Selasa, 02 Maret 2021

REVIEW BUKU HIJRAH JANGAN JAUH-JAUH, NANTI NYASAR ! - KALIS MARDIASIH

 

Cover Buku Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!

Judul Buku : Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar !

Penulis : Kalis Mardiasih 

Penerbit : Buku Mojok

Tebal :  210 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Esai

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Sebelumnya aku sudah baca buku karya Kak Kalis Mardiasih yang judulnya 'Muslimah Yang Diperdebatkan'. Kali ini aku mau mengulas bukunya yang berjudul Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar ! Tak jauh beda dengan sebelumnya, gaya penulisan Kak Kalis tetap santun dan tidak terkesan menggurui tapi buku yang ini memang lebih 'serius' sih. 

Kalis Mardiasih merisaukan fenomena 'hijrah' yang sebagian begitu eksklusif, 'grusa-grusu' dan tak jarang juga menyeramkan khususnya di Indonesia. 'Hijrah' yang seharusnya membuat seorang muslim menjadi lebih menyenangkan, ramah, teduh dan tenang, namun justru sebaliknya, diliputi 'sumpek', amarah, provokasi dan lainnya. Ini yang coba di kritisi oleh penulis.

Menurut penulis, beragama seharusnya menyenangkan, dipenuhi kebaikan, tidak mudah tersulut emosi, apalagi kita hidup di negeri demokrasi harusnya mengutamakan dialog, diplomasi dan musyawarah dalam mengatasi persoalan umat. Bukankah dalam indahnya ayat suci Al-Qur'an juga dianjurkan demikian ???


“Ada wajah Islam yang lain di Indonesia dengan manhaj berpikir dan kekhasan sosiologisnya yang melahirkan berbagai tradisi dan laku beragama yang dapat menjadi pengayom bagi sesama.”

-Kalis Mardiasih


Kalis Mardiasih dalam buku ini menegaskan bukan bermaksud melarang 'hijrah', tapi beliau menyayangkan orang-orang yang baru belajar ilmu agama langsung di 'suapin' hukum-hukum politik, perang, dan sebagainya. Seharusnya kan berproses, bertahap dan bertingkat. 

Nah, mereka ini sangat rentan di giring oleh para pedagang agama -begitu istilah yang di pakai penulis. Bukannya diajarkan untuk menjadi manusia yang lebih baik, meraba diri sendiri, lebih tawadhu dengan ilmu 'baru' nya, malah di dorong untuk memusuhi kehidupan orang lain, sibuk menghitung timbangan amal dan dosa orang lain, mudah mengkafir-kafirkan sesama muslim bahkan mengaveling neraka orang.

Buku ini dibagi menjadi lima bab : 

  1. Islam dan Kebaikan Anak-Anak, 
  2. Islam dan Kemanusiaan, 
  3. Islam dan Akal Sehat,
  4. Islam dan Contoh Baik,
  5. Islam dan Modernitas. 

Setiap bab dijabarkan dengan beberapa judul esai yang pada intinya, Kalis mencoba menunjukkan, 'ini lho islam yang ramah'. Beliau menemukan kebaikan-kebaikan dalam praktik keberagamaan yang sederhana. Menceritakan pengalaman beliau bertemu tokoh-tokoh bersahaja seperti Habib Luthfi bin Yahya, dan lainnya. Tak luput juga kisah dari kehidupan di lingkungan keluarga, masa-masa sekolah, hingga ketika beliau jadi penulis.

Buku ini bagus sekali untuk dibaca dan jadi perenungan diri sendiri. Meskipun bahasanya ringan, tapi isinya brilian, diramu dengan sudut pandang yang memiliki 'dasar kuat', jadi bukan asal pendapat saja. Kak Kalis mencoba melihat 'hijrah' lebih dari sekedar fenomena. 


REVIEW BUKU MUSLIMAH YANG DIPERDEBATKAN - KALIS MARDIASIH

 

Cover Buku Muslimah Yang Diperdebatkan

Judul Buku : Muslimah Yang Diperdebatkan

Penulis : Kalis Mardiasih

Penerbit : Buku Mojok

Tebal :  202 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Non-Fiksi, Esai

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kalis Mardiasih, banyak dikenal orang terutama dalam isu 'perempuan'. Bagiku, ketika mendengar nama Kalis maka hal yang muncul selanjutnya adalah Buku Mojok dan bukunya Muslimah Yang Diperdebatkan. Sebenarnya, buku  ini sudah lama berseliweran di timeline sodial media ku, jadi penasaran untuk membacanya.

Hal yang membuatku terdorong untuk membacanya adalah ingin memahami sudut pandang Kalis  Mardiasih tentang berbagai permasalahan mengenai isu perempuan, dalam hal ini muslimah dan akhirnya aku selesai juga membaca buku ini.

Dalam buku ini Kalis mengangkat tema-tema muslimah yang sering menjadi perdebatan baik di udara (media sosial) maupun di darat (kehidupan sehari-hari).

Dibagi dalam 26 judul esai, Kalis memaparkan pikiran, perenungan, juga curahan hatinya dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, santun, santuy dan diselingi humor menggelitik.

Menurutku, narasi yang diutarakan bisa mewakili suara-suara muslimah yang seringkali terbendung karena hukum halal-haram di dahulukan daripada mendengar aspirasi dan pengalaman perempuan lebih dulu. Inilah fenomena yang mungkin sering kita jumpai di era sekarang, dimana 'satu' mulut lebih banyak digunakan daripada 'dua' telinga untuk mendengarkan.

Permasalahan yang dibahas beragam, mulai dari cara berpakaian, jilbab, kemuliaan perempuan, hak-hak perempuan, tren muslimah kekinian, kesetaraan gender, perempuan berpendidikan tinggi, hingga perkawinan anak.

Tak luput pula, satu hal yang membuatku tercengang, yaitu kampanye nikah kontrak yang dibungkus label nikah sirri, dengan dalih pengentasan kemiskinan sehingga membenarkan lelang keperawanan. Demi apa sih ?

Tak kalah menarik dari tema diatas, yaitu komentar, analisis dan opini penulis tentang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS). Satu dari sekian RUU yang menuai pro-kontra beberapa tahun belakangan. Dan masih banyak permasalahan lainnya.

Sebagai lelaki, setelah membaca buku ini aku mendapat perspektif baru dari sisi perempuan tentang berbagai isu diatas. Aku yakin tulisan di buku ini bisa mewakili suara-suara para puan bahkan menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mereka pendam, tapi aku juga realistis, mungkin tidak semua pembaca akan setuju dengan pandangan Kalis Mardiasih. Terakhir, aku mengutip satu hal yang menurutku sangat penting di buku ini :


"Saya bertumbuh dengan keyakinan bahwa Islam tidak bertentangan sama sekali dengan ide-ide humanisme. Islam memang agama langit, akan tetapi, ia diturunkan untuk kebaikan-kebaikan manusia yang, oleh sebab itu, ide-ide Islam harus membumi. Tugas manusia pada setiap zaman justru harus membumikan nilai-nilai Islam agar dapat menjawab situasi kebudayaan sesuai ruang, waktu, dan kemanusiaan saat ini.” 

-Kalis Mardiasih


REVIEW BUKU LELAKI HARIMAU - EKA KURNIAWAN

 

Cover Lelaki Harimau
(Sumber : Mizanstore)

Judul Buku : Lelaki Harimau

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  190 halaman

Tahun Terbit : 2004

Kategori : Fiksi, Novel

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku ketiga karya Eka Kurniawan yang pernah aku baca di IPUSNAS. Judulnya Lelaki Harimau. Tertarik membaca Lelaki Harimau karena penasaran dengan buku yang pernah mendapat penghargaan Book of the Year IKAPI tahun 2015 ini. Pada mulanya, belum ada rasa ‘wah’ ketika menyusuri kata demi kata di halaman-halaman awal buku ini. Dibuka dengan ‘breaking news’ peristiwa pembunuhan oleh Margio terhadap Anwar Sadat secara sadis sekaligus menimbulkan banyak sangka dan tanya, kemudian dibawa berkenalan dengan lingkungan kampung, tokoh-tokoh masyarakatnya, sekumpulan pemuda yang terbiasa mabuk-mabukan, dan tentu keluarga sang tokoh utama, Margio.

Kabar pembunuhan sadis itu semakin menggemparkan sekaligus mengherankan karena Margio dalam keterangannya kepada pihak berwajib mengaku itu bukan atas kehendaknya. 


“Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”


Dari sini, aku mulai tercengang, wah apa yang sebenarnya terjadi ? Apa motif pembunuhan ini ? Bagaimana bisa dengan gigitan saja Margio mampu melumpuhkan Anwar Sadat ? Dan seabrek pertanyaan lainnya menyeruak di kepalaku tanpa terlebih dahulu menghakimi apa yang sudah dilakukan Margio kepada Anwar Sadat ini. 

Pembaca kemudian dibawa menelisik lebih mendalam ke kehidupan Margio. Margio lahir dan besar dalam keluarga yang miskin dan tidak harmonis. Ibunya, Nuraeni sudah terbiasa mendapat kekerasan dari suaminya Khomar bin Syueb yang berwatak keras. Cerita lalu berkembang, mengalir, kini alurnya terasa lebih cepat dan menjadi semakin menegangkan sekligus memilukan dalam kegelapan awan yang kemudian menggumpal kelam sehingga berujung pada pembunuhan tragis.

Eka Kurniawan dalam buku ini tidak menggunakan diksi-diksi yang rumit, sehingga mudah sekali membaca ceritanya. Di konsep dengan runut dan rapi, tak ketinggalan pula eksplorasinya terhadap seksualitas yang khas dari Eka Kurniawan membuat cerita ini menjadi lebih seru. Semua tokoh yang dihadirkan saling berperan dalam membangun cerita utuh dari Lelaki Harimau, jadi jangan sampai kelupaan dengan asal usul para tokoh dan perannya terhadap suatu peristiwa hehe. 

Secara tersirat, menurutku Eka memperlihatkan realitas kehidupan dibalik peristiwa pembunuhan tidaklah bisa dilihat dari standar moral hitam-putih. Tidak sesederhana itu karena bila melihat jauh dibelakangnya, ternyata telah menggunung masalah sosial yang menghiasi jalan terjal kehidupan Margio. Selain itu, juga ada masalah ketertindasan perempuan yang diangkat di novel ini. Hal ini tercermin dari kekerasan suami terhadap istrinya, majikan terhadap pembantunya bahkan ayah kepada anaknya. 


”Bukan hanya sesekali Margio melihat ibunya ditampar,di tendang, atau bahkan dipukuli sampai tak berdaya di depan matanya dan tak pernah ada pembelaan dari ibu hanya diam pasrah saja.”

-Eka Kurniawan


Jadi, sekali lagi Eka Kurniawan membuatku ‘overthinking’ dengan cerita yang sederhana namun menyimpan makna yang mendalam apabila ditelisik lebih jauh dan dibawa pada realitas kehidupan nyata. Di novel ini, kamu akan dibawa pada pergolakan antara cinta, penghianatan, mitos yang kemudian jadi kepercayaan, dan dendam. Kuatkan batin !


“... percaya segalanya telah usai dan memperoleh pelajaran berharga bahwa cinta selalu memiliki sisinya yang paling menyakitkan”

-Eka Kurniawan

REVIEW BUKU SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS - EKA KURNIAWAN

Cover Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas 
(Sumber : Togamas)

 Judul Buku : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  244 halaman

Tahun Terbit : 2014

Kategori : Fiksi, Novel

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku kedua karya Eka Kurniawan yang pernah aku baca di IPUSNAS. Judulnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Kalau ada yang mengira buku ini berkisah tentang kisah romantisme sepasang kekasih, tidak ! isinya tidaklah romantis wkwk. 

Setelah aku membaca bab-bab awal buku ini, barulah aku paham kenapa buku ini dilabeli ‘Novel Dewasa’. Betapa tidak, Eka Kurniawan secara blak-blakan (tapi tidak asal-asalan) memilih kosakata yang vulgar, kental sekali dengan nuansa seksualitas.. Ajo Kawir, si tokoh utama dari kisah ini adalah pemuda pemberani, namun burungnya tidak bisa tegak ! Betapa masalah perburungan ini membuat hidupnya rumit.

Kenapa burungnya tidak bisa tegak ? Semua bermula ketika Ajo Kawir dan kawannya Tokek mengintip peristiwa dua polisi sedang memperkosa seorang perempuan gila bernama ‘Rona Merah’. Celakanya, aksi mengintip ini ketahuan, si Tokek berhasil sembunyi sedangkan Ajo Kawir di ‘ringkus’ oleh polisi dan dipaksa ‘join’ dengan mereka. Dibawah todongan pistol, mendadak burung Ajo Kawir ‘tiarap’, tidak bereaksi sama sekali dengan apa yang ada dihadapannya (Rona Merah yang telanjang).

Malam petaka itu membuat Ajo Kawir hampir kehilangan semangat hidup, ia mencoba berbagai cara agar burungnya bisa tegak lagi, mulai dari yang halus sampai yang ekstrem, tapi semua gagal ! Singkatnya, ia meinkah dengan Iteung, soal ‘burung’ bagi iteung bukanlah masalah. “Syarat pernikahan hanya ada lima. Paling tidak itu yang kuingat pernah kudengar dari corong pengajian di masjid. Satu, ada kedua mempelai. Dua, ada wali perempuan. Tiga, ada penghulu. Empat, ada ijab kabul. Lima, ada saksi. Tak pernah kudengar pernikahan mensyaratkan k***** yang ng*****,”

Setelah menikah, petaka datang lagi, Iteung hamil, sesuatu yang tidak mungkin. Hal ini membuat Ajo Kawir pergi berkelana, sempat dipenjara karena terlibat pembunuhan, ia lalu menjadi sopir truk sembari berusaha untuk menegakkan kembali ‘kejantanannya’ Berhasilkah Ajo Kawir ? hahaha Eka Kurniawan mengakhiri Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dengan luar biasa. 

Wait, meskipun novel ini vulgar, kasar dan brutal dalam narasinya, sejatinya Eka sedang membicarakan keadaan pada zaman rezim yang penuh kekerasan dan represif. Seperti yang diutarakan dibelakang buku ini, bahwa burung yang tertidur ditengah brutalitas keadaan merupakan sebuah alegori tentang ketenangan dan kesunyian yang coba diusik agar bangun. Eka ingin menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang ringan dan lucu, sehingga mudah ditangkap para pembaca. Pembaca akan banyak menemukan filosofi-filosofi dari setiap tokoh, terutama Ajo Kawir yang banyak belajar dari ‘tiarap’nya si burung.  Tertarik membaca buku ini ? Pastikan sudah cukup umur ya !!!


“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Tapi kemaluan juga bisa memberimu kebijaksanaan.”

-Eka Kurniawan

Senin, 01 Maret 2021

REVIEW BUKU THE LEADERSHIP CARDS : 101 HAL YANG WAJIB DIKETAHUI OLEH PARA PEMIMPIN - TANTRA MALDEVA

 

Cover Buku The Leadership Cards

Judul Buku : The Leadership Cards

Penulis : Tantra Maldeva

Penerbit : Araska

Tebal :  194 halaman

Tahun Terbit : 2017

Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang isinya tentang kepemimpinan. Judulnya The Leadership Cards karya Tantra Maldeva. Kita semua tahu bahwa ketika menjadi pemimpin di bidang apapun tidaklah cukup jika hanya bisa menyuruh. Tentu ada beberapa aspek yang harus di miliki seorang pemimpin. Apalagi jika pemimpin itu ingin organisasi yang ia pimpin bisa menggapai 'goal' nya.

Menurut Tantra Maldeva, dimasa sekarang terdapat dua karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertama, pemimpin harus memiliki dan mampu merumuskan dengan jelas tujuan organisasi yang ia pimpin. Kedua, pemimpin harus mampu memobilisasi stakeholder baik internal maupun eksternal. Jika tidak memiliki keduanya, maka sulit baginya untuk menjalankan peran sebagai pemimpin.


"Kita memang tidak perlu tahu semua hal, tetapi berhenti mempelajari semua hal adalah langkah mematikan prestasi. Untuk menjadi seorang ahli, kita harus belajar semua faktor yang mendukung keahlian kita. Mempelajari semua hal akan baik untuk menambah wawasan dan kebijakan, sehingga kita bisa dengan sigap dan cepat membuat keputusan yang sempurna."


Dalan memimpin, pemimpin harus fokus pada tujuan, cara pandang dan memiliki sistematika tujuan yang jelas. Kesemuanya dirangkum dalam bentuk VISI. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Tantra Maldeva lihai sekali dalam menjabarkan VISI di dalam buku ini, sehingga mudah dipahami oleh pembaca.

The Leadership Cards berisi 101 hal yang wajib diketahui oleh para pemimpin. Buku ini bisa menjadi panduan bagi para pemimpin yang ingin sukses memimpin di era milenial ini. Bahasanya mudah dipahami dan isinya banyak mengacu dari John C. Maxwell. Untuk aku yang masih minim referensi tentang buku kepemimpinan, buku ini menjadi pengantar yang menarik. 

Secara umum buku ini dibagi menjadi empat bab : 

  1. Self improvement cards, dimana kita belajar mengembangkan diri sendiri.
  2. Relationship cards, tips-tips membangun dan merawat hubungan baik antara anggota dan pimpinan maupun sebaliknya.
  3. Mentoring cards, mengembangkan potensi2 orang lain agar tumbuh bersama.
  4. Equipping cards, kita akan belajar mempraktikkan kepemimpinan sejati.

Memanglah tidak terlalu mendetail dan menyeluruh pembahasan tentang kepemimpinan dalam buku ini. Untuk itu perlu kiranya menambah bacaan dari buku-buku lain agar semakin banyak 'kartu-kartu' yang dijadikan pedoman dalam meningkatkan potensi kepemimpinan dalam diri.


"Nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali."


REVIEW BUKU GESTAPU 65 : PKI, AIDIT, SUKARNO DAN SOEHARTO - SALIM HAJI SAID

Cover Buku Gestapu 65 : PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto
(Sumber : Goodreads)


Judul Buku : Gestapu 65 : PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto
Penulis : Salim Haji Said
Penerbit : Mizan
Tebal :  204 halaman
Tahun Terbit : 2018
Kategori : Non-Fiksi, Sejarah
My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas salah satu buku yang membahas sejarah Gestapu 1965 karya Prof. Salim Haji Said. Gestapu 65 : PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto, berisi analisa memahami peristiwa 1965 dengan lebih terperinci di dalam satu buku saja. Fakta sejarah 1965 memang masih banyak menyisakan pertanyaan dan misteri hingga sekarang. Di dalam buku ini Salim Haji Said memosisikan dirinya sebagai seorang wartawan atau reporter yang meliput hampir setiap kejadian detail dari sebelum, ketika dan setelah kejadian Gestapu.

Secara garis besar, dalam buku ini menurut Prof. SHS ada 4 kelompok dengan kepentingan masing-masing terhadap keberlangsungan kekuasaan dan kelanjutan politik di Indonesia pada waktu itu, yakni :

  1. Sukarno. Presiden pertama Indonesia tersebut dapat berkuasa dan bertahan kekeuh dengan ideologi yang dipopulerkannya sebagai Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Baginya, PKI bukan hanya salah satu dari pilar Nasakom, tapi juga kekuatan politik yang dimanfaatkan untuk mengimbangi Angkatan Darat, tanpa kekuatan dibelakangnya, Sukarno sadar akan mudah menjadi ‘sandera’ para Jenderal.
  2. PKI. Pada puncak masa perang dingin, PKI memang terus menerus khawatir terhadap kekuatan AD, terutama ketika muncul berita sakitnya Sukarno. Tanpa Sukarno, PKI harus berhadapan dengan AD tanpa “beking” siapapun. DN Aidit pemimpin tertinggi PKI bertekad merebut kekuasaan lewat jalan parlementer, dengan mempersiapkan partai meraih kemenangan lewat pemilu pada 1970.
  3. Angkatan Darat. AD menjadi garda terdepan kekuatan anti-Komunis setelah PSI dan Masyumi dibubarkan oleh Sukarno. Sebagai langkahnya, AD membentuk organisasi Islam seperti Padi (Pengajian Dakwah Islam), lalu membangun PTDI (Perguruan Tinggi Dakwah Islam), keduanya digunakan sebagai lembaga dakwah Islam untuk menghadapi kampanye-kampanye ideologis PKI.
  4. Pihak asing dengan kepentingan masing-masing. Dalam hal ini ada Amerika yang cemas jika Indonesia akan menjadi negara komunis, hal ini jelas mempersulit usaha mereka dalam membendung perkembangan komunisme di Asia Tenggara. Inggris yang terus menghabiskan dana untuk melindungi Malaysia yang terus diganyang oleh Sukarno, ingin segera mengakhiri ketegangan politik ini. Sementara ada dinas rahasia Uni Soviet dan Tiongkok, hubungan Beijing dan Moskow saat itu sudah tegang, ditambah PKI yang memihak Beijing diterjemahkan oleh dinas rahasia Tingkok dan dinas rahasia Uni Soviet sebagai konflik segi tiga TNI, Sukarno dan PKI.

Sedangkan terkait dengan kelompok Angkatan Darat, paling sedikit terdapat empat sub-kelompok dengan sikap berbeda saat sebelum Gestapu yaitu sub-kelompok Nasution, Ahmad Yani, Soeharto dan sub-kelompok perwira binaan Biro Khusus PKI. Ketiga kelompok pertama merupakan anti-Komunis. Kelompok Nasution mengambil tindakan lebih keras terhadap Sukarno, sementara pihak Yani mencoba merangkul Sukarno agar tidak terlalu dekat dengan PKI. Sementara Soeharto berada di pihak yang merasa diremehkan oleh kelompok Yani yang berkuasa. 

Singkatnya, kesimpulan yang dapat Prof. SHS jelaskan di buku ini adalah bahwa sebenarnya yang direncanakan bukan pembantaian seperti yang kemudian terjadi, melainkan penculikan untuk pendaulatan. Ia yakin DN Aidit juga mengerti bahwa Gestapu hanyalah pendaulatan atas pimpinan Angkatan Darat. Sukarno hanya berkeinginan untuk mengganti pimpinan Angkatan Darat pasca Yani dengan Jenderal yang tunduk kepada ‘Pemimpin Besar Revolusi’ sehingga mudah dikendalikan, dengan cara tersebut diharapkan Angkatan Darat akan mendukung NASAKOM dan lebih bersahabat dengan PKI. Namun, yang terjadi justru pembunuhan, itulah yang menjadi pertanyaan besar hingga saat ini, siapakah aktor intelektualnya ???

Perlu diperhatikan pula saat itu adalah masa panasnya konfrontasi dengan Malaysia dan makin meningkatnya ketegangan politik domestik (PKI vs AD), tampaknya para Jenderal tidak pernah memperhitungkan kemungkinan operasi pasukan komando melumpuhkan mereka. Dan itulah yang terjadi pada 1 Oktober pagi hari tersebut. Cuma bukan pasukan komando asing yang menyapu hampir tuntas pimpinan AD, melainkan anak buah mereka sendiri yang digerakkan oleh golongan Komunis, musuh bebuyutan AD.

Biro Khusus PKI cukup sukses dalam membina tentara. Kebanyakan adalah perwira yang mengurusi intelijen, teritorial, dan personalia. Tiga pos sensitif dalam organisasi militer. Biro Khusus PKI berhasil membina sejumlah perwira di beberapa wilayah Indonesia. Temuan Crouch, yang sudah berhasil dibina, 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, hampir 100 di Jawa Barat, sekitar 50 di Jakarta, hampir 40 di sumatra utara, 30 di sumatera Barat, dan 30 di Bali. 

Prof. SHS juga tak menyoroti TNI AU, karena apabila berbicara mengenai Angkatan Bersenjata sehubungan dengan GESTAPU, faktor Angkatan Udara terlalu penting untuk dilupakan. Omar Dani, PangAU saat itu masih sangat muda ketika menduduki jabatan itu, Dani adalah anak muda yang tidak punya pengalaman tempur masa revolusi. Dani mewarisi AU yang sejak awal 50-an sudah diposisikan bersikap ‘Antagonistis’ kepada AD.

Persoalan terpenting yang melatarbelakangi konflik antara Angkatan Udara dan Angkatan Darat, terutama pada masa demokrasi terpimpin, pada dasarnya adalah sikap kedua Angkatan yang berbeda terhadap kebijakan Presiden Sukarno. AD menolak NASAKOM, sangat waspada kepada PKI, sementara AU mendukung NASAKOM dan hampir semua kebijakan politik Sukarno, termasuk gagasan pembentukan Angkatan V. Berbeda dengan pihak AD, Pimpinan AU waktu itu tidak melihat PKI sebagai potensi ancaman.

Yang cukup ironis ialah nasib Jenderal A.H. Nasution. Pemimpin AD ini—orang yang berjasa mendukung Sukarno memperoleh kekuasaan besar —adalah target utama dan pertama dalam tentara untuk disingkirkan Sukarno. Nasution yang anti-Kom adalah penghalang utama agenda politik NASAKOM Sukarno. Berhasil menyingkirkan Nasution pada 1962, giliran berikutnya ialah Jenderal Ahmad Yani, orang yang secara pribadi dipilih Sukarno menggantikan Nasution. Pimpinan AD boleh berganti, tapi posisi anti-Kom mereka tidak berubah. Di mata Sukarno, Yani yang ternyata anti-NASAKOM, juga harus disingkirkan. Dalam proses penyingkiran Yani itulah terjadinya GESTAPU pada pagi hari 1 Oktober 1965.

Nasution tersingkir, Yani terbunuh, tampillah Soeharto. Ketua baru “Partai tentara” ini sangat diuntungkan oleh kegagalan GESTAPU yang menyebabkan hancurnya PKI. Tanpa dukungan PKI, posisi politik Sukarno secara berangsur melemah. Dengan kecanggihan politiknya, dalam dua tahun sejak GESTAPU pertarungan politik akhirnya dimenangkan Soeharto. Artinya, Sukarno tersingkir.

LALU SIAPA yang berada di balik GESTAPU ??? PKI sendiri, kata pemerintahan orde Baru. Akibat pertentangan internal Angkatan Darat, kata PKI dan para ahli Indonesia di Cornell university. CIA, kata Peter dale scott. Soeharto, kata Wertheim. PKI, tentara dan nekolim, kata Presiden Sukarno. 

Buku yang menarik dibaca untuk memahami salah satu peristiwa kelam dalam sejarah bangsa Indonesia ini.. Sekaliber Prof. SHS yang notabene dikenal juga sebagai Guru Besar di Universitas Pertahanan ini tidak serta merta membuat kesimpulan siapakah aktor pasti dalam pembunuhan 7 perwira tinggi militer Indonesia. Apalagi aku yang baru membaca beberapa referensi tentang sejarah Gestapu ini, namun adanya banyak versi ini justru menurutku membuat kita sebagai generasi muda hendaknya mau terbuka terhadap referensi-referensi alternatif yang akan membantu menyibak kabut gelap menuju sinar yang lebih terang. 

 

REVIEW BUKU A LITTLE BOOK ABOUT YOU - ELVIRA

 


Judul Buku : A Little Book About You

Penulis : Elvira

Penerbit : onepeach.media

Tebal :  143 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kategori : Fiksi, Kumpulan Puisi

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang penuh dengan warna dan ilustrasi. A Little Book About You adalah buku yang berisi kumpulan quote, puisi, kata-kata yang bisa membawa pembacanya hanyut dalam rajutan kata demi kata dari kak Elivra ini.


"Kau hanya bisa menangkap cinta yang memang ditakdirkan jatuh untukmu"


Buku ini dibagi menjadi tiga bagian :

  • Tentang Cinta
  • Tentang Harapan
  • Tentang Perjuangan

Tentunya setiap bagian menceritakan berbagai rasa. Menurutku tulisan-tulisan Kak Elvira yang puitis ini dapat menggiring pembacanya larut dalam cerita. Panjang atau pendeknya terasa nyaman untuk dibaca. Dan ilustrasinya sangat memanjakan mata dan khayalan.  

Paduan antara teks puisi, warna dan ilustrasinya yang cantik ditambah fontnya yang besar serasa mengalir begitu saja. It's cool ! Pas banget difoto lalu dibuat postingan di medsos haha.

Hardcover didominasi warna putih polos, kertasnya juga berbeda dari kertas buku biasanya, karena lebih tebal hehe. Dan ada pita untuk pembatasnya membuat buku ini nampak elegan. Review buku kali ini akan aku tutup dengan mengutip :


"Bukanlah cinta jika memberimu rasa takut yang mencekam

Cinta memberimu rasa terima kasih secara tulus tanpa perlu digugat"