecil. Memiliki ayah yang bersikap bak raja dengan kegoisannya bertindak semena-mena kepada semua anaknya. Bahkan terbiasa menjadi objek seksual dari teman kecilnya dan pamanya sendiri. Ketika beranjak dewasa, dinikahkan dengan suami tua, dan mendapat perlakuan seperti budak. Merasa tak tahan, ia memilih kabur dan hidup di jalanan. 

Menjalani lika-liku kerasnya kehidupan, dia berpindah-pindah tempat. Dia pun tiba pada titik dimana keyakinan akan tubuhnya bisa memberi penghidupan yang lebih layak, bahwa ia berkuasa penuh atas tubuhnya, dan ia pun memilih untuk menjadi pelacur, bahkan menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo, memiliki nama yang mentereng. Dari semua orang laki-laki yang dia temui, mereka selalu berkata ingin menyelamatkannya, namun pada akhirnya hanya akan memeras tubuhnya. Kebenciannya pada laki-laki semakin tak terbantahkan.


“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan laki-laki, dan bahwa lelaki mengusai dua dunia dunia kita, yang di bumi, dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah di bayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi pelacur bebas dari pada seorang istri yang diperbudak.”

-Nawal El-Saadawi


Fridaus, berawal dari putri desa, menjadi istri lelaki tua nan kaya, pernah menjadi karyawan hingga simpanan orang, sampai akhirnya menjadi pelacur dan membunuh seorang laki-laki. Sangat suram, tragis dan miris. Melalui kisahnya, membuat pembaca masuk kedalam bobroknya masyarakat yang didominasi oleh kaum laki-laki. Sistem masyarakat bahkan pemerintahan yang kental dengan budaya patriarki dikritik habis oleh Firdaus. Bagaimana perasaan pembaca tidak tergoncang dengan kalimat-kalimat sarastik yang menggambarkan jeritan penderitaan dan pemberontakan perempuan yang tertindas ?


“Saya dapat mengetahui bahwa semua yang memrintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kpribadian ang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpulkan duit, mendapatkan seks dan kekuasaan tanpa batas. Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan kata-kata bercun. Karena itu, kebenaran tentang mereka hanya terbuka setelah mereka mati, dan akibatnya saya menemukan bahwa sejarah cendrung mengulangi dirinya dengan kekerasan kepala yang dungu.”

-Nawal El-Saadawi


Buku ini kecil, tapi keras dan pedas. Mengandung suatu pesan yang kuat dan berharga untuk diketahui banyak orang, sebuah kebenaran yang tragis, penuh ironi tentang ketidakadilan. Pengantar yang ditulis oleh Mochtar Lubis merupakan sebuah bagian yang penting di dalam buku karena memberi buku ini sebuah makna yang lebih berarti, tentang relevansi isi novel ini dengan kenyataan di Indonesia. Apa yang dialami Firdaus, mungkin saja juga dialami oleh perempuan yang hidup di lingkungan yang didominasi budaya patriarki. Maka dari itu, terlepas dari pilihan hidup Firdaus untuk menjadi pelacur, novel ini berpesan kepada perempuan untuk kuat dan berani memperjuangkan haknya, agar tak tertindas.


REVIEW BUKU PERAHU KERTAS - SAPARDI DJOKO DAMONO

 

Cover Buku Perahu Kertas
(Sumber : Ipusnas)

Judul Buku : Perahu Kertas

Penulis : Sapardi Djoko Damono

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  100 halaman

Tahun Terbit : 2018

Kategori : Fiksi, Kumpulan Puisi

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku karya Sapardi Djoko Damono, judulnya Perahu Kertas. Perahu kertas pertama kali terbit pada tahun 1983. Buku ini memuat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang selalu dikutip dan dibacakan di setiap waktu, diantaranya puisi Yang Fana Adalah Waktu, Tuan, Sihir Hujan, Hatiku Selembar Daun dan Metamorfosis. Ada lima puluhan judul puisi di buku ini, dan tidak perlu waktu lama untuk melahapnya. 

Puisi-puisi dari pak Sapardi Djoko Damono ini adalah gambaran sederhana tentang kondisi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sajaknya indah dan menenangkan buat dibaca, yah harus diakui aku kurang paham makna di beberapa kalimatnya. Sederhana tapi tidak sederhana, eh gimana ? wkwk. Meski begitu ada saja kata-kata yang membekas dan sayang kalau tidak dicatat hehe. 


Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;

"soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian. soalnya ia baka"

“Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."


Dari semua puisi dalam buku ini, favoritku yaitu Yang Fana Adalah Waktu dan Perahu Kertas. Puisi-puisi dari eyang Sapardi memang awesome, layak beliau dikagumi para pecinta puisi. Note to me: next time I have to read other books by ‘Eyang’ Sapardi.



Sabtu, 13 Maret 2021

REVIEW BUKU ARISTOTELES : INSPIRASI DAN PENCERAHAN UNTUK HIDUP LEBIH BERMAKNA - SAHRUL MAULUDI

 


Judul Buku : Aristoteles – Inspirasi dan Pencerahan untuk Hidup Lebih Bermakna

Penulis : Sahrul Mauludi

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

Tebal :  188 halaman

Tahun Terbit : 2016

Kategori : Non-Fiksi, Inspirasi, Referensi

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu seri buku inspirasi dan pencerahan karya Sahrul Mauludi. Di buku ini kita akan mendapat inspirasi dari sosok filsuf dan ilmuwan Yunani yang menjadi salah satu tokoh intelektual terbesar dalam sejarah Barat, yaitu Aristoteles.

Aristoteles adalah seorang perintis yang telah menyusun pengetahuan secara logis, sistematis, dan komprehensif. Ia telah menggarap berbagai bidang pengetahuan manusia secara luas meliputi sebagian besar ilmu pengetahuan dan seni, termasuk biologi, botani, kimia, etika, sejarah, logika, metaisika, retorika, filsafat pikiran, filsafat ilmu, fisika, puisi, teori politik, psikologi, dan zoologi. Para filsuf dan intelektual Muslim pun menyebutnya sebagai “guru pertama”  (al-mu’allim al-awwal) -yaitu guru pertama di bidang logika.


“Kita pasti setuju bahwa sifat Aristoteles yang paling menonjol adalah: dia cinta belajar. Aristoteles pun percaya bahwa setiap manusia mencintai pengetahuan, manusia adalah knowledge seeker, pencari ilmu. Menurutnya secara alami manusia berhasrat pada pengetahuan.”

-Shields


Buku ini dibagi dalam 12 bab yang membawa pembaca pada bagian-bagian penting dalam perjalanan hidup sang filsuf, pemikiran dan karya Aristoteles secara garis besar serta pendapat beberapa tokoh tentang Aristoteles. Diakui penulis, buku ini tidaklah mendalam dan detail tapi cukup sebagai pengantar bagi pembaca untuk berkenalan dengan Aristoteles.

Ada banyak pembahasan konsep atau prinsip dari Aristoteles yang menarik dalam buku ini. Antara lain tentang Framework “Empat Penyebab”, yang menjadi kerangka berpikir untuk memahami hubungan sebab-akibat dan bahwa segala sesuatu saling berhubungan, berkaitan, dan memengaruhi satu sama lain, serta memiliki tujuan. Empat Penyebab itu adalah material cause, formal cause, efficient cause, dan final cause.

Aristoteles pun sering dianggap sebagai bapak psikologi, dan bukunya, De Anima (On the Soul), dinilai merupakan buku pertama tentang psikologi. Dalam skema Aristoteles terdapat enam fakultas utama dalam jiwa manusia, yaitu: 

  • Nutrisi dan reproduksi
  • Sensasi (pengindraan)
  • Hasrat,
  • Gerak,
  • Imajinasi
  • Pemikiran

Di bidang Pendidikan dan pengembangan diri, menurut Aristoteles kita dapat dikatakan tumbuh dan berkembang sepenuhnya ketika bisa mewujudkan empat aspek sifat manusia yaitu kita adalah makhluk fisik, emosional, sosial dan rasional.

Di bidang sains, Aristoteles mungkin sudah ketinggalan dan digantikan dengan sains modern. Para ilmuwan, sejak abad ke 16 dan 17, sudah mulai menggunakan metode kuantitatif sehingga dapat menyajikan fakta yang lebih akurat. Tapi jasa Aristoteles untuk metode ilmiah tetap tak terlupakan. Salah satu bagian penting dari sains yaitu Empirisme saintifik, dimana argumen abstrak harus di bawah bukti faktual, bahwa teori dikukuhkan setelah pengamatan yang ketat merupakan gagasan dari Aristoteles.

Berbeda dengan Plato yang mengedepankan pengetahuan ide-ide, Aristoteles mendukung bagi penguasaan sains empiris, karena baginya pengetahuan jenis inilah yang riil. Apa yang dapat kita saksikan dan amati merupakan objek pengetahuan yang berharga dan bernilai bagi manusia. Bagi Plato, itu nilainya tidak lebih dari pengetahuan semu dan relatif. Sedangkan bagi Aristoteles itulah pengetahuan tentang dunia nyata, dunia yang sesungguhnya. Itulah mengapa Aristoteles yang disebut bapak sains modern, bukan Plato.

Selain itu, tidak ketinggalan juga pemikiran Aristoteles di bidang politik. Untuk menjawab pertanyaan model pemerintahan seperti apakah yang terbaik ? Bagi Aristoteles, pemerintahan yang baik dan tidak baik bergantung pada latar belakang dan kondisi masing-masing wilayah. Namun, menurutnya ukuran universal untuk pemerintahan yang baik dapat dilihat dari tujuan yang dicapai yaitu kepentingan bersama bagi seluruh warga negara. Tidak jadi soal apakah pemerintahannya dipegang oleh satu orang (monarki) atau sekelompok orang (aristokrasi) maka pemerintahan itu baik selama mengutamakan kepentingan bersama. Sebaliknya pemerintahan itu buruk jika hanya menguntungkan diri sendiri (tirani) atau kelompoknya saja (oligarki).


“Bagi Aristoteles negara yang ideal adalah yang pemerintahannya di tangan orang banyak dan bertujuan untuk orang banyak pula, untuk kepentingan bersama seluruh warga nya, politeia. Adapun ukuran negara yang ideal, menurutnya, adalah seperti polis (negara-kota), tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Sebab negara yang terlalu besar akan sulit mengurusnya, jika terlalu kecil negara itu akan sulit mempertahankan diri dari serangan luar.”

-Sahrul Mauludi


Dan di dua bab terakhir, Sahrul menjabarkan tujuan akhir dari semua tindakan manusia menurut Aristoteles yang disebut Eudaimonia. Eudaimonia yaitu bertindak dan menjalani hidup yang baik, mengindikasikan sebuah sikap hidup yang dicirikan oleh aretĂȘ (kebajikan).

Buku ini bagus, sederhana dan mudah dipahami untuk memetik ide, gagasan dan inspirasi dari Aristoteles. Kalau kamu berminat untuk mempelajari pemikiran Aristoteles, buku ini bisa dijadikan sebagai pengantar.


“Mengetahui kebenaran adalah satu hal, bertindak sesuai dengan kebenaran adalah hal lain. Idealnya kedua hal tersebut saling melengkapi. Untuk itu seseorang membutuhkan pengembangan pemikiran sekaligus latihan moral dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dengan begitu ia akan mencapai kebajikan intelektual dan moral. Aristoteles mengatakan, kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang, arĂȘte (kebajikan) karenanya bukanlah tindakan tapi sebuah kebiasaan.”

-Sahrul Mauludi


REVIEW BUKU MENATAP BANGSA HOAX - SUBAGIO S. WALUYO

Cover Buku Menatap Bangsa Hoax

 


Judul Buku : Menatap Bangsa HOAX 

Penulis : Drs. Subagio Sastro Waluyo, M.Si.

Penerbit : Deepublish

Tebal :  185 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Sosial-Politik

My Rated : 3/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang membahas pandangan seorang akademisi terhadap situasi soasial-politik Indonesia kontemporer. Judul buku ini seakan menjewer para pemegang kekuasaan, Menatap Bangsa HOAX : Sebuah Catatan untuk Penegakan Good Governance.

Melihat dan merasakan kegelisahan dari kehidupan berbangsa dan bernegara dalam beberapa tahun kebelakang membuat penulis merasa tergerak untuk melakukan sesuatu. Drs. Subagio Sastro Waluyo, M.Si., merupakan dosen salah satu universitas di Bekasi dan suka menulis artikel atau esai di website pribadinya. 

Sesuatu yang mengganjal di hatinya, ia tuangkan dalam tulisan yang akhirnya di susun menjadi buku yang terbit tahun 2019. Buku ini berisi 25 bab yang membahas tentang permasalahan di Indonesia, analisis dan solusi tentang good governance.

Menatap Bangsa HOAX. Sebuah judul yang terlampau berani, sarkas dan tajam. Penulis mengkonstruksi HOAX disini dengan gambaran bahwa Indonesia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja, tetapi pemerintah berusaha menyampaikan yang sebaliknya.

Buku ini diawali dengan sebuah lagu fenomenal, ‘Negeri Kolam Susu’. Indonesia negeri ‘kolam susu’ yang membuat rakyatnya selayaknya hidup di surga karena ‘tiada badai tiada topan kau temui’, sehingga nelayan bisa mengail ikan dengan nyaman dan aman. Indonesia kita ‘negeri kolam susu’ yang rakyatnya seharusnya hidup berkecukupan karena ‘kail dan jala cukup menghidupimu’ sehingga lautan yang membentang luas itu siap memenuhi kebutuhan rakyat. ‘Orang bilang tanah kita tanah surga’ karena ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’ yang kelak bisa dinikmati oleh para penanamnya.

Namun, pengelola ‘negeri kolam susu’ ternyata jauh panggang dari api. Karena keserakahannya, kehausan kekuasaanya dan kelicikannya malah membuat Indonesia menjadi ‘negeri kolam air mata’. Begitulah penulis menggambarkan keadaan Indonesia.

Bagaikan suatu kapal yang menanggung beban sangat berat, mulai dari sumber daya alam yang banyak dikuasai perusahaan asing hingga pengelolaan negara yang bersandar pada hutang luar negeri (lebih parah lagi untuk membayar bunga hutang juga pakai hutang, ‘gali lubang, tutup lubang’). Penulis menggambarkan kondisi ini dengan kutipan puisi dari Taufik Ismail,


Kami generasi yang sangat kurang percaya diri

Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan

Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami

Sejak lahir sampai dewasa ini

Jadi sangat bergantung pada budaya

Meminjam uang ke mancanegara


Buku yang menarik, menyimak opini-opini penulis yang sarat dengan satire bahkan sarkasme tentang kondisi sosial-politik Indonesia. Ulasan kali ini aku tutup dengan mengutip kalimat yang relevan dengan suasana politik dewasa ini  :


"Karena terkena sindrom pragmatisme politik, para aktor politik melakukan berbagai cara, salah satu diantaranya apalagi kalau bukan ‘ngibul’. Kalau sudah ‘ngibul’ dan kata ‘ngibul’ sendiri sudah dijadikan cara untuk memenuhi egonya, jadilah aktor-aktor politik yang pragmatis dan oportunis."

-Drs. Subagio Sastro Waluyo, M.Si.


REVIEW BUKU AMANGKURAT AMANGKURAT - GOENAWAN MOHAMAD

 

Cover Buku Amangkurat Amangkurat
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Amangkurat Amangkurat

Penulis : Goenawan Mohamad

Penerbit : Gramedia

Tebal :  68 halaman

Tahun Terbit : 2017

Kategori : Non-Fiksi, Naskah Drama

My Rated : 3/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku karya Goenawan Muhammad yang dikemas dalam sebuah naskah lakon. Judulnya Amangkurat Amangkurat. Dan berikut sinopsisnya :


Goenawan Mohamad, yang menulis beberapa naskah lakon, "Visa", "Surti dan Tiga Sawunggalin", "Surat-Surat Karna", "Tan Malaka", "Gundala Gawat", kali ini mengolah satu bagan sejarah Mataram di abad ke-17.

Tapi ini bukan lakon sejarah. Lakon ini lebih merupakan delirium seorang raja menjelang kematian -- paparan tentang apa yang terjadi dengan kekuasaan.


Buku pertama Goenawan Mohamad yang aku selesaikan. Cukup menarik, berisi sebuah naskah lakon dalam empat belas adegan sesuai dengan judulnya. Terdiri dari 53 halaman, Bahasa yang dipakai singkat, namun perlu usaha ‘lebih’ untuk bisa menangkap maknanya. Di beberapa bagian juga dituliskan cuplikan Babad Tanah Jawi, yang aku sendiri kurang tahu makna keseluruhannya hehe.

Selayaknya sebuah naskah lakon, percakapan antar tokoh tentu menarik perhatian. Kalimat-kalimat yang dipilih tak jarang menyiratkan makna mendalam, seperti 


“Aku bukan orang yang percaya pengampunan bisa dipertukarkan dengan apapun – apalagi dengan apa yang keluar dari mulut”
–Amangkurat, adegan 2


Atau cuplikan adegan 3 (percapakan Amangkurat dengan Juru Taman) yang menjadi bagian paling menarik menurutku :

Juru taman : “Yang hamba tahu, putra Tuan kehilangan segala-galanya. ia akan menghabiskan waktunya berdoa di mesjid-masjid. ia yakin ia harus ke Mekah, agar bebas. ia tak ingin merebut mataram kembali. ia tak ingin berkuasa.”

Amangkurat : “Berubah-ubah pendirian! anak yang lemah.”

Juru taman : “Bukan karena itu. Tuan ingat, sejak remaja ia tahu: ayahnya begitu berkuasa, tapi kuasa itu malah menjadikan seorang raja rapuh  -dan pangeran muda itu bingung.”

Aku sendiri kurang tahu bagaimana sejarah dari Amangkurat I dan Amangkurat II, tai dari naskah lakon ini, Delirium yang dimaksud penulis menurutku adalah bayangan yang dirasakan Sang Raja menjelang kematiannya. Disana ia melihat jalan cerita kehidupannya yang penuh darah. Tentang kematian ayahandanya, perebutan kekuasaan yang mengakibatkan ia harus membunuh adiknya sendiri dan bagaimana kekuasaan seakan menjadi kutukan / sesuatu yang mengerikan karena bisa membuat seseorang bertindak kejam pada siapapun yang menolak / berseberangan dengannya.


“Kekuasaan. aku selalu membayangkannya sebagai zakar besar yang tegak, memintaku untuk datang merunduk. untuk menjilatinya.”

-Goenawan Muhammad


REVIEW BUKU NAJWA SHIHAB : PRESENTER YANG MENJADI TOKOH LITERASI - TEMPO

 

Cover Buku Najwa Shihab
(Sumber : Ipusnas)

Judul Buku : Najwa Shihab - Presenter yang menjadi tokoh literasi

Penulis : Pusat Data dan Analisa Tempo

Penerbit : Tempo

Tebal :  114 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Esai

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku terbitan Tempo Publishing yang membahas sosok presenter paling tajam dan banyak penggemarnya, termasuk aku, hehe. Siapa lagi kalau bukan Najwa Shihab ! 

Mendengar nama Najwa Shihab atau akrab dipanggil Mbak Nana tentu tidak asing bagi dunia jurnalistik di Indonesia. Apalagi lewat program “Mata Najwa” yang tayang seminggu sekali, Mbak Nana dielu-elukan banyak kalangan karena dianggap mewakili suara mereka.

Nama “Mata Najwa” sendiri filosofinya adalah pemirsa menitipkan mata mereka ke Najwa untuk melihat sebuah perspektif. Dengan tatapan matanya yang tajam, gaya wawancara yang khas bahkan disebut ‘galak’ menjadi personal branding yang memikat dari sosok Mbak Nana.

Bukan tanpa alasan, gaya wawancara itu tercipta dari proses perkembangan saat pertama menjadi wartawan hingga sekarang ini. Mbak Nana punya prinsip “Be brave but don’t be stupid” Ia berani mencecar narasumber (apalagi kalau politisi) karena ia punya hasil riset. Menurutnya memang harus keras kalau berhadapan dengan politikus karena sering politikus itu suka melebih-lebihkan atau sebaliknya menyembunyikan sesuatu. Panggung Mata Najwa disediakan untuk menguji argumen dan memeriksa fakta yang disampaikan. Diskusi boleh keras, tetapi Mbak Nana menekankan bahwa selalu memberikan semua narasumber kesempatan berbicara.  Mbak Nana juga dikenal semangat dalam belajar dan punya rasa ingin tahu yang tinggi sehingga tidak cepat puas dengan hasil riset dari timnya, maka sebisa mungkin Mbak Nana melakukan riset sendiri supaya hasilnya maksimal. Penting baginya untuk tidak setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu.

Pada 2016 Najwa Shihab dipilih menjadi duta baca Indonesia hingga tahun 2020. Tugas yang tidak ringan itu dimanfaatkan Mbak Nana untuk menggiatkan ‘melek literasi’. Menurutnya, rendahnya minat baca di Indonesia salah satunya karena akses kepada bahan bacaan berkualitas masih minim. Maka dalam kegiatannya sebagai duta baca ia berusaha untuk mengirim buku-buku ke pelosok-pelosok, mengkampanyekan perpustakaan digital, menempatkan buku-buku di tempat umum, keliling Indonesia untuk menyebar virus membaca buku dan mengusulkan program perpustakaan desa yang dananya diambil dari dana desa.

Buku ini dikemas dengan konsep Q&A yang kemudian dikembangkan menjadi paragrap agar lebih runut dan rapi. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketika Najwa masih aktif di Metro TV dan sesudah ia keluar dari Metro TV. Keinginannya menjadi jurnalis muncul ketika magang di RCTI, padahal waktu itu ia kuliah jurusan hukum di Universitas Indonesia. Di buku ini juga membahas salah satu pengalaman berkesan dari Mbak Nana ketika menjadi wartawan yaitu waktu meliput tsunami di Aceh. Perjalanan pendidikan, karir dan lingkungan keluarga Najwa Shihab juga ada di buku ini.

Meskipun sudah belasan tahun menjadi jurnalis, Mbak Nana mengakui tetap memiliki rasa takut. Ia takut salah, takut tidak menyampaikan informasi yang benar, namun itu wajar. Menurutnya dengan merasa takut, ia bisa menjaga adrenalinnya dan memastikan berita yang diberikan itu akurat dan berguna untuk masyarakat. Semoga sehat selalu dan konsisten dengan independensinya sebagai jurnalis, Mbak Nana ! Panjang umur literasi !


"Saya ingin karya jurnalistik itu berpengaruh dan berdampak terhadap kebijakan yang salah."

-Najwa Shihab.