Kamis, 04 Maret 2021

REVIEW BUKU LEIDEN IS LIJDEN - DEA TANTYO

 

Cover Buku Leiden is Lijden
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Leiden Is Lijden

Penulis : Dea Tantyo

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tebal : 232 halaman

Tahun Terbit : 2017

Kategori : Non-Fiksi, Kepemimpinan, Motivasi

My Rated : 5/5


Hallo Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku bertema kepemimpinan yang pernah aku baca di IPUSNAS. Judulnya Leiden Is Lijden : Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepimpinan, dan Air Mata Keteladanan Founding Fathers. Tertarik baca buku ini karena ingin mengambil pelajaran dari pengalaman hebat para Founding Fathers Indonesia. Oke langsung saja...

Buku yang luar biasa dan inspiratif. Baru membaca di awal-awal buku ini saja sudah bikin terharu, bangga dan kagum dengan para founding dathers dan founding mothers Indonesia. Tidak hanya berfokus pada tokoh-tokoh lokal, Dea Tantyo juga mengambil kisah dan kepribadian yang inspiratif dari para pemimpin di berbagai belahan dunia.

Di buku ini kita akan bertemu dengan berbagai tokoh seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Hamka, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Soe Hok Gie, Gandhi, Nelson Mandela, Martin Luther King, Marcus Cicero, Tan Malaka, Jenderal Soedirman, dan masih banyak lagi.

Pastinya buku ini akan memotivasi pembaca untuk menemukan dan membangkitkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Selain itu, buku ini juga bisa membuat kita lebih mencintai Indonesia, karena kita diingatkan kembali tentang bagaimana para pahlawan, pemuda, pemimpin, berjuang dengan memilih untuk meninggalkan comfort zone mereka dan memilih untuk mengabdikan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia.


The servent leader seperti tentara yang gagah di medan perang, “He fight is not because he hates what in front of him, but he loves what is behind him.”

-Dea Tantyo


Leiden is Lijden, memimpin berarti menempuh jalan menderita. Salah satu bagian yang aku suka, karena menurutku merupakan contoh konkrit dari prinsip ‘leiden is lijden’ adalah cerita tentang Haji Agus Salim -The Grand Old Man bangsa Indonesia. Bagi Agus Salim, penderitaan bukanlah keterpaksaan, melainkan PILIHAN. Ia lebih memilih keluar dari PID (waktu itu ia sempat menjadi agen intelnya Belanda, bayarannya luar biasa banyak) dan bergabung dengan SI (Sarekat Islam) untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kelak, ia dikenal sebagai ‘Singa Podium’, sang peluru diplomasi, menguasai sembilan bahasa dengan fasih, tidak berkompromi dengan kolonial, inspirator yang menggalang dukungan ‘de jure’ dari negara-negara Timur Tengah saat awal-awal kemerdekaan Indonesia.

Tuhan tak pernah keliru menyematkan kemuliaan, mereka yang mengabdikan diri untuk perjuangan akan memperoleh kekayaan yang tak kasat mata oleh orang lain, yang nampak mungkin bayangan penderitaan, terseok-seok oleh kehidupan, tapi sejatinya mereka tengah menikmati alam kemerdekaan dalam jiwanya. Betul kata Pram, 


“Kalau mati, matilah dengan berani. Kalau hidup, hiduplah dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, setiap bangsa asing bisa jajah kita”


Buku ini dibagi menjadi 15 bab, diawali dengan membangun ‘Leadership Mentality’ sampai kutipan-kutipan motivational dari tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Hatta. Buku ini aku rekomendasikan untuk dibaca sekali seumur hidup, kenapa ? Karena bagus banget.


“Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat Anda penuh keyakinan berani memimpin diri Anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu Anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan Anda.”

-Dea Tantyo

REVIEW BUKU TRAUMA - BOY CANDRA

 


Judul Buku : Trauma

Penulis : Boy Candra

Penerbit : Media Kita

Tebal :  143 halaman

Tahun Terbit : 2020

Kategori : Fiksi, Novel

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku terbaru karya Boy Candra yang berjudul Trauma. Akhir tahun 2020 kujalani dengan perjalanan dari kos ke rumah, berteduh di minimarket, sampai dirumah membaca novel Trauma karya Boy Candra ini lalu tidur selama setahun. Menikmati setengah novel ini dipenghujung tahun dan setengah sisanya di awal tahun. 

Novel ini menceritakan kehidupan seorang gadis bernama Kimara yang berprofesi sebagai penulis novel. Di usianya yang masih muda, Kimara termasuk penulis yang cukup produktif. Namun, sebagaimana manusia biasa, Kimara yang fasih menuliskan motivasi dalam buku-bukunya, tak lepas juga dari luka derita kehidupan.

Di awal novel ini digambarkan Kimara memiliki beban yang memenuhi kepalanya, yaitu tuntutan dari Ibunya untuk segera menikah. Terlepas dari beberapa hal, ada satu hal yang ia rasakan mengganjal dirinya, rasa trauma. Kimara memiliki trauma masa lalu mengenai lelaki di dalam sosok ayahnya sendiri. 

Selain cerita tentang ayahnya, ada juga cerita tentang lima lelaki yang pernah singgah di masa lalu Kimara. Dari masing-masing lelaki ini, Kimara mendapat kepahitan dengan beragam varian. Hal ini berujung dengan ketidakberanian Kimara untuk membuka hatinya lagi, takut jatuh pada orang yang tidak tepat dan berakhir sia-sia. 

Trauma dari pengalaman hidup ini meninggalkan derita yang tak mudah diobati, hingga Kimara sampai pada satu kesimpulan bahwa tidak ada laki-laki yang baik di bumi. Semua laki-laki sama buruknya.

Cerita yang diangkat oleh Bang Boy ini bisa jadi relate di kehidupan nyata, seperti masalah percintaan dengan sang mantan, seorang anak yang merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri dan penulis dengan berbagai permasalahan di dunia kepenulisan. Bahasa yang digunakan mudah dipahami pembaca, alurnya juga hidup dan bikin penasaran buat lanjut membaca. Tapi sayang, endingnya menggantung.

Dari novel ini pembaca akan belajar jika menyandarkan harapan yang tinggi terhadap seseorang maka bersiaplah dengan risiko jatuh teramat dalam. Dari kisah hidup Kimara akan memotivasi pembaca untuk memaksimalkan potensi terbaik yang kita miliki. 

Selain itu, pembaca juga akan mengetahui sisi lain yang mungkin jarang terpublikasi tentang dunia penerbitan buku dari percakapan antara Kimara dengan editor, bagian pemasaran dan penulis buku idolanya. 


"Manusia memang sering merindukan hal-hal yang sudah lama tertinggal dan tak bersama mereka lagi"

-Boy Candra

REVIEW BUKU WARGA FARMASI HARUS SUKSES - APOTEKEROKE

 

Cover Buku Warga Farmasi Harus Sukses!
(Sumber : Ipusnas)


Judul Buku : Warga Farmasi Harus Sukses !

Penulis : Apoteker Oke

Penerbit : Garuda Mas Sejahtera

Tebal :  200 halaman

Tahun Terbit : 2018

Kategori : Non-Fiksi, Motivasi

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku tentang farmasi. Scroll-scroll beranda Ipusnas, tertarik dengan buku ini. Bisa dibilang ini buku dengan tema farmasi pertama yang aku baca di IPUSNAS. Yah, sebagai mahasiswa farmasi bukannya enggak berminat dengan bacaan bertema farmasi, tapi karena hampir tiap kuliah pasti membahas bidang farmasi, jadi diluar perkuliahan aku lebih tertarik baca-baca sejarah, novel, puisi, self improvement, dll.  

Dari covernya, tulisan ‘Warga Farmasi Harus Sukses’ menurutku memiliki dua tafsiran. Pertama, sebagai sebuah motivasi bagi para calon farmasis untuk tetap semangat menjalani proses, memang tidak mudah tetapi percayalah bahwa hasil tidak akan menghianati proses.

Kedua, sebagai sebuah gugatan terhadap kondisi dunia farmasi di Indonesia. Peran farmasis di Indonesia masih terbatas sehingga keberadaan dan kemanfaatan profesi masih samar di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kewajiban dalam undang-undang bahwa Apoteker harus berperan banyak dalam pelayanan kesehatan nasional. Inilah yang menjadi salah satu latar belakang kenapa warga farmasi menyuarakan dibahasnya RUU-Kefarmasian di DPR yang perjalanannya sudah sejak 2015, beberapa kali dikecewakan, tahun ini dikeluarkan dari prolegnas 2020, eh tahun depannya juga tidak masuk ke prolegnas prioritas ! Judul buku ini seakan berkata, ‘meskipun dunia farmasi di Indonesia masih banyak permasalahan, kamu berhak untuk sukses !’

Sayang sekali, baru dibagian awal aku sudah kecewa dengan buku ini. Betul, bahwa buku ini bertujuan memotivasi warga farmasi dalam mencapai kesuksesan. Tetapi, penulis memaksakan standar kesuksesan seseorang. Ukuran sukses menurut penulis ada tiga, meliputi sukses karir, sukses sosial dan sukses iman yang berujung pada kebahagiaan. Sukses terdiri dari tiga unsur itu yang saling berhubungan, jika hanya satu yang tercapai maka belum bisa dikatakan sukses. Setuju, tapi tidak semua orang punya standar seperti itu. 

Terlepas dari kekecewaan diatas, secara keseluruhan buku ini cocok dibaca untuk para siswa, mahasiswa, maupun yang sudah terjun dalam dunia kerja kefarmasian. Pembaca akan mendapatkan sudut pandang dari penulis, yang juga seorang apoteker, tentang menghadapi berbagai tantangan hingga lulus menjadi apoteker. Dalam buku ini juga dibahas masalah yang mungkin dialami beberapa mahasiswa yang ‘menyesal’ mengambil jurusan farmasi, yaitu ‘salah pilih jurusan’. Penulis memberikan pandangannya kemudian diakhiri dengan pertanyaan, Tak maukah kau menjadi bagian dari kemajuan kesehatan masyarakat di negerimu sendiri ? Masihkah kau menolak mengemban tugas kefarmasian yang sedemikian rupa ? Membaca bagian ini mengingatkanku dengan kalimat dari salah satu dosenku di kampus, 


‘Kalian mungkin salah jurusan, tetapi percayalah kalian tidak salah masa depan !’

-Novi Ayuwardani, M.Sc., Apt.


Selain itu, bagian lain yang aku suka dari buku ini yaitu pesan penulis kepada farmasis agar senantiasa berpeang pada sumpah profesi, kode etik, dan bekerja dengan tanggungjawab. Pergunakan ilmu farmasi untuk jalan kebaikan, karena sejatinya ilmu farmasi sangat bisa digunakan untuk kejahatan, untuk itulah pentingnya menyandingkan ilmu farmasi dengan ilmu agama. 


“Kehidupan warga farmasi memang berat. Namun seberat apapun, pasti ada jalan keluarnya. Kita hanya perlu belajar lebih banyak”
-ApotekerOke


Rabu, 03 Maret 2021

REVIEW BUKU CINTA TAK ADA MATI - EKA KURNIAWAN

 

Cover Buku Cinta Tak Ada Mati
(Sumber : Gramedia)

Judul Buku : Cinta Tak Ada Mati

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  153 halaman

Tahun Terbit : 2018

Kategori : Fiksi, Kumpulan Cerpen

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku ke-4 karya Eka Kurniawan yang pernah aku baca. Judulnya Cinta Tak Ada Mati, buku ini aku baca di IPUSNAS, beruntung, karena tidak perlu mengantre.

Cinta Tak Ada Mati adalah kumpulan cerpen karangan Eka Kurniawan yang berisi 13 judul cerpen. Semua cerpen ini penha terbit di berbagai media seperti Tempo, Media Indonesia, Kompas, dan lain-lain. Ada pula cerpen yang terbit di Jurnal Cerpen Indonesia, judul cerpennya ‘Bau Busuk.’ Dari ke-13 judul cerpen, ada tiga yang menjadi favoritku, yaitu ‘Bau Busuk’, ‘Kutukan Dapur’ dan ‘Mata Gelap’.

‘Bau Busuk’ ini paling unik dari cerpen yang lain, karena Eka menuliskan satu kalimat yang sangat panjang dalam sembilan halaman. Bermula dari “Bau busuk menyeruak dari jalan-jalan dan lorong-lorong…” berlanjut dengan mulusnya sampai sembilan halaman tanpa titik, mengisahkan sebuah peristiwa pembantaian yang tragis tak terlupakan dan kemudian diakhiri dengan bernas,


“…bahwa kami orang-orang di Halimunda tak peduli berapa mayat pun akan kalian bunuh dan sehebat apa pun baunya karena sejarah telah membuat kami tahan terhadap horor macam apa pun dan kami bahkan terbiasa melupakannya dengan cepat karena manusia pada akhirnya mati dan mayat pada akhirnya menyebarkan bau busuk, dan kami tetap membaca koran dan minum kopi dan bermain sepakbola serta membuat anak, hidup berbahagia di tengah bau busuk, jika kau pikir udara semacam ini hendak kau namai sebagai bau busuk, sambil tetap memelihara kesalehan kami.” 

-Eka Kurniawan


Pada cerpen ‘Kutukan Dapur’, Eka menggambarkan tokoh perempuan yang ahli dalam meracik masakan bernama Maharani sebagai sosok yang kesehariannya terpenjara antara dapur dan tempat tidur. Berbekal pengetahuan tentang makanan, penguasaan dapur dan terinspirasi dari kisah ‘heroik’ Diah Ayu yang dikisahkan pernah melakukan perlawanan dari dapur terhadap orang Belanda pada 1878, ia kemudian tersadarkan bahwa dapur bukan hanya ruangan terkutuk. Tapi, dari dapur ia bisa melakukan perlawanan, pemberontakan terhadap ‘budaya’ yang sering menjadikan dapur sebagai penjara kutukan bagi perempuan sehingga tidak dapat berkeasi di ruang publik. 


“…dirinya tinggal di negeri yang telah diciptakan Tuhan sebagai surga bagi segala yang tumbuh. Dan segala yang tumbuh, hampir bisa dimakan. Kukatakan hampir, karena beberapa bisa bikin kau sekarat jika memakannya, tapi bikin kau hidup jika kau memakannya dalam keadaan sekarat. Itu rahasia-rahasia yang paling sulit, hanya dikenali jika kau telah mengenalnya selama berabad-abad, diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.”

-Eka Kurniawan


Lalu untuk cerpen 'Mata Gelap' ini berbau satire terhadap ‘suatu hal’ atau ‘sesiapa’ yang begitu ditakuti oleh ‘Jin Berkepala Tujuh’ -begitu Eka menyebutnya- yang berkuasa di suatu negeri. ‘Suatu hal’ atau ‘sesiapa’ itu tercermin pada sosok lelaki yang pada mata, telinga, hidung, mulut, kaki, tangan, bahkan suara perutnya pun dianggap ‘membahayakan’ sehingga harus dilenyapkan sedemikian rupa. Sudah lenyap pun, masih belum puas, sudah jadi ‘hantu’ pun masih diburu. Menurut kalian, lelaki ini menggambarkan ‘Apa’ atau ‘Siapa’ ???

Semua cerpennya menarik, tema-tema yang berbeda membuat imajinasiku melompat-lompat dari satu ‘dunia’ ke ‘dunia’ lain wkwk. Intinya, selalu ada pesan mendalam entah itu tentang sejarah atau pun kehidupan sehari-hari yang harus ditelisik dulu dalam tiap kalimat yang ditulis Eka Kurniawan ini. Maka, tidaklah heran kalau nama Eka Kurniawan pernah dinobatkan sebagai salah satu Global Thinkers tahun 2015 oleh Jurnal Foreign Policy atas pencapaiannya meletakkan kembali sastra Indonesia dalam peta sastra dunia !


“Selalulah berpikir sebagai diri yang lain. Ketika kau menyabet, renungkanlah kau disabet dengan cara yang sama,”

-Eka Kurniawan


REVIEW BUKU MATINYA PENDIDIKAN (The End of Education) : REDEFINISI NILAI-NILAI SEKOLAH - NEIL POSTMAN

 


Judul Buku : Matinya Pendidikan

Penulis : Neil Postman

Penerbit : Immortal X Octopus

Tebal :  294 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Social Science

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang bertema tentang pendidikan dan dinamikanya dimasa saat ini. Buku Ini pertama kali terbit di Amerika pada tahun 1995 dengan judul The End of Education. Neil Postman memandang sekolah kini kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan, termasuk dengan otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya. Bahkan menurut Postman, sekolah lebih mirip dengan kerangkeng penjara di mana para siswa dipaksa tidak bisa menelisik cahaya alternatif. Peristiwa-peristiwa seperti guru yang marah jika dikritik, menolak jika ada usulan, membentak jika ada kesalahan, bahkan memukul. Situasi semacam ini tentu dapat menimbulkan resistensi dari para siswa itu sendiri.

Implikasinya luas, bisa-bisa berangkat ke sekolah menjadi beban berat bagi siswa karena sesampainya di sekolah tidak hanya pelajaran yang sangat banyak disesakkan ke otak, tapi kesadarannya pun dipacu lewat pola-pola ancaman, hukuman dan keresahan, sehingga sekolah seakan kehilangan rohnya sebagai wadah aktualisasi pemikiran, ekspresi dan kenyamanan dalam belajar.


"Pendidikan harus dilakukan tidak sekedar mengajarkan apa yang ada, tetapi justru mempertanyakan kenapa semua itu ada"
-Neil Postman


Permasalahan dalam pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah, tetapi juga di luar dinding sekolah. Seperti dunia politik menjadi pendidik yang baik tentang perebutan kuasa, dan televisi yang menjadi guru terbaik konsumerisme. Kebanyakan persoalan pendidikan yang sangat menyakitkan dan menyedihkan itu bisa diperbaiki apabila kita mengetahui bagaimana seharusnya menyekolahkan para kaum muda kita. Untuk itu Postman yang merupakan seorang penulis, pendidik, ahli teori media dan kritikus budaya yang juga pernah merasakan menjadi seorang guru ini mencoba menjelaskan dan menggali narasi-narasi terbaiknya yang bisa memberikan tujuan serius bagi proses pendidikan sekolah yang akan menyumbang dimensi spiritual dan intelektual yang mendalam bagi proses belajar-mengajar.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian, yang mana di bagian kedua menjelaskan tingkat-tingkat spesifikasi dari narasi yang telah dipaparkan di bagian pertama, agar narasi-narasi tersebut tidak nampak abstrak, melangit dan sulit diterapkan.

Dibagian pertama, Postman banyak memaparkan bagaimana tuhan-tuhan (tuhan di sini tentu bukan dalam artian tuhan sesembahan, tetapi tuhan yang dimaksud Postman adalah nama dari sebuah narasi besar, sesuatu yang memiliki kredibilitas, kompleksitas dan kekuatan simbolis yang akan menjadikan seseorang mampu mengatur orang-orang di sekelilingnya) dari luar dinding sekolah memiliki andil dalam 'mencemari' dunia pendidikan. Tuhan itu adalah tuhan kemanfaatan ekonomi, tuhan konsumerisme dan tuhan teknologi serta yang lebih parah tuhan tribalisme atau separatisme yang dianggap oleh Postman membawa kita pada akhir (kematian) pendidikan.

Dibagian kedua, Postman lebih banyak mengarah pada hal-hal teknis, seperti usulanya tentang pentingnya pelajaran Antropologi kepada para pemuda untuk memahami rasa kemanusiaan, Astronomi untuk mengembangkan sikap penghormatan, saling ketergantungan dan tanggung jawab global, serta pentingnya pemahaman mendasar tentang Metafora yang akan memudahkan para pelajar memahami apa yang ia pelajari.

Postman juga tegas menyatakan ketidaksukaannya terhadap textbook (LKS / buku paket) yang cenderung mengarah kepada justifikasisme. Hal ini menyebabkan seseorang cenderung membela keyakinan atau kebenarannya secara keras tanpa menyadari kemungkinan terdapat kelemahan atau kesalahan dalam keyakinannya sehingga orang tersebut menjadi kurang terbuka terhadap sudut pandang lain, wawasan baru dan alternatif pemikiran.

Meskipun, Postman mengkritik dengan keras banyak sekali aspek-aspek pendidikan dalam buku ini, ia tetap optimis bahwa sekolah akan terus berlangsung karena tidak ada seorangpun yang bisa membuat cara yang lebih baik dalam mengenalkan beragam budaya kita terhadap dunia pelajaran selain sekolah. Sekolah umum akan terus berlangsung karena tidak ada seorangpun yang bisa membuat cara yang lebih baik dalam menciptakan ruang publik selain sekolah dan bahwa masa kanak-kanak akan tetap bertahan hidup, karena tanpa hal ini kita pasti kehilangan makna 'apa artinya menjadi orang yang dewasa.'

Buku yang bagus untuk menambah wawasan kita tentang dunia pendidikan, beragam permasalahan dan tantangannya di era sekarang. Sayang sekali di beberapa (tidak banyak) halaman cetakan hurufnya luntur dan cukup mengganggu. 


"Kita bereksperimen untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik dan kita berdebat mengenai eksperimen apa yang bermanfaat dan apakah eksperimen yang kita coba itu baik atau tidak. Dan ketika kita bereksperimen, kita melakukan kesalahan, mengungkapkan tabir ketidaktahuan kita, dan sifat ketakutan serta kenaifan kita. Kita akan terus bereksperimen karena kita memiliki keyakinan akan masa depan bahwa kita bisa melakukan eksperimen yang lebih baik dan argumentasi yang lebih baik pula. Bagi saya hal ini tampak sebagai sebuah cerita yang indah dan mulia dan saya tidak akan terkejut jika para pelajar tersentuh olehnya dan menemukan sebuah alasan untuk belajar di dalamnya"
-Neil Postman


REVIEW BUKU BERLARI DI TENGAH HUJAN - INDRA SUGIARTO

 


Judul Buku : Berlari di Tengah Hujan

Penulis : Indra Sugiarto

Penerbit : Roda Publika Kreasi

Tebal :  184 halaman

Tahun Terbit : 2020

Kategori : Non-Fiksi, Motivasi

My Rated : 5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku yang penuh kalimat-kalimat motivasi yang pernah aku baca. Buku ini judulnya Berlari di Tengah Hujan karya Indra Sugiarto. Indra Sugiarto adalah CEO & Founder @masukkampus dan dikenal juga sebagai motivator millenial. Buku BDTH ini adalah karya ke-3 beliau setelah dua buku best seller : "Teman Berjuang dan Tumbuh Dari Luka"

Buku ini berisi kumpulan untaian kata-kata indah dan penuh motivasi. Membacanya mengingatkan ku pada perjalanan yang selama ini ku lalui, hampir semuanya relate dan semakin menguatkan ku tuk berjuang menggapai apa yang aku inginkan.

Buku ini beliau persembahkan untuk kita yang sudah begitu semangat mengejar sesuatu atau mepertahankan sesuatu, tapi terganjal oleh banyaknya hambatan yang datang. Beberapa tulisannya pernah di post di instagram beliau.

BDTH memberi kita perspektif yang lebih luas, pemaknaan yang mudah di terima, energi yang lebih segar, pemakluman, penerimaan, tak jarang pula 'tamparan' untuk menemani perjuangan kita meraih impian.

Menurutku pembaca tidak akan bosan membaca buku ini, karena desainnya 'menyenangkan' dan artistik. Malah bisa jadi pembaca akan merenung, menangis, atau lebih menyengat semangatnya.

BDTH di bagi dalam lima bagian. Setiap bagian diawali dan diakhiri dengan kolom "catatan perjuangan", jadi kita bisa corat-coret disini nih. 

Fase Kemarau : menyadarkan kembali bahwa kita masih hidup, mencoba tuk berdamai dengan rasa lelah, berat, kecewa, gagal, luka, maupun di tinggalkan, dan mengajak mencintai diri sendiri.

 

"Semua akan baik-baik saja. Jika kamu harus menghadapi terik matahari yang panas hari ini, kelak hatimu akan sejuk dan penuh dengan cinta kasih" 


Fase Berlari : meneguhkan langkah tuk bertahan, berjalan, berlari di tengah ketidaksempurnaan hidup ; membangun semangat dan kepercayaan diri ; mengambil kendali atas perjuangan kita ; burn the freaking fire in our heart dan terus bangkit berjuang.

 

"Kamu tahu apa yang menarik darimu ? Semangatmu. Semangatmu itu tak pernah padam. Benar-benar mengagumkan. Banyak yang sudah sukses membuatmu terluka dan menangis dalam diam, tapi kamu kembali bangkit menyapa matahari" 

 

Fase Hujan : mengingatkan kembali akan perjuangan, pengorbanan, sakit, kecewa, gagal, tangis yang kita lalui selama ini ; membuktikan bahwa diri kita ini kuat, hebat, tegar, dan kita sangat bisa berlari di tengah hujan.


"Aku sama sekali tidak menyesali semua keringat yang keluar sepanjang jalan aku berjuang. Baju-bajuku adalah saksi bisu bahwa aku bukan pengecut yang mudah menyerah. Sepatu-sepatu itu adalah bukti bahwa aku sanggup bejalan jauh" 

 

Fase Bersemi : merenungkan ketidaksempurnaan diri, berusaha untuk mengontrol diri, memaafkan, belajar tegas dan memaksimalkan kekuatan2 yang kita punya.


"Kamu karya Tuhan, jangan jadi pengecut! Tenang... bukan cuma kamu yang sedang berjuang. Semua juga sedang berjuang. Kamu aja yang tak tahu cerita mereka" 

 

Fase Bersinar : melepaskan diri dari belenggu masa lalu ; tak ada perjuangan yang perlu di sesali ; kini kita siap untuk terus berjuang hingga waktu untuk kita datang.


"Aku sudah siap. Sekarang aku tahu apa yang harus aku baca, siapa yang harus aku dengar, siapa yang harus aku temui, dan kemana aku harus melangkah. Keputusan berat pun siap aku buat." 

 

Buku ini memberikan pesan yang teramat dalam. Untuk yang pernah terluka, tersenyumlah sangat lebar. Mulailah mencintai diri sendiri. Lelah, sedih, bosan itu manusiawi, sesekali gapapa, jujur pada diri sendiri juga penting.

Pahamilah bahwa kehidupan ini tidak sempurna. Ketidaksempurnaan ada pada setiap orang. Jadi, temukanlah sesuatu yang indah, yang membuatmu kuat tuk bertahan, tuk berjalan, lagi.

Marah, benci, kecewa memang bisa menyelimuti hati siapa pun. Dan kini, saatnya memaafkan dan melupakan, meski sulit.

Pernah kita mencoba lalu gagal. Sudah mencoba dengan persiapan matang tapi masih gagal. It's okay...! Kita yang gagal sekarang hanyalah gagal di salah satu pintu. Masih ada PINTU YANG LAIN.

Aku pernah gagal, tidak diterima kampus impianku. Padahal aku sudah berjuang keras, tapi apa boleh buat kalau memang bukan rezeki ku disana. Niat, usaha, doa sudah aku lakukan, karena itu memang dalam kendaliku, tapi perihal hasil itu bukan kendali ku. Jadi, aku memilih untuk bangkit, masih ada jalan lain dan singkatnya sekarang aku ada di kampus yang menerimaku. Awalnya ragu, sesal, kecewa masih menyelimutiku. Tapi setelah beberapa waktu, aku tersentak, tersadar... Ya Tuhan... Terima kasih. Aku menemukan, mendapatkan, melakukan berbagai hal yang mungkin tidak akan bisa aku peroleh di kampus impianku. Akhirnya, niatku makin membulat, langkahku makin mantap, siap tuk mengejar impian. Dan aku masih dan terus percaya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan apa yang kita butuhkan meskipun kadang itu bukan yang kita inginkan. Tapi itu yang terbaik.

Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang sedang berjuang meraih impian. Buku ini akan menemani kita disaat suka maupun duka. Disaat optimis maupun pesimis. Buka buku ini sebagai pengingat untuk diri kita.

SEMANGAT !!! 

Dan..., aku ingin berterima kasih pada diriku sendiri atas segala pelajaran, kenangan, pengorbanan, dan perjuangan hingga aku sampai di titik ini. Sekarang aku lebih kuat, lebih tegar, lebih siap menghadapi kehidupan dari pada fase-fase sebelumnya. Titik yang masih dalam proses, belum berakhir. 


REVIEW BUKU GHOST FLEET : THE NEXT WORLD WAR - P.W. SINGER & AUGUST COLE

 

Cover Buku Ghost Fleet

Judul Buku : GHOST FLEET

Penulis : P.W. Singer dan August Cole

Penerbit : Mizan

Tebal :  544 halaman

Tahun Terbit : 20

Kategori : Fiksi, Novel

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang sempat viral ditengah proses pilpres 2019 nih ! Judulnya Ghost Fleet. Ghost Fleet adalah novel yang menceritakan tentang 'kemungkinan' peperangan masa depan atau Perang Dunia Ke-3 yang di tulis oleh dua ahli strategi militer dan pertahanan Amerika.

Ceritanya cukup menegangkan. Meskipun ini novel fiksi, tapi penulis menyajikannya dengan data dan fakta ilmiah. Oke, sebelum masuk lebih jauh berikut adalah komentar beberapa orang tentang buku ini :

"Tak hanya memukau, tetapi juga dikisahkan dengan ahli. Membantu kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan paling tepat tentang masa depan-- yang jawabannya mungkin bisa membantu kita memaksimalkan teknologi dengan meminimalkan risiko ancaman pada manusia" -H.R. McMaster (Lt. General U.S. Army, U.S. Army Training and Doctrine Command)

"Ghost Fleet, sebuah perjalanan mencekam tentang apa yang mungkin terjadi esok. Buku memukau yang ditulis oleh orang yang benar-benar tahu apa yang dituliskan. Bersiaplah untuk tidak bisa tidur." -D.B. Weiss (penulis dan produser eksekutif serial HBO Game of Thrones)

"Aku tak bisa berhenti... detailnya persuasif, menegangkan sekaligus menakutkan." -Phillip Meyer (finalis Pulitzer Prize dan penulis The Son)

"P.W. Singer dan August Cole menyajikan kemungkinan mengerikan tentang perang yang bisa saja terjadi di masa depan. Blueprint mengejutkan tentang perang masa depan, karena itu perlu dibaca sekarang!" -Laksamana James Stavridis (Komandan sekutu tertinggi NATO 2009-2013, Dekan The Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University)

Melahap buku ini lumayan menguras waktu, apalagi di tengah banyaknya tugas kuliah hehe. Tapi, cukup seru membaca buku thriller tekno futuristik ini. Hal yang unik dari Novel "Ghost Fleet" ialah terinspirasi dari tren dan teknologi dunia nyata yang ditulis oleh dua orang. Jarang-jarang ada novel ditulis oleh dua orang, apalagi dengan tema 'world war'.


“Kau bisa berperang untuk waktu yang lama, atau bisa membuat negerimu kuat. Kau tidak bisa melakukan keduanya sekaligus." 

-Sun Tzu, The Art of War


Kisah bermula dari peristiwa di stasiun luar angkasa dan situasi penyelaman seorang geologis China bernama Zu Zhi di 10.590 meter di bawah permukaan laut, Palung Mariana, Samudera Pasifik. 

"Perang" diawali di dunia siber. China secara sistematis melumpuhkan setiap satelit komunikasi yang terhubung dengan angkatan bersenjata AS. Bahkan, semua jaringan komunikasi area lokal juga lumpuh. Tak hanya itu, China juga berhasil menguasai Hawaii lalu mendirikan kawasan administratif di sana. Jadi bisa dibilang hampir seluruh Armada Pasifik Amerika Serikat hancur di tangan China.

Dalam situasi 'sulit' ini Amerika berusaha melawan dengan armadanya cadangannya. Bahkan tentara-tentara yang sudah pensiun, diaktifkan kembali untuk menambah pasukan. Lalu, muncul istilah 'Ghost Fleet' (armada hantu) sebagai upaya perlawanan terakhir Amerika.

Aksi-aksi seru yang dipaparkan mulai dari saling intip kekuatan lawan, serangan siber, spionase, gelar pasukan hingga akhirnya perang terbuka antara Amerika vs China dan Rusia di Samudera Pasifik. Adegan drama yang menarik perhatian adalah antara karakter utama novel ini yaitu Jamie Simmons, Kapten kapal USS Zumwalt dan ayahnya Mike Simmons, pensiunan tentara yang ditugaskan kembali di kapal USS Zumwalt sebagai 'bawahan' anaknya sendiri.

Novel ini juga banyak mengutip kalimatnya Sun Tzu. Orang yang sering mempertimbangkan kalimat Sun Tzu sebelum mengambil keputusan adalah Admiral Wang, komandan dari kapal perang Cina Laksamana Zheng He (Cheng Ho).

Nah, di tengah perseteruan Amerika dan China ini beberapa kali juga disebut nama Indonesia. Lalu dimanakah posisi Indonesia ditengah perang ini ?

Ditengah berkobarnya perang dalam novel Ghost Fleet ini, rupanya ada nama Indonesia disana. Indonesia dikisahkan sebagai "bekas negara". Penulis menyebutnya 'bekas negara Indonesia.' Hal ini terjadi akibat Perang Timor kedua dan banyak terdapat anarkisme. Tapi, tidak jelas apa maksud dari Perang Timor itu ? anarkisme yang seperti apa ?

Secara keseluruhan, Indonesia memang tidak banyak dibahas. Namun, ada satu hal menarik yaitu baik China maupun Amerika Serikat berkepentingan pada lokasi 'bekas' itu. Amerika Serikat memiliki kepentingan di Selat Malaka untuk lintasan kapal USS Coronado. Sementara China menganggap wilayah bekas negara Indonesia sebagai tempat cadangan energi yang harus diamankan dari ancaman Amerika.

Buku ini menyajikan suatu gambaran besar yang masuk akal (kecuali tentang sebab 'bubarnya' Indonesia) tentang konsep teknis dan futuristik peperangan masa depan. Bukan tidak mungkin bahwa suatu hari nanti bisa akan ada perang dengan kekuatan besar antara dua negara yang bahkan saat ini sedang berseteru, yaitu AS & China.

Ada beberapa kekurangan dari novel ini, seperti ada kata juga kalimat terjemahan yang menurutku kurang pas dan tidak sesuai dengan konteksnya, jadi seperti tidak nyambung. Lalu juga alurnya yang lompat-lompat mungkin juga akan membingungkan pembaca. 

Buku ini cocok buat kamu yang berminat dengan tema tentang peperangan menggunakan peralatan berteknologi tinggi  dengan latar belakang pertarungan geopolitik yang menarik antara beberapa negara militer terkuat di dunia.

Terakhir, meskipun dalam pengerjaannya penulis melakukan riset, wawancara dan percakapan dengan berbagai praktisi profesional tetapi pada akhirnya, ini hanyalah FIKSI, bukan prediksi. Namun, fakta, data, istilah-istilah mengenai siber, teknologi, strategi dan lain sebagainya yang di sajikan bisa untuk tambahan wawasan kita terhadap geopolitik, militer dan intelejen. Seru !


“Gunakan kekuatan normal untuk melawan; gunakan kekuatan luar biasa untuk menang.” 

–Sun Tzu