Senin, 25 April 2022

REVIEW BUKU MEREKA BILANG, SAYA MONYET! - DJENAR MAESA AYU

 

Judul Buku : Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis : Djenar Maesa Ayu
Penerbit : GPU
Tebal :  135 halaman
Tahun Terbit : 2002
Kategori : Fiksi, Sastra, Kumcer
My Rated : 4,5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang kumpulan cerpen yang bakal membuat pembacanya mengevaluasi dirinya, apakah selama ini mampu mengendalikan sifat kebinatangan yang ‘tersembunyi’ dibalik topeng ‘kebaikan’ manusia ? Buku ini berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu.

#DESKRIPSI
Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah buku pertama Djenar Maesa Ayu yang langsung merebut perhatian pembaca sejak pertama kali diterbitkan. Tema yang berani dan cara bercerita yang lugas serta eksploratif membuat karya ini menuai banyak pujian ketika awal diluncurkan. Dalam perjalanannya buku ini telah dicetak ulang berkali-kali. Dua dari cerpen dalam buku ini pun menjadi inspirasi bagi Djenar untuk film Mereka Bilang, Saya Monyet! yang disutradarainya sendiri. Film ini berhasil meraih perhatian media massa, bahkan menyabet beberapa penghargaan pada festival bergengsi di dunia, seperti Indonesian Movie Award 2008 (Winner for the Best Actress, Winner of The Best New Comer Actress, Nominated as The Most Favorite Movie), Singapore International Film Festival 2008 (Nominated as The Best Asian Feature Film, Silver Screen Award), Osian’s Cinefan International Film Festival (Nominated as The Best First Feature Film), dan Hongkong International Film Festival 2008 (Official Selection). Djenar pun mendapat Piala Citra dari kategori Skenario Adaptasi Terbaik dan sebagai Sutradara Baru Terbaik pada Festival Film Indonesia 2009.

#ULASAN
Awalnya aku penasaran dengan isi buku ini karena judulnya menarik dan setelah membacanya, wow… (emot geleng-geleng kepala). Reaksiku yang demikian bukan menandakan ketidaksukaan atau kekecewaan, melainkan kekagumanku pada penulis karena mengangkat tema yang mungkin tabu dan berat bagi sebagian orang. Djenar bercerita dengan lugas, jujur, dan berani dalam 11 cerpen yang menurutku bermaksud menelanjangi manusia dengan mengeluarkan sisi gelapnya. 


Narasi yang sejak kecil digaungkan bahwa manusia adalah makhluk ‘mulia’ diantara makhluk lainnya mungkin tidak menemukan tempatnya di kumcer ini. Sebab, Djenar mengangkat realita kehidupan yang selama ini diselimuti kemunafikan. Pada dasarnya semua cerpen pada bukunya ini bercerita tentang pelecehan seksual pada perempuan, baik dari keluarga dan lingkungannya. Hal yang sudah menjadi rahasia umum, namun mungkin masih tabu untuk dibicarakan pada masa itu (awal 2000-an). Untuk itu, Djenar bercerita dengan gaya yang ‘berbeda’ di buku ini.


Dalam kumcernya, Djenar banyak menggambarkan manusia sebagai binatang, seperti ungkapannya “Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai.” Hal ini menarik, karena pembaca ditunjukkan betapa ‘dekat’-nya manusia dengan binatang. Manusia sejatinya memiliki sifat-sifat kebinatangan itu, dan yang membedakannya dengan binatang adalah 'akal jernih'. Kumcer ini mengingatkan pembaca betapa pentingnya fungsi akal jernih bagi manusia, karena itu yang membedakan manusia dengan binatang.
 

Jadi, kumcer ini meskipun secara cerita penuh ironi dan penderitaan yang membuatnya jadi kurang ‘enak’, tapi tetap menarik dibaca karena hal-hal tabu juga perlu dibicarakan dan didiskusikan. Tiga kata untuk buku ini: jujur, sarkas dan berani!

“Bukankah semua anak punya hak untuk bertanya?”


“Manusya muak. Segala sesuatu yang tidak dapat terjawab selalu berakhir atas nama Tuhan. Misalnya, mengapa seorang anak bisa jadi bajingan padahal orangtuanya santri? Dijawab, itu sudah takdir dari Tuhan. Sebaliknya, jika orangtuanya rusak tapi anaknya begitu bauk, dijawab, itulah kuasa Tuhan. Alangkah mudahnya. Tidak adakah penjelasan lain yang lebih memuaskan? Tidak adakah jawaban lain yang lebih masuk akal? Mungkin manusia sudah malas berfikir, pikir Manusya.”

Sabtu, 23 April 2022

REVIEW BUKU LO NGERTI SIAPA GUE - SOPHIA MEGA

 

(Sumber: Togamas) 

Judul Buku : Lo Ngerti Siapa Gue
Penulis : Sophia Mega
Penerbit : Metagraf
Tebal :  104 halaman
Tahun Terbit : 2020
Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement
My Rated : 4/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang bisa kamu jadiin acuan membangun personal branding di media sosial maupun di kehidupan tatap muka. Buku ini judulnya Lo Ngerti Siapa Gue karya Sophia Mega.

#DESKRIPSI
Media sosial bukan tentang seberapa banyak follower atau menjadi selebgram. Meskipun pada kenyataannya pikiran untuk selalu menjadi yang terbanyak pengikutnya selalu muncul.

Namun, ada alternatif lain dalam menggunakan media sosial, yaitu menciptakan personal branding yang memberi manfaat dalam kehidupan kita. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu dituntut untuk menjadi orang lain sehingga kita dan orang lain akan mengerti siapa diri kita sepenuhnya.

#ULASAN
Pernah gak, kamu memfollow instagram orang dan suka mengikuti konten-kontennya karena kamu merasa mendapat value or just positive vibes, lalu konsep dan cara dia menyampaikan itu ‘ngena’ banget? Kalau pernah, menurut Sophia Mega, berarti orang tersebut berhasil membangun personal branding di instagramnya yang ‘dia banget.’


Nah, sebenarnya penting gak sih membuat personal branding di medsos kita? Menurut Sophia Mega, penting, karena itu bisa mendatangkan manfaat tidak hanya bagi diri kita tapi juga orang lain. Ya secara pragmatis orang jadi mengerti siapa diri kita ‘sebatas’ melihat media sosial kita dan ini jadi penting kalau kita sedang melamar pekerjaan, misalnya. Tapi perlu dibedakan yaa antara personal branding dengan ‘pencitraan.’ Kalau personal branding itu sebenarnya sudah ada di diri kita masing-masing tinggal bagaimana memaksimalkannya saja, jadi fokusnya di kompetensi, karakter dan jangka waktunya lama. Sedangkan pencitraan itu lebih ke dibuat-buat gitu, lebih parahnya orang itu hanya ingin dikenal citra baiknya saja padahal gak punya kompetensi dan ini biasanya hanya berlangsung sesaat.


Lalu, sudahkah kamu membangun personal branding di media sosialmu? Jika belum dan butuh referensi bacaan, buku ini aku rekomendasiin banget! Di buku ini, Sophia Mega bakal ngejelasin cara membangun personal branding yang kuat, baik di kehidupan online maupun tatap muka. Khusus di kehidupan online, penulis menekankan pentingnya manajemen diri saat menghadapi krisis bermedia sosial seperti self obsession, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan respon-respon netizen yang diluar kendali kita. Nah, semua itu dijelasin dengan sederhana plus ada gambar-gambar yang bikin pembaca jadi mudah memahaminya. 


Jadi, buku ini bakal membantu kita membangun personal branding yang “lo ngerti siapa gue” banget tanpa jadi selebgram. Sebab, sejatinya kita mampu menyampaikan value diri kita dengan efektif. 


“Personal branding bukan soal kita mengemas diri, tapi memaksimalkan karakter kita. Jadi apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita harus kita maksimalkan lagi. Sehingga apa yang ada dalam diri kita tersebut menjadi personal brand yang kuat. Sebenarnya setiap orang sudah memiliki personal brandnya sendiri, memiliki kompetensi, standar dan gaya yang membuat seseorang khas dan relevan terhadap orang lain.”


“Kompetensi diri atau skill menyampaikan nilai-nilai diri itu mudah dipelajari, tapi jika etikanya buruk maka akan susah diperbaiki. Etika yang buruk biasanya akan sering mematahkan kompetensi diri yang sudah baik. Ini berlaku baik di media online maupun dunia tatap muka. “



Rabu, 20 April 2022

REVIEW BUKU PEREMPUAN ULAMA DI ATAS PANGGUNG SEJARAH - K.H. HUSEIN MUHAMMAD


  

Judul Buku : Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah
Penulis : K.H. Husein Muhammad
Penerbit : IRCiSoD
Tebal :  235 halaman
Tahun Terbit : 2020
Kategori : Non-Fiksi, Agama
My Rated : 4,5/5



Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang akan membuka mata kita tentang eksistensi dan kontribusi nyata dari Perempuan Ulama yang selama ini mungkin masih tersisihkan di panggung sejarah peradaban Islam. Buku ini berjudul Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah karya K.H. Husein Muhammad.

#DESKRIPSI
Ada banyak perempuan ulama, cendekia, intelektual, dan pemilik pengetahuan Islam yang luas serta mendalam. Bahkan, mereka boleh jadi merupakan para pejuang keadilan dan kemanusiaan. Sayangnya, sejarah dan aktivitas keilmuan serta sosial mereka tidak banyak direkam dan diabadikan oleh para penulis buku-buku sejarah Islam, bahkan mereka cenderung dilupakan. 


Nah, buku ini merekam sejarah hidup dan perjalanan lengkap sekitar tiga puluh tokoh perempuan ulama dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Buku ini sangatlah penting untuk dihadirkan ke sidang pembaca agar publik mengetahui lebih jauh rekam jejak perjuangan kaum perempuan dengan kapasitas intelektual dan keilmuan serta peran sosial yang setara, bahkan sebagian lebih unggul daripada laki-laki. 


Inilah sebuah buku yang sangat istimewa, terlebih ia ditulis secara apik oleh K.H. Husein Muhammad, seorang cendekiawan muslim Tanah Air yang sudah sejak lama berkiprah dan berjuang untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan.


#ULASAN
Perempuan Ulama diatas Panggung Sejarah berisi uraian singkat dari tiga puluh tokoh yang menarik menurut penulis dari sekian banyak perempuan ulama. Selain itu, penulis juga mengisahkan perjuangan panjang kaum perempuan Indonesia untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017 merupakan momen bersejarah bagi gerakan perempuan Indonesia sekaligus cikal bakal kaum perempuan muslim Indonesia yang bekerjasama dengan laki-laki untuk menegakkan keadilan sosial tanpa diskriminasi. Kongres ini menghasilkan Ikrar Kebon Jambu yang intinya merupakan deklarasi tentang reeksistensi ulama perempuan. Ulama perempuan yang sesungguhnya telah eksis dan berperan aktif dalam berbagai ruang kehidupan, namun tersisihkan bahkan tenggelam dalam tumpukan produk-produk kebijakan politik patriarkisme.

Perjuangannya memang tidaklah mudah. Masalah utamanya terletak pada kita, masyarakat, budaya, tradisi, politik, instrumen-instrumen hukum, pandangan keagamaan, dan kebijakan lain dalam memberi ruang dan akses yang sama untuk laki-laki dan perempuan.

Melalui buku ini, penulis berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari perempuan ulama berperan penting dalam sejarah peradaban Islam. Kenyataan bahwa hari-hari ini dalam banyak hal, peran dan ruang bagi perempuan, apalagi perempuan ulama masih jauh dari kata adil, maka mengutip kalimat K.H. Husein Muhammad dalam buku ini, "Usaha usaha untuk menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat memang tidak boleh berhenti."

Apabila firman Tuhan dalam Al-Qur'an menyerukan keadilan dan baik laki-laki maupun perempuan berhak untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan pada nyatanya masih ada perempuan yang geraknya dibatasi hanya di dalam rumah, menunggu dan melayani, aktivitas intelektualnya dibatasi, tidak boleh menjadi pemimpin, belum lagi stigma 'liberal, sesat, dsb' yang tersemat apabila rasionalitas mereka berkembang. Maka, sudah semestinya tradisi dan ideologi patriarki seperti ini dikritisi dan diubah menjadi keadilan berdasarkan gender.

“Konservatisme dan pengulang-ulangan suatu pemikiran atau pemahaman keagamaan yang dilakukan dalam waktu yang panjang dan tanpa kritik, serta ditransfer melalui metode doktrinal, pada gilirannya akan melahirkan keyakinan bahwa produk pikiran yang diwariskan tersebut ialah kebenaran agama atau keyakinan itu sendiri beserta seluruh makna sakralitas dan universalitasnya. Maka, yang terjadi ialah universalisasi atas norma partikular dan partikularisasi norma universal. Keadaan ini sesungguhnya berpotensi menimbulkan problem serius dalam dinamika kebudayaan dan peradaban. Cara pandang konservatisme yang berlarut-larut ini berpotensi berkembang menjadi ekstrimisme.”


“Mereka (publik) berdalih dengan hadits Nabi Saw., “Aku tidak meninggalkan suatu 'fitnah' yang lebih membahayakan laki-laki selain perempuan.” Hadits ini dimaknai bahwa perempuan harus dikurung di dalam rumahnya agar tidak membikin kehancuran kaum laki-laki. Bukannya bermakna bahwa kalian harus menghormati kaum perempuan. Jangan mengganggu mereka. Jangan merendahkan mereka. Jangan melecehkan mereka. Sebab, jika kalian melakukannya, kalian akan merugi dan menjadi nista.“


“Feminis adalah orang yang memiliki kesadaran tentang adanya perendahan, diskriminasi, dan penindasan terhadap perempuan. Kesadaran ini kemudian ditindaklanjuti dengan upaya-upaya dan aksi untuk mengatasi problem tersebut. Seseorang dapat dikategorikan sebagai feminis, laki-laki maupun perempuan, selama ia memiliki kesadaran akan adanya diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan yang diakibatkan oleh berbagai hal, dan pada saat yang sama ia juga melakukan gerakan untuk mengeliminasi, bahkan menghapuskan penindasan tersebut.”



Sabtu, 15 Januari 2022

REVIEW BUKU 9 DARI NADIRA - LEILA S. CHUDORI

 

Judul Buku : 9 Dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG
Tebal :  270 halaman
Tahun Terbit : 2009
Kategori : Fiksi, Kumcer
My Rated : 4/5



Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas sebuah novel karya Leila S. Chudori yang ceritanya benar-benar menyesakkan. Judulnya 9 dari Nadira.

#DESKRIPSI
Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus - yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri - sungguh mengejutkan.

Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak ("Melukis Langit"); seorang wartawan ("Tasbih"); seorang kekasih ("Ciuman Terpanjang"); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya ("Kirana"),


#ULASAN

Karya ketiga dari Ibu Leila S. Chudori yang pernah kubaca. Kali ini judulnya 9 dari Nadira, berisi 9 cerpen yang setelah kubaca semuanya ternyata sebuah kesatuan kisah yang utuh. Meskipun ada part-part yang bisa berdiri sendiri. Alur ceritanya tidak linier dan jeda waktunya loncat-loncat cukup jauh. Tapi hebatnya sentuhan penulis, aku dibuat tersedot ke dalam momen-momen penting kehidupan Nadira.

Gaya bercerita dan plotnya menjadi keunikan dari buku ini. Pembaca dituntut menyusun keping-keping cerita hidup Nadira. Nadira sebagai poros yang merangkai tokoh-tokoh lainnya seperti Nina dan Arya sebagai dua kakaknya, Kemala sang ibu, Bram sang ayah, dan Utara Bayu sesosok lelaki yang mencintai Nadira dalam hening.

Ya, Nadira Suwandi namanya, tokoh utama yang kisahnya menimbulkan kesan menyesakkan. Seorang jurnalis muda dengan beban psikologis yang berat dirasanya selepas kematian sang ibu. Beban psikis ini yang kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak, wartawan, kekasih, istri dan akhirnya menjadi ibu. 

Membaca buku ini, pembaca disuguhkan konflik-konflik psikologis yang berat, baik tersirat maupun tersurat. Diantara 9 cerpen dalam buku ini, “Tasbih” menjadi favoritku. Ada part dimana Nadira mewawancarai Mr. X, tersangka kasus pembunuhan sadis, dikenal juga sebagai psikiater ternama. Disini, perasaan Nadira benar-benar diuji, dengan lihainya Mr. X ‘memaksa’ Nadira membuka kembali kamar gelap yang selama ini berusaha ia kunci rapat-rapat -tentang ibunya yang mati bunuh diri. Selain konflik psikologis, buku ini juga menyajikan tema-tema tentang jurnalisme, cinta, tradisi dan harga diri.

Isu-isu politis pun disisipkan secara tersirat dalam buku ini, seperti Petisi 50, demo mahasiswa ’66, Malari, tentang NKK/BKK, premanisme di era Orde Baru, mundurnya Presiden Gusdur, hingga isu seputar 9/11 serta wacana War on Terorism.

Ceritanya memang gelap, tapi justru gelap ini yang membuat cerita Nadira luar biasa. Setiap manusia pasti pernah salah dalam membuat keputusan, tapi itulah bagian dari pendewasaan. Dari situ kita belajar untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Dan terkait beban psikis yang berat, tidak ada orang yang ingin terus-menerus dalam posisi itu. Namun, bangkit dan sembuh dari keterpurukan memang bukan hal mudah, perlu waktu, penuh perjuangan dan mungkin perlu juga bantuan dari orang lain.
Beberapa quote tentang jurnalisme yang kusuka di buku ini:

“Ayah cuma mau menasihati, meski kau tak setuju dengan kebijakan politik pejabat yang kau wawancarai, kau harus tetap bersikap netral. Sebaliknya, kalau mewawancarai Cory Aquino, mentang-mentang perempuan jangan lantas jatuh sampai tak karuan. Dingin. Kau harus tetap dingin.” (79)

“Masyarakat wartawan, di mata Nadira adalah sebuah masyarakat yang selalu menuntut hal-hal yang besar, yang terbaik, terkadang muluk dan paradoksal. Sebuah masyarakat yang terkadang secara tidak sadar, merasa moralnya berada di atas apa yang disebut sebagai ‘masyarakat awam’.” (80)

“Lo, masalahnya dia itu narasumber. Bajingan atau pahlawan, kita harus tetap sopan dan bertugas mewawancarai.” (200)


Senin, 10 Januari 2022

REVIEW BUKU ARAH MUSIM - KURNIAWAN GUNADI

   

Judul Buku : Arah Musim
Penulis : Kurniawan Gunadi
Penerbit : Bentang
Tebal : 188 halaman
Tahun Terbit : 2019
Kategori : Fiksi, Novel
My Rated : 5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang berhasil menamparku berkali-kali, mengingatkan Kembali tentang pentingnya bersyukur dan semangat menjalani hidup. Buku ini berjudul Arah Musim karya Kurniawan Gunadi.

#DESKRIPSI
Tindakan-tindakan kecil kita di masa lalu telah mengubah banyak di kehidupan kita saat ini. Mungkin kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin kita telah melupakannya. Meski kemudian kita kebingungan karena tidak mampu memahami rentetan kejadian sebab dan akibat itu.

Kita sering gagal memahami bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah hal-hal terbaik yang bisa kita dapatkan. Kita sering salah memahami maksud-maksud tersembunyi yang Dia hadirkan dalam semua rentetan kejadian hidup yang amat berharga. Dia ingin mengajarkan kita sesuatu. Sesuatu yang sering kita tolak kehadirannya. Sesuatu yang barangkali menjadi doa-doa kita selama ini.

Tapi, kita tidak cukup sabar untuk melewati perjalanan ini, melewati musim-musim yang silih berganti.


#ULASAN

Dari cover bukunya saja sudah menarik, ternyata isinya juga menakjubkan.Tebalnya relatif tipis untuk sebuah novel, tapi isinya kujamin padat dan begizi. Buku ini terbagi dalam enam arah musim, masing-masing ada 15-20 chapter yang pendek-pendek, Yang unik dari novel ini, kita bisa memulai membaca dari halaman manapun dan meskipun nuansa islaminya kental, menurutku nilai-nilainya yang universal layak dibaca oleh siapapun.

Secara garis besar, novel ini mengangkat dinamika kehidupan keluarga, tapi eksplorasi dari Mas Gun luar biasa. Pembaca disuguhkan cerita yang cukup kompleks tentang roda kehidupan mulai dari kehamilan, kelahiran hingga kematian. Bagian favoritku, ketika si tokoh utama sedang dalam masa-masa Quarter Life Crisis. Ia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit berikut dengan asumsi-asumsi yang muncul, justru semakin membautnya rumit. Kemudian ia mulai sadar bahwa hidup tidak mungkin hanya berisi senang dan mudah, pasti ada masanya sedih dan sulit. Untuk itu kita diingatkan agar dalam menjalani kehidupan, perlu ruang untuk memaknai kesedihan, kegagalan dan kekecewaan.

“Suatu hal dalam hidup ini yang selalu sulit kita tahu adalah, kita diciptakan dengan peran. Kita ditempatkan di tempat terbaik sesuai potensi yang kita miliki. Jika sekarang kita kebingungan mau jadi apa, mau bagaimana, apa yang harus dilakukan, coba amati hidupmu sebelum-sebelum ini, perjalananmu yang mengantarmu sampai di titik ini.” (15)


Buku ini juga akan membuat pembacanya melakukan self-talk tentang musim-musim kehidupan yang telah dilewati. Seberapa sering kita salah memahami maksud tersembunyi dibalik ramahnya musim semi, teriknya musim kemarau, syahdunya musim gugur dan dinginnya musim hujan ? Seberapa sadarkah kita bahwa manusia memiliki batasan-batasan yang terkadang disangkal oleh ego kita ?

“Sebab, kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita. Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup.” (149)


Berdoa dan berserah setelah berusaha, sabar dan kuat dalam menghadapi masalah, bersyukur dan berlapang dada atas sesuatu yang terjadi. Merupakan prinsip-prinsip sederhana yang kadang masih susah diterapkan dalam menghadapi musim-musim kehidupan yang silih berganti. Mungkin itulah ‘visi’ dari buku ini. Mengingatkan pembacanya tentang sebaik apapun rencana manusia, tetaplah rencana-Nya yang terbaik.



 


Kamis, 06 Januari 2022

REVIEW BUKU MUSEUM MASA KECIL - AVIANTI ARMAND

 

Judul Buku : Museum Masa Kecil
Penulis : Avianti Armand
Penerbit : Gramedia
Tebal :  147 halaman
Tahun Terbit : 2018
Kategori : Fiksi, Puisi
My Rated : 3/5



Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas kumpulan puisi yang akan membawa kita bernostalgia dengan masa kecil kita. Buku ini judulnya Museum Masa Kecil karya Avianti Armand.

#DESKRIPSI
Museum Masa Kecil menyimpan dan menghadirkan "benda-benda" yang pernah tinggal atau sekadar lewat di masa kanak-kanak saya; seperti cerita-cerita sebelum tidur, kelas menggambar, perbincangan tentang jarak ke bulan, kartu pos, kaktus di lantai lima, buku alamat, bermain hujan, ketakutan menjadi tua, juga kematian.

Sebuah museum, buat saya, menyerupai peta bintang: artikel-artikel di dalamnya adalah konstelasi yang dipakai para pejalan jauh untuk mencapai satu tempat di muka bumi, di satu waktu. Tapi jika peta yang baik membawamu ke tujuan, museum yang baik akan membuatmu "tersesat".

#ULASAN

Museum Masa Kecil adalah buku kedua karya Avianti Armand yang aku baca setelah Buku Tentang Ruang. Buku ini berisi puisi-puisi yang singkat dan sederhana, tentang masa kecil penulis. Lewat puisi-puisi ini, penulis mengenang masa kecilnya dan barangkali pembaca juga akan merasakan nostalgia jika kebetulan memiliki kenangan yang mirip.
 

Diajak flashback ke masa kecil, membuatku menertawakan betapa naifnya masa kecilku dulu. Masa kecil yang penuh dengan imajinasi liar, kepolosan, dan haha hihi lainnya. Hmmm… jadi rindu masa kecil 😊


Nggak banyak yang mau aku ulas disini. Dari semua puisi di buku ini, aku akan hinghlight dua yang menarik:


Pertama, judulnya “Bermain Hujan”

Ketika sedang bermain hujan, aku menemukan sepasang tangan yang menggenggam tanganku. Kurasa, sudah saatnya pulang.


Kedua, judulnya “Malam”

Kata Ibuku:
Kehilangan adalah jarak yang terlalu jauh.


Well, buat kamu yang tertarik membaca puisi sembari flashback ke masa kecil, Museum Masa Kecil ini cocok dijadikan pilihan. Singkat, sederhana dan membangkitkan nostalgia masa kecil yang penuh kepolosan dan fantasi.  



Selasa, 04 Januari 2022

REVIEW BUKU MENCINTAI TUHAN, MENCINTAI KESETARAAN - KH. HUSEIN MUHAMMAD & MAMANG M. HAERUDIN

 

Judul Buku : Mencintai Tuhan Mencintai Kesetaraan
Penulis : KH. Husein Muhammad & Mamang Muhammad Haerudin
Penerbit : Quanta
Tebal : 224 halaman
Tahun Terbit : 2014
Kategori : Non-Fiksi, Motivasi-Agama
My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader !
Kali ini aku mau mengulas buku yang beberapa hari lalu aku beli di bazar buku murah. Menurutku aku sangat beruntung bisa membeli buku yang bagus ini dengan harga 20 ribu. Buku ini berjudul Mencintai Tuhan Mencintai Kesetaraan karya dari KH. Husein Muhammad & Mamang Muhammad Haerudin.



#DESKRIPSI

 
Hidup ini indah hanya jika kita saling mencintai, sebagaimana Allah mencintai semesta alam. Ibarat dua sisi mata uang, keberadaan perempuan dan laki-laki tak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan membutuhkan. Melalui Al- Qur’an, Allah menuntun manusia untuk saling kenal-mengenal (ta’aruf) untuk kebaikan.


Tetapi dalam keseharian kita masih melihat perempuan sering menerima perlakuan tidak adil. Kekerasan dalam rumah tangga, di jalan, di tempat-tempat umum, dan tindakan diskriminatif lainnya masih marak di mana-mana. Ini diakibatkan dari anggapan bahwa perempuan akalnya lemah, emosional, dekat dengan setan, dan lain-lain.


Buku Mencintai Tuhan, Mencintai Kesetaraan: Inspirasi dari Islam dan Perempuan, berisi kumpulan tulisan yang menginspirasi kita untuk mencintai Tuhan. Mustahil kita mencintai Tuhan tanpa mencintai kesetaraan. Kesetaraan itu berarti perempuan dan laki-laki saling melengkapi dan membutuhkan. Inilah wajah Islam yang ramah terhadap perempuan, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam tindakan.


Buku ini dibagi dalam tiga tema besar yang mencerahkan;
• Islam Rahmat, Islam Maslahat
• Semesta Islam dan Perempuan
• Senandung Doa Kesetaraan


#ULASAN

 
Dalam realita kehidupan, khususnya di bumi pertiwi ini, sering kita mendengar puja-puji terhadap perempuan. Misalnya, dalam hal bernegara ia disebut sebagai ‘tiang negara’ atau dalam keluarga ia dimuliakan dengan istilah ‘surga ada di telapak kaki ibu’. Namun, di lain sisi, ia juga direndahkan. Perempuan dianggap makhluk yang lemah, pengetahuannya rendah, tidak mampu menjadi pemimpin, sumber fitnah dan masih banyak stereotipe-stereotipe lainnya yang mengesankan perempuan itu rendah, manusia kelas dua, bahkan dalam banyak kasus seakan-akan ‘sah’ untuk di eksploitasi. 


Cara pandang yang ambigu dan paradoks terhadap perempuan ini bahkan memunculkan stereotipe yang menggelisahkan, yakni Islam dipandang sebagai agama yang mendiskriminasi hak dan keberadaan perempuan. Islam bagi sebagian kalangan dianggap lekat dengan budaya patriarki.


Sebagai seorang kiai yang dikenal konsisten mendakwahkan Islam dengan spirit cinta dan kesetaraan, KH. Husein Muhammad merasa terpanggil untuk memberikan penjelasan (tabayyun). Untuk itu, buku ini hadir sebagai alternatif pandangan keagamaan yang ramah, berkeadilan, dan penuh cinta. Buku ini berisi kumpulan tulisan KH. Husein Muhammad yang kemudian dikumpulkan oleh santrinya, Mamang Haerudin hingga menjadi sebuah buku yang mencerahkan.

“Kita kehilangan kritisisme bahwa perempuan adalah sumber kehidupan, dan bahwa kita semua lahir dan memperoleh kasih tulus dari perempuan. Kehidupan hari ini masih belum mau melihat dengan jujur bahwa perempuan juga memiliki potensi besar yang dapat merubah dunia.” (vii)

Buku setebal 200-an halaman ini menyuguhkan analisis wacana keagamaan yang ramah atas ketidakadilan dan ketertindasan yang dialami perempuan. Dengan bahasa yang mudah dipahami, KH. Husein Muhammad membedah bagaimana sistem ‘patriarki’ yang telah mengakar ini telah merugikan martabat perempuan. Menurut beliau, hal utama yang menyebabkan suburnya ‘patriarki’ ini yakni interpretasi terhadap teks-teks otoritatif yang tidak kontekstual yang kemudian dilestarikan secara turun-temurun sehingga akhirnya menguasai perspektif publik.


Menurut beliau, hal paling rasional yang bisa dilakukan yaitu dengan pengarusutamaan gender di segala bidang, terutama pendidikan. Karena dari pendidikan inilah, seseorang memiliki modal awal agar bisa merubah perspektif dan persepsinya agar terbebas dari tradisi bias gender dan patriarki. Selain itu, reinterpretasi dan rekontekstualisasi teks-teks agama juga penting dilakukan. Karena tak jarang, pandangan bias dan timpang gender ini juga akibat dari ketidakuniversalannya tafsir-tafsir teks agama. Sebagai orang yang beragama, tentu kita percaya bahwa agama merupakan rahmat dan bertujuan untuk kebaikan. Tuhan itu Maha Adil, maka apabila firman-Nya tidak melahirkan keadilan, pastilah bukan firman-Nya yang salah, tapi cara kita menginterpretasinya yang harus dikoreksi. Buku yang bagus dan membuatku tertarik membaca buku-buku lain dengan tema serupa -kesetaraan gender.

 
“Kemerdekaan perempuan adalah juga kemerdekaan bagi masyarakat manusia. Maka kemerdekaan bagi perempuan harus diperjuangkan oleh semua pihak, tanpa kenal lelah.” (37)