Kamis, 18 Maret 2021

REVIEW BUKU MAX HAVELAAR - MULTATULI

 


Judul Buku : Max Havelaar

Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)

Penerbit : Qanita

Tebal :  480 halaman

Tahun Terbit : 2014

Kategori : Fiksi, Sejarah

My Rated : 4,3 / 5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang disebut-sebut berperan penting pada awal kehancuran kolonialisme di Hindia Belanda. Ya, mungkin kita tidak asing dengan nama Eduard Douwes Dekker. Aku masih ingat waktu pelajaran sejarah di sekolah, cerita tentang Douwes Dekker ini cukup menarik karena ia adalah orang Belanda yang menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak, Banten, tetapi ia menulis buku yang justru mengungkap kebobrokan kolonialisme Belanda di tanah jajahannya. Dan kini terjemahan buku fenomenal itu ada di tanganku, tentunya aku senang sekali membacanya.


“Kisah yang membunuh kolonialisme.”

-Pramoedya Ananta Toer


Buku dengan judul Max Havelaar ini ditulis setelah selama 18 tahun ia mengabdi sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Terbit pertama kali pada tahun 1868 dengan nama pena Multatuli yang artinya 'aku menderita'. Dikemas dalam bentuk novel, tetapi penulis megakui bahwa isinya adalah fakta. Fakta tentang kekejaman pemerintah kolonial yang sewenang-wenang menyalahgunakan kekuasaan; menerapkan sistem tanam paksa yang membuat pribumi menderita, miskin, kelaparan, sakit-sakitan, ada yang tidak diberi upah, ada pula yang diberi upah tapi disunat oleh pejabatnya; merampas harta para pribumi; serta berbagai ketidakadilan, penindasan dan kebobrokan lainnya. Sementara para pejabat pribumi, seperti Bupati, bukannya membela rakyat yang jelas-jelas tertindas, justru memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri, bermental penjilat terhadap kekuasaan, menulis laporan kepada pemerintah yang dibuat-buat seolah semuanya damai dan aman-aman saja.

Kisah Max Havelaar dibuka dengan karakter seorang makelar kopi yang sukses di kota Amsterdam, yang bernama B. Droogstoppel. Suatu hari Droogstoppel  berjumpa dengan Mr. Sjaalman yang ternyata adalah sahabat kecilnya, tapi ia menghindarinya karena Sjaalman terlihat miskin sehingga dianggap tidak baik untuk kelangsungan bisnisnya. Namun, beberapa hari kemudian Mr. Sjaalman membawa tumpukan manuskrip ke rumah Droogstoppel untuk meminta diterbitkan menjadi buku. Droogstoppel awalnya tertarik karena banyak catatan tentang informasi perdagangan kopi di Hinida Belanda. Lalu Droogstoppel meminta bantuan kerabatnya untuk menyusun manuskrip itu mejadi buku dan ditemukanlah diantara tumpukan manuskrip itu, kisah-kisah kelam yang terjadi di Hindia nan jauh disana. 

Pembaca kemudian dibawa ke dalam kisah kehidupan Max Havelaar yang dipindahtugaskan dari daerah Natal, Sumatera ke daerah Lebak, Banten. Ia ditugaskan sebagai asisten residen, kemudian dalam sumpah jabatanya, ia bersumpah akan menegakkan keadilan. Semenjak itu ia dihadapkan pada dilema antara hati nuraninya dan prinsp pemerintah. Idealisme kemanusiaannya menjerit ketika melihat kemiskinan dan kelaparan para pribumi, tidak jarang ia menolong mereka padahal Havelaar pun hidupnya miskin. Bukan tanpa usaha, berkali-kali ia mencoba protes kepada residen ataupun bupati, hingga pada puncaknya ia memberanikan diri menyurati Residen Banten untuk menindaklanjuti Bupati Lebak dan menantunya karena diduga terlibat dalam pemerasan dan kesewenang-wenangan terhadap tenaga kerja rakyatnya. 


“Saya terjepit antara hati nurani dan prinsip pemerintah yang harus saya patuhi selama saya belum bebas dari jabatan saya.”

-Multatuli


Kisah Max Havelaar ini kemudian ditutup dengan surat pengunduran dirinya kepada Gubernur Jenderal karena tidak tahan lagi dengan ketidakadilan yang terjadi kepada pribumi dan kepada dirinya sendiri. Ia memilih mundur satu langkah untuk kemudian melompat tinggi dengan tulisannya. 


“Saya, yang malang dan tidak berdaya ini berdiri sendirian bersama keinginan saya untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan.”

-Multatuli


Bila kita tengok ke belakang, apa yang dicita-citakan Multatuli agar buku ini membuat ‘melek’ para petinggi di negeri Belanda nampaknya berhasil. Karena setelah buku ini terbit, mulai tumbuh kesadaran di kalangan politisi Belanda tentang kelakuan para pejabat mereka di Hindia yang tidak bisa disangkal lagi. Beberapa tahun kemudian, Belanda menerapkan kebijakan ‘politik etis’ yang dianggapnya sebagai balas budi atau usaha ‘membayar utang’ mereka kepada pribumi. Tetapi, kebijakan ini menjadi boomerang bagi mereka sebab salah satu program dalam politik etis yaitu pendidikan bagi elite pribumi melahirkan generasi yang mulai tersadar untuk merdeka dari penjajahan Belanda.

Max Havelaar memang ditulis berdasarkan pengalaman Douwes Dekker di Indonesia. Dalam buku ini ia menempatkan dirinya sebagai Mr. Sjaalman yang hidup sangat miskin ketika kembali ke Belanda, ia menulis buku dan mencari pihak-pihak yang bersedia menerbitkan bukunya, dari sinilah ia kemudian menulis buku Max Havelaar. Aku mengapresiasi sekali kerja keras pihak penerbit dalam menerjemahkan buku ini, memang tidaklah sempurna karena gaya bahasanya cukup berat dan memusingkan di beberapa bagian, terutama di awal-awal buku. Tetapi menurutku, pesan tentang humanisme, kesetaraan, keadilan dan kejujuran yang akan didapat oleh pembaca akan membekas dalam jiwa patriotismenya.


“Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.”

-John F. Kennedy


Sangat aku rekomendasikan untuk dibaca, tentunya untuk mengenal lebih dekat sosok Eduard Douwes Dekker -pahlawan dari kubu lawan- melalui karyanya. Selain itu, kita juga bisa melihat kenyataan bahwa ketertindasan pribumi di tanahnya sendiri tidak hanya disebabkan oleh kolonialisme Belanda, tetapi juga mental korup dan konservatif dari para pejabat pribumi itu sendiri. Sebaliknya, keinginan untuk terlepas dari ketertindasan tidak hanya datang dari pribumi, tapi juga dari empati orang-orang di pihak lawannya. 


“Aku akan dibaca! Ya, aku akan dibaca ! Aku akan dibaca oleh para Negarawan yang wajib memperhatikan tanda-tanda zaman, oleh para sastrawan yang juga harus mengintip buku yang menyatakan begitu banyak keburukan ini…”

-Multatuli


Rabu, 17 Maret 2021

REVIEW BUKU GADIS KRETEK - RATIH KUMALA

 

Cover Buku Gadis Kretek
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Gadis Kretek

Penulis : Ratih Kumala

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  275 halaman

Tahun Terbit : 2012

Kategori : Fiksi, Novel

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas novel tentang dunia per-kretek-an Indonesia, bisa dibilang pertama kalinya aku baca novel dengan tema ini. Gadis Kretek, sebuah judul yang menarik, diakui oleh Ratih Kumala ide dasarnya berasal dari akar keluarga mamanya. Dan seperti kita tahu, Ratih adalah istri dari Eka Kurniawan yang juga seorang penulis. Kalau Eka Kurniawan aku sudah beberapa kali membaca karyanya, sedangkan Gadis Kretek ini adalah awal perkenalanku dengan tulisan Ratih Kumala dan aku langsung dibuat terkejut sekaligus geleng-geleng -heran dengan plot twist novel ini.

Tanpa aba-aba terlebih dahulu, pembaca langsung dibawa ke situasi genting dimana Pak Raja (pemilik pabrik Kretek Djagad Raja, kretek nomor 1 di masanya, berpusat di Jakarta) sedang dalam kondisi sakit parah. Selayaknya orang yang hendak menemui ajal, dalam igauannya ia memanggil-manggil nama seseorang, tapi yang dipanggil bukan nama istri atau anaknya, melainkan ‘Jeng Yah’, seorang perempuan yang membuat istrinya cemburu dan ketiga anaknya bertanya-tanya. Siapakah Jeng Yah dalam kehidupan Pak Raja ?

Setelah mendapat sedikit petunjuk, ketiga anak Pak Raja meluncur ke daerah Jawa Tengah mencari sosok Jeng Yah, demi menuruti permintaan sang bapak. Misi mencari Jeng Yah ini bagaikan napak tilas karena baik bisnis Kretek Djagad Raja dan asal usul keluarga Pak Raja adalah dari Jawa Tengah. 


“Mengejutkan, penuh dengan detail yang kaya sampai kalimat terakhir. Tanpa terasa kita diajak oleh tiga generasi Indonesia mutakhir yang berusaha meluruskan penyelewengan sejarah oleh generasi yang bercerai-berai akibat ganasnya revolusi, politik dan kondisi sosial paling kontroversial di negeri ini lewat kretek, cinta, dan kasih tak sampai melalui ludah yang terasa manis. Semanis ludah Roro Mendut. Karya yang indah dan sayang untuk dilewatkan!”

-John De Rantau, Sutradara


Dari perjalanan ini, kita akan dibawa ke masa penjajahan Belanda, kemudian Jepang, pasca- Kemerdekaan, sampai pada peristiwa kelam dalam sejarah kita -Oktober 1965. Ceritanya mengalir begitu saja, dengan alur maju mundur tapi tidak membingungkan. Tidak sebatas kisah tentang cinta, tapi juga perkembangan, persaingan dan tetek bengek tentang dunia kretek, dinamika pembentukan jati diri masing-masing tokoh, tantangan kehidupan di zaman penjajahan, hingga prahara konstelasi politik & sosial tahun 1965.

Gadis Kretek memberi pesan tentang perlunya keuletan, kesabaran dan kemauan belajar yang tinggi untuk membangun sebuah perusahaan yang sukses. Bahwa ‘update’ terhadap perkembangan sosial – politik bisa mendatangkan peluang untuk meraih keuntungan. Namun, tetap harus waspada jika sewaktu-waktu ada perubahan lagi yang bisa berdampak buruk bagi usaha kita. Menarik dibaca, aku suka karena mengandung sisi historis tentang sesuatu yang awam bagiku -kretek, selain itu juga bumbu-bumbu ‘pedas’ tentang bagaimana konstelasi politik bisa berdampak signifikan terhadap kehidupan warga negara, bukan hanya soal bisnis, tapi juga soal cinta. Benar kata penulis, buku ini “Kaya akan aroma tembakau, sarat akan aroma cinta.”


“Kamu sudah memilih aku, berarti kamu menghargai aku sebegitu mahal, padahal aku ini bukan siapa-siapa. Aku harus bisa berdiri sendiri dulu dan membuktikan ke kamu kalau aku pun berharga.” 

-Ratih Kumala


REVIEW BUKU MALAM INI AKU AKAN TIDUR DI MATAMU - JOKO PINURBO

 

Cover Buku Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu
(Sumber : Gramedia)


Judul Buku : Malam Ini Aku Kan Tidur di Matamu

Penulis : Joko Pinurbo

Penerbit : Grasindo

Tebal :  140 halaman

Tahun Terbit : 2016

Kategori : Fiksi, Puisi

My Rated : 3,8/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku kumpulan puisi karya Joko Pinurbo berjudul Malam Ini Aku Kan Tidur di Matamu. Buku ini adalah buku keempat karya Jokpin yang pernah aku baca di IPUSNAS.

Rasa yang muncul masihlah sama ketika membaca puisi-puisi Jokpin lainnya, selalu kagum, terpukau dan menikmati kata-kata yang mengundang tawa maupun sedih. 


"Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan."

-Perjalanan Pulang, Joko Pinurbo


Di buku ini aku jumpai beberapa puisi pernah di muat di buku-buku sebelumnya, lalu ada pula puisi yang lumayan panjang. Menurutku lebih mudah memahami puisi-puisi yang pendek. Dan dari yang terpendek, ada yang hanya satu kalimat saja. Iya, satu kalimat !


“Ayo, buku, baca mataku!”

-Duel, Joko Pinurbo


Sedangkan puisi yang Panjang, bahkan sampai beberapa halaman itu serasa seperti membaca kisah tapi entah mengapa agak sulit meraba maknanya dan kurang menohok penyampaiannya. 

Terlepas dari itu, aku tetap suka buku ini, dengan gaya penulisan yang khas dari Jokpin sekali lagi menegaskan kepekaannya sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar, baik itu benda maupun peristiwa. 


“Saya datang dari negeri yang pemimpin

Dan rakyatnya telah menyerupai boneka.

Saya tidak betah lagi tinggal disana

Karena saya ingin tetap menjadi manusia.”

-Boneka 1, Joko Pinurbo


REVIEW BUKU SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUISI - JOKO PINURBO

 

Cover Buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
(Sumber : Ipusnas)

Judul Buku : Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Penulis : Joko Pinurbo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  208 halaman

Tahun Terbit : 2016

Kategori : Fiksi, Puisi

My Rated : 3,8/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku kumpulan puisi karya Joko Pinurbo berjudul ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puisi’. Buku ini adalah buku ketiga karya Jokpin yang pernah aku baca di IPUSNAS. Setelah sebelumnya dibawa masuk ke jalinan cinta kasih antara ibu dan anak-anaknya dalam buku ‘Kekasihku’, lalu mendapat banyak pesan kritik sosial dengan kata-kata yang sederhana namun menggelitik dan membuat ngikik dalam buku ‘Perjamuan Khong Guan’, sampailah aku dibuat tertegun dan khidmat menunaikan ibadah membaca puisi-puisi dalam buku ini.


"Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku."

-Joko Pinurbo


Aku termasuk pengagum tulisan-tulisan Jokpin yang khas dengan kata-kata terangkai indah, sederhana dan bermakna mendalam. Dibaca sekilas bisa paham, namun ada juga yang perlu dibaca berulang, lebih teliti dan disertai perenungan untuk menyerap isinya.

Dan untuk ulasan kali ini aku tak mau panjang lebar, karena memang benar-benar dibuat khidmat dalam membaca, wkwk. Dari semua puisi ada beberapa yang paling aku suka, yaitu :


# MALAM PERTAMA #

Malam pertama tidur bersamamu, buku, kulacak lagi
paragraf-paragraf  cinta ibuku di rimba kata-katamu.


Apakah kata-kata mempunyai ibu ?
Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu.
Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa.
Aku gemetar. Tubuhmu makin cerdas
Dan berbahaya. Ibu kata, temanilah aku.



# SUDAH SAATNYA #

Sudah saatnya jiwa yang janggal diselidiki.
Kita konsultasi ke pakar psikologi:
“Saya bingung. Saya sering mengalami situasi
di mana saya tak tahu pasti apakah sedang berada
di masa lalu, masa depan, atau masa kini.

Tapi saya masih waras. Sungguh.
Awas kalau berani menganggap saya gila.”
Jika ia memang ahli, seharusnya ia mengerti:
ya, begitulah jika tubuh kena teluh puisi.”



# SURAT MALAM UNTUK PASKA #

Kau memang suka menyimak hujan.
Bahkan dalam kepalamu ada hujan
yang meracau sepanjang malam.

Itulah sebabnya, kalau aku pergi-pergi belanja
dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang,
“Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius
maupun yang ringan. Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur
di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau lebih suka tidur di antara buku-buku
dan berkas-berkas yang berantakan.
Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau
yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

 


Selasa, 16 Maret 2021

REVIEW BUKU PERJAMUAN KHONG GUAN - JOKO PINURBO

 

Cover Buku Perjamuan Khong Guan
(Sumber : Goodreads)

Judul Buku : Perjamuan Khong Guan

Penulis : Joko Pinurbo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  134 halaman

Tahun Terbit : 2020

Kategori : Fiksi, Puisi

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas kumpulan puisi karya Joko Pinurbo yang berjudul ‘Perjamuan Khong Guan’. Ini adalah buku kedua karya Jokpin yang pernah aku baca, setelah sebelumnya menikmati rangkaian kata yang membawaku ke hubungan paling halus antara seorang ibu dan anak-anaknya.

Apa yang membuatku tertarik membaca buku ini ? Jujur saja karena covernya yang unik haha. Kaleng biskuit yang familiar bagi orang Indonesia terutama ketika menjelang lebaran yang isinya terkadang menipu, bukannya biskuit tapi malah kerupuk. Dan sesuai dengan judulnya, di buku ini ada bagian khusus yang terdiri dari 4 judul puisi bertema dunia Kaleng Khong Guan.

Masih dengan gaya yang sama, Jokpin dalam buku ini selain menyuguhkan puisi-puisi yang renyah, sederhana, lucu dan terkadang menyedihkan, tak ketinggalan pula Jokpin menyisipkan pesan-pesan yang berisi kritik sosial.

Dari mulai masalah demokrasi,

Di balik demokrasi
yang boros dan brutal
ada pesta pembagian doa
untuk mengenang
para petugas yang lembur
dan mati di tempat
perniagaan suara
dengan honor tak seberapa
.

-Joko Pinurbo


Lalu menyinggung juga tentang percintaan,

Kamu yakin
yang kamu minum
dari cangkir cantik itu
kopi?

Itu racun rindu
yang mengandung aku.

-Joko Pinurbo


Kemudian masuk ke dalam spiritualitas yang membuatku merenung,

Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya nomor yang tersisa
ialah nomorMu.

Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa
.

-Joko Pinurbo


Sampai hal yang menyangkut kehidupan beragama di tanah air,

Rengginang bersorak
ketika agama-agama menyatu
dalam kaleng Khong Guan

-Joko Pinurbo


So, buku puisi terbitan terbaru dari Jokpin ini aku rekomendasikan untuk dibaca, diresapi dan dijadikan teman bacaan yang menyenangkan.


REVIEW BUKU KEKASIHKU - JOKO PINURBO

 

Cover Buku Kekasihku
(Sumber : Goodreads)

Judul Buku : Kekasihku

Penulis : Joko Pinurbo

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal :  80 halaman

Tahun Terbit : 2004

Kategori : Fiksi, Puisi

My Rated : 3/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas kumpulan puisi pertama karya Joko Pinurbo yang penah aku baca di IPUSNAS. Judulnya ‘Kekasihku’, apakah berisi kata-kata puitis cinta muda-mudi ? Aku awalnya menduga seperti itu, tetapi ternyata tidak. Setelah aku membacanya, aku dibawa masuk ke jalinan cinta dan kasih sayang teramat dalam antara ibu dan anak-anaknya.


“Buku ini berisi puisi-puisi yang mengungkap hubungan seorang ibu dengan anaknya. Joko, dengan kepiawainnya merangkai kata, membawa pembaca ke hubungan paling halus antara seorang ibu dan anak-anaknya.”

-Blurb Kekasihku, Joko Pinurbo


Dari semua puisi di buku ini, pembaca tidak hanya diacak-acak perasaan cintanya, tetapi juga dibuat tertawa renyah, kadangkala sedih ataupun terharu.  Sentuhan-sentuhan jenaka yang disisipkan membuat puisi yang tadinya sudah segar mejadi lebih super segar wkwk. Dan aku setuju dengan pandangan Karlina Supelli dalam pengantarnya di buku ini, 


"...dalam senyap Joko Pinurbo juga ada kejenakaan ...Sekejap saja; karena kemudian kejenakaan itu menelan kita dalam gelak kita sendiri"

-Karlina Supelli


Dari puluhan puisi di buku ini, salah satu yang paling membekas bagiku yaitu puisi berjudul ‘Dengan Kata Lain’. Puisi ini mengisahkan seorang pemuda yang dalam perjalanan pulang kampung hendak naik ojek. Ia sempat sungkan ketika mengetahui kalau tukang ojek itu adalah guru sejarahnya dulu. Dan momen sentimentil itu terjadi ketika ia sampai di rumah. Saat ingin membayar jasa ojeknya, guru itu pun pergi begitu saja. Lalu…


Tak ada angin tak ada hujan, ayah tiba-tiba berseru padaku :

“Dengan kata lain, kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.” 

-Joko Pinurbo


Well, Joko Pinurbo memang salah satu penyair yang dikagumi para penikmat puisi di tanah air. Karya-karyanya tak jarang mendapat apresiasi yang bagus dari pembacanya. Tak terkecuali dalam ‘Kekasihku’ ini yang menurutku memperlihatkan kepekaan Jokpin akan lingkungan sekitar, entah itu berupa benda atau pun peristiwa. Dari hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian, sampai hal-hal filosofis yang menyisakan makna mendalam tentang kehidupan.


Senin, 15 Maret 2021

REVIEW BUKU NYANYIAN AKAR RUMPUT - WIJI THUKUL

Cover Buku Nyanyian Akar Rumput
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Nyanyian Akar Rumput

Penulis : Wiji Thukul

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  248 halaman

Tahun Terbit : 2014

Kategori : Fiksi, Kumpulan Puisi

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku kumpulan puisi paling fenomenal di Indonesia. Nyanyian Akar Rumput, karya seorang aktivis yang mati secara misterius di zaman Orde Baru, Wiji Thukul.

Dalam buku ini, puisi-puisi Wiji Thukul dibagi menjadi 7 bagian :

  1. Lingkungan Kita si Mulut Besar (48 puisi)
  2. Ketika Rakyat Pergi (18 puisi)
  3. Darman dan Lain-Lain (16 puisi)
  4. Puisi Pelo (29 puisi)
  5. Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi)
  6. Yang Tersisih (9 puisi)
  7. Para Jenderal Marah-Marah (23 puisi)

Berbicara tentang Wiji Thukul, tentu kita tahu kalau beliau adalah sosok penyair besar Indonesia yang terkenal dengan sajak-sajaknya yang bertema tentang kerakyatan. Mayoritas puisi-puisi Wiji Thukul merupakan cerminan sejarah tentang kejinya rezim pemerintahan pada waktu itu. Masalah-masalah sosial seperti penderitaan rakyat, penindasan, kemiskinan dan ketidakadilan, diolah dengan ciamik menjadi puisi-puisi yang jujur, berani dan tak jarang memang sengaja dibuat provokatif!

Selain sebagai penyair, Wiji Thukul juga terlibat sebagai aktivis yang menyuarakan pendapatnya melalui karya-karya sastra. Cukup dengan membaca sajak-sajak ini kita bisa tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Wiji Thukul.

Menurutku puisi-puisi WIji Thukul ini haruslah menjadi bahan pembelajaran karena memiliki kandungan nilai-nilai sejarah, kemanusiaan, dan kebangsaan yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan saat ini, khususnya bagi para generasi penerus bangsa, generasi muda yang haus akan kejayaan bangsanya.


Jika kau tak sanggup lagi bertanya

kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu

mulutmu tak bisa mengucapkan

apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu

dibuang, dipungut

atau dicabut seperti rumput

atau menganga

diisi apa saja menerima

tak bisa ambil bagian

jika kau tak berani lagi bertanya

kita akan jadi korban keputusan-keputusan

jangan kaupenjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan

kita akan memperpanjang barisan perbudakan


-Wiji Thukul


Lewat kata-katanya yang sederhana, menyentuh dan berani, Wiji Thukul berusaha menyuarakan ‘nyanyian’ dari rakyat kecil, rakyat akar rumput, rakyat non-elite. 

Sangat menikmati membaca buku ini dan satu kata yang selalu terngiang dalam jiwa jika mendengar wiji thukul : LAWAN !


Jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat bersembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa 

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!


-Wiji Thukul