Sabtu, 13 Maret 2021

REVIEW BUKU NAJWA SHIHAB : PRESENTER YANG MENJADI TOKOH LITERASI - TEMPO

 

Cover Buku Najwa Shihab
(Sumber : Ipusnas)

Judul Buku : Najwa Shihab - Presenter yang menjadi tokoh literasi

Penulis : Pusat Data dan Analisa Tempo

Penerbit : Tempo

Tebal :  114 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Esai

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku terbitan Tempo Publishing yang membahas sosok presenter paling tajam dan banyak penggemarnya, termasuk aku, hehe. Siapa lagi kalau bukan Najwa Shihab ! 

Mendengar nama Najwa Shihab atau akrab dipanggil Mbak Nana tentu tidak asing bagi dunia jurnalistik di Indonesia. Apalagi lewat program “Mata Najwa” yang tayang seminggu sekali, Mbak Nana dielu-elukan banyak kalangan karena dianggap mewakili suara mereka.

Nama “Mata Najwa” sendiri filosofinya adalah pemirsa menitipkan mata mereka ke Najwa untuk melihat sebuah perspektif. Dengan tatapan matanya yang tajam, gaya wawancara yang khas bahkan disebut ‘galak’ menjadi personal branding yang memikat dari sosok Mbak Nana.

Bukan tanpa alasan, gaya wawancara itu tercipta dari proses perkembangan saat pertama menjadi wartawan hingga sekarang ini. Mbak Nana punya prinsip “Be brave but don’t be stupid” Ia berani mencecar narasumber (apalagi kalau politisi) karena ia punya hasil riset. Menurutnya memang harus keras kalau berhadapan dengan politikus karena sering politikus itu suka melebih-lebihkan atau sebaliknya menyembunyikan sesuatu. Panggung Mata Najwa disediakan untuk menguji argumen dan memeriksa fakta yang disampaikan. Diskusi boleh keras, tetapi Mbak Nana menekankan bahwa selalu memberikan semua narasumber kesempatan berbicara.  Mbak Nana juga dikenal semangat dalam belajar dan punya rasa ingin tahu yang tinggi sehingga tidak cepat puas dengan hasil riset dari timnya, maka sebisa mungkin Mbak Nana melakukan riset sendiri supaya hasilnya maksimal. Penting baginya untuk tidak setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu.

Pada 2016 Najwa Shihab dipilih menjadi duta baca Indonesia hingga tahun 2020. Tugas yang tidak ringan itu dimanfaatkan Mbak Nana untuk menggiatkan ‘melek literasi’. Menurutnya, rendahnya minat baca di Indonesia salah satunya karena akses kepada bahan bacaan berkualitas masih minim. Maka dalam kegiatannya sebagai duta baca ia berusaha untuk mengirim buku-buku ke pelosok-pelosok, mengkampanyekan perpustakaan digital, menempatkan buku-buku di tempat umum, keliling Indonesia untuk menyebar virus membaca buku dan mengusulkan program perpustakaan desa yang dananya diambil dari dana desa.

Buku ini dikemas dengan konsep Q&A yang kemudian dikembangkan menjadi paragrap agar lebih runut dan rapi. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketika Najwa masih aktif di Metro TV dan sesudah ia keluar dari Metro TV. Keinginannya menjadi jurnalis muncul ketika magang di RCTI, padahal waktu itu ia kuliah jurusan hukum di Universitas Indonesia. Di buku ini juga membahas salah satu pengalaman berkesan dari Mbak Nana ketika menjadi wartawan yaitu waktu meliput tsunami di Aceh. Perjalanan pendidikan, karir dan lingkungan keluarga Najwa Shihab juga ada di buku ini.

Meskipun sudah belasan tahun menjadi jurnalis, Mbak Nana mengakui tetap memiliki rasa takut. Ia takut salah, takut tidak menyampaikan informasi yang benar, namun itu wajar. Menurutnya dengan merasa takut, ia bisa menjaga adrenalinnya dan memastikan berita yang diberikan itu akurat dan berguna untuk masyarakat. Semoga sehat selalu dan konsisten dengan independensinya sebagai jurnalis, Mbak Nana ! Panjang umur literasi !


"Saya ingin karya jurnalistik itu berpengaruh dan berdampak terhadap kebijakan yang salah."

-Najwa Shihab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam, Sobat Reader ! Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar, kesan atau pesan :)