Selasa, 30 Maret 2021

REVIEW BUKU SEGALA-GALANYA AMBYAR - MARK MANSON

 


Judul Buku : Segala-galanya Ambyar

Penulis : Mark Manson

Penerbit : Grasindo 

Tebal :  346 halaman

Tahun Terbit : 20

Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Mark Manson adalah penulis buku laris versi internasional dan New York Times berjudul The Subtle Art of Not Giving A F*ck. Di buku keduanya yang berjudul Everything Is F*cked ini Manson melahirkan sebuah pedoman kewarasan untuk menghadapi problem-problem harapan.

Sebenarnya, buku ini sudah saya baca beberapa waktu lalu tetapi baru tertarik mengulasnya hari ini. Dunia di zaman sekarang, segalanya tampak sangat baik melebihi zaman-zaman sebelumnya. Meski demikian, tak sedikit pula yang tampak kacau balau dan benar-benar ambyar.Kita hidup dalam penggalan waktu yang menarik, dimana secara material segalanya nampak jelas lebih baik, namun anehnya kini justru telah mewabah perasaan akan tiadanya harapan. 

Manson menyebut ini sebagai paradoks kemajuan : semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Pada dasarnya, kita adalah manusia-manusia paling aman dan makmur sepanjang sejarah dunia, namun keputusasaan yang kita rasakan juga yang lebih parah ketimbang masa-masa sebelumnya. semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang melanda kita. Dan Manson meringkas dalam satu fakta megangetkan (juga berdasar Suicide Rate Data dari WHO) : semakin kaya dan aman wilayah yang Anda tinggali, semakin mungkin Anda melakukan bunuh diri. 

Apa yang terjadi ? Lewat buku ini, Manson menerangkan sederet penelitian psikologis dan kebajikan dari beragam filsuf untuk berbicara mengenai berbagai persoalan agama, politik, uang, hiburan dan internet, dan mencoba menghadirkan solusi dari beragam keambyaran ini. Namun, bisa juga disebut berupa evaluasi tanpa berharap menyelesaikannya, tapi justru berupaya mencintainya.


"Nilai-nilai yang kita pilih selama hidup kita mengalami kristalisasi dan mengendap di lapisan paling atas kepribadian kita."

-Mark Manson


Dalam buku ini, Manson menempatkan dirinya lebih kepada perantara dari beracam-macam pemikiran yang diramu dengan ciamik. Jadi, hanya pada beberapa part, Manson menuangkan opininya yang memang khas, out of the box dan terkadang lucu. Referensinya pun tidak kaleng-kaleng, bisa dilihat di 36 halaman terakhir wkwk.


"Seperti pisau yang dipakai ahli bedah, harapan dapat menyelamatkan kehidupan dan harapan juga bisa merampas kehidupan."

-Mark Manson


Manson tetap meyakini bahwa harapan adalah hal yang fundamental untuk psikologi kita, sehingga kita harus :

  1. Memiliki pengharapan akan suatu hal,
  2. Percaya bahwa nasib kita dikendalikan oleh diri kita sendiri, sehingga kita harus meraih harapan tersebut,
  3. Menemukan sebuah komunitas untuk mendampingi kita meraih harapan tersebut.


Ketika kita kehilangan satu dari ketiga hal tersebut untuk waktu yang lama, kita kehilangan harapan dan akan terlempar kedalam kebenaran yang menggelisahkan.

Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan agama. Agama disini bukan hanya berarti mengimani Tuhan, tetapi meyakini apa yang mau kita yakini.

Nietzsche percaya bahwa kita harus melampaui harapan. Baginya, moralitas masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati atau cinta pada nasib. Amor fati bagi Nietzsche berarti penerimaan hidup dan pengalaman kita dengan tanpa syarat : segenap pengalaman naik dan turun, yang bermakna dan yang tak bermakna. itu berarti mencintai luka-luka, memeluk derita. Itu berarti menutup jarak yang memisahkan antara harapan dan kenyataan, bukan dengan cara mengejar lebih banyak lagi harapan, tetapi dengan mengharapkan yang senyatanya.

Pada intinya, Manson menampar kita bahwa, hey... dunia meamang kacau, dunia memang ambyar.Kenapa ? itu karena kita tidak sadar bahwa "harapan" kita terlalu disilaukan oleh keinginan-keinginan kita sendiri yang tidak masuk akal. Dunia boleh kacau, tapi bukan berarti kita juga harus menjadi kacau.Tidak perlu erharap menjadi lebih baik, cukup jadilah lebih baik. Jadilah sesuatu yang lebih baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati dan disiplin. 

Salah satu buku yang membuka wawasan dan membantu berpikir objektif dalam melihat keambyaran zaman ini. Sangat layak jadi bacaanmu.

Senin, 29 Maret 2021

REVIEW BUKU GET THE TRUTH - PHILIP HOUSTON, MICHAEL FLOYD & SUSAN CARNICERO

 


Judul Buku : Get The Truth

Penulis : Philip Houston, Michael Floyd & Susan Carnicero

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  348 halaman

Tahun Terbit : 2015

Kategori : Non-Fiksi, Tips-Trik

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Siapa sih yang belum pernah mendengar tentang Central Intelligence Agency (CIA) ? Aku rasa kita semua pernah mendengarnya hehe. Philip Houston, Michael Floyd & Susan Carnicero adalah para mantan anggota CIA yang sudah kenyang dengan pengalaman di dunia intelijen, kontraspionase, kontraterorisme, dsb.

Dalam buku ini mereka mengungkap seperti apa metodologi yang mereka gunakan selama melakukan interogasi dengan seseorang. Metodologi itu hebatnya bisa membuat 'seseorang' mengatakan yang sebenarnya, mengatakan sebuah kebenaran, sebuah kejujuran sekaligus mampu mendeteksi apakah orang tersebut berbohong atau tidak. Lalu di bagian akhir buku ini, Peter Romary, seorang pengacara dan arbiter internasional, mengulas bagaimana metodologi ini bisa diterapkan dalam bidang hukum, bisnis, dan negosiasi.

Buku ini dibagi menjadi 13 bab dan setelah bab terakhir ada 3 apendiks. Hampir di semua bab, pembaca akan sering menjumpai dialog-dialog dari wawancara maupun interogasi. Penulis juga mengangkat cukup banyak kasus dari pencurian, pembunuhan, hingga terorisme untuk mendukung penjelasan metodologi mereka. Disini pembaca dituntut jeli memahami setiap tokohnya, peran mereka dan bagaimana alur kasus tersebut. Karena tidak jarang, penulis mengacu kembali pada kasus-kasus yang sudah ditulis di bab sebelumnya. Disini aku merasa agak bosan karena terasa terlalu berbelit, pun juga nama-nama tokohnya banyak sekali.

Pada intinya teknik-teknik yang dipakai oleh para penulis menggunakan pendekatan non-koersif dan etis. Penulis memosisikan dirinya kontra terhadap teknik dengan pendekatan kekerasan, pemaksaan, ancaman, seperti yang sering kita jumpai di film-film. Menurut penulis, dengan pendekatan non-koersif, kita berusaha memahami sudut pandang seseorang kemudian menuntunnya ke suatu titik di mana dia merasa nyaman berbagi informasi. Pendekatan ini lebih manusiawi dan hasil yang diperoleh jauh lebih baik dan bermanfaat dalam mengungkap kebenaran. 

Secara keseluruhan, penulis memang sangat kompeten dalam menjelaskan metodologi dalam buku ini. Sebuah panduan untuk mengungkapkan kebenaran dari siapa pun dan kapan pun.


"Ada situasi ketika orang jahat melakukan hal-hal yang jahat, tetapi terkadang orang baik juga mengambil keputusan yang salah. Mereka tidak berniat untuk menyakiti seseorang. Mereka kadang hanya melangkah terlalu jauh, tidak menyadari konsekuensi yang akan mereka hadapi atau seseorang akan tersakiti karenanya. Jika Itu masalahnya kita perlu membicarakannya supaya kita bisa memperbaikinya." 

-Philip Houston, Michael Floyd & Susan Carnicero


Minggu, 28 Maret 2021

REVIEW BUKU QUESTIONING EVERYTHING - TOMI WIBISONO DAN SONI TRIANTORO

 


Judul Buku : Questioning Everything

Penulis : Tomi Wibisono & Soni Triantoro

Penerbit : Shira Media & Warning Books

Tebal :  362 halaman

Tahun Terbit : 2016

Kategori : Non-Fiksi, Sosial-Budaya

My Rated : 4/5


Hallo, Sobat Reader ! Berbicara tentang kreativitas, ada satu insight yang keren dari Dr. Budi Irawanto dalam pengantar buku ini, 

"Kreativitas senantiasa mampu menerabas batas-batas yang dipatok oleh para pemegang otoritas. Ia tak pernah takluk di haribaan kekuasaan"


Kalimat yang membawa pikiranku kesana kemari menengok para kreator yang aku tahu, membebaskan dirinya dari rasa nyaman dalam proses menghasilkan karya yang otentik. Kreativitas memang sulit dipisahkan dari sifat pemberontakan, memberontak dari rasa 'nyaman'.


"Hal-hal buruk adalah kenyataan, sementara hal-hal baik adalah harapan. Dan di dunia semacam itu, sebagian optimis dalam ketidaktahuan. Meringkuk dalam laku fatalis, abai dan konsumtif. Larut. Sebagian lagi pesimis dalam ciut dan keragu-raguan. Larut.”

“Jika memang sedemikian suramnya, mengapa dunia tetap bertahan tak bergegas hancur berkeping-keping dan kembali ke rantai makanan sederhana ala zaman dinosaurus ? Mungkin Tuhan Yang Mahatahu memang masih menunggu atau bisa jadi karena masih ada serpihan nyala yang berbinar diberbagai ufuk semesta. Satu yang niscaya, saat ini kita hidup di dunia yang tidak baik-baik saja.”
-Tomi Wibisono & Soni Triantoro

Mengusik imajinasi pembaca. Begitulah yang aku rasakan ketika membaca buku ini.  Pengantar yang paripurna dari dosen ilmu komunikasi UGM disambung pengantar yang mengkritik sejarah, pendidikan dan jurnalisme dari kedua penulis mengawali buku ini. Questioning Everything merupakan kumpulan wawancara pilihan dari WARN!NG Magazine yang bertaburan gagasan menyentak, memprovokasi pikiran dan imajinasi pembaca.


"Ada dua cara ampuh untuk memahami isi kepala seseorang. Pertama, sambangi tempat ia tinggal dan lihat koleksi bukunya. Kedua, luangkan waktu yang amat panjang dan ngobrol-lah dengan dia. Kalau tak punya waktu dan segan bertemu, baca saja wawancaranya." 

-Ananda Badudu


Dua puluh tujuh insan kreatif sebagai narasumber, dari berbagai latar belakang, tidak semuanya aku tahu. Kalau nama-nama seperti Jerinx, Puthut EA atau Seno Gumira tentu tidak asing bagiku. Namun, konsep penulisan berupa tanya-jawab membuat kita sebagai pembaca merasakan kedekatan, seakan berbicara langsung dengan narasumber. Selain itu, spontanitas dari narasumber dalam menjawab pertanyaan, juga terkadang menggelitik  terutama ketika berbicara tentang politik, ideologi dan kemanusiaan.


"Tiap bagiannya akan membuatmu belajar tentang konteks jurnalistik yang tak melulu 5W+1H. Buku ini menyegarkan!" 

-ngadem.com 


Bagi kamu yang memiliki selera musik punk rock, hardcore, dsb, beberapa musisi / band ternama baik dari dalam maupun luar negeri bisa kamu jumpai di buku ini. Meminjam kalimat Wendi Putranto, para musisi ini memiliki keliaran perspektif, arogansi yang cerdas bahkan pemikiran yang provokatif. 

Seru menyimak gagasan-gagasan mereka, walaupun tidak terlalu mengerti ketika membahas tentang musik dan dinamikanya.

Let me tell you the part that makes me shake my head, change my sitting position and pause to read it over and over again. Here he is, "Di era silam, Anda sering menyerang generasi tua yang Anda anggap dekaden", lalu ditanggapi oleh Remy Sylado, "Kalau yang muda goblok itu nggak usah diserang. Memang belum berpengalaman. Tapi kalau tua goblok ya harus diserang."

Pada akhirnya aku sependapat dengan kedua penulis, bahwa dunia boleh tidak baik-baik saja. Tetapi kreativitas haruslah muncul ke permukaan dan berumur panjang. 


"Ada optimisme yang coba kami utarakan dari pesimisme yang seyogianya pun patut disadari. Selalu ada yang salah, namun senantiasa ada asa dan cara. Boleh jadi begitulah kreativitas bekerja." 
-Tomi Wibisono & Soni Triantoro

Sabtu, 27 Maret 2021

REVIEW BUKU MATI KETAWA CARA POLITISI - MAHAWIRA ABIMANYU

 


Judul Buku : Mati Ketawa Cara Politisi

Penulis : Mahawira Abimanyu

Penerbit : Palapa

Tebal :  272 halaman

Tahun Terbit : 2016

Kategori : Non-Fiksi, Sosial-Politik

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang mengangkat kelucuan tingkah laku para politisi. Judulnya Mati Ketawa Cara Politisi, karya Mahawira Abimanyu. Aku beli buku ini waktu ada pameran buku di deket rumah, melihat covernya membuatku tertarik membelinya. Bisa kita lihat ada kartun Adolf Hitler yang terkenal dengan ke-‘diktatoran’nya, tetapi jadi terlihat lucu, begitu juga dengan Ahok yang kita tahu sikap tegas dan ceplas-ceplosnya ketika menjadi pemimpin daerah sering menuai kontroversi, tetapi terlihat lucu di cover buku ini. 


“…dalam demokrasi, siapa boleh apa, si anu boleh anu, asal sesuai dengan siapa yang sudah dianu.” 

-Sujiwo Tejo


Dalam menjalani kehidupan, kita pasti pernah mengalami hal-hal yang lucu, baik itu datangnya dari diri sendiri ataupun orang lain. Kelucuan itu tidak jarang timbul dari suatu ketidaksengajaan, seperti karena faktor lupa dan teledor, atau justru timbul dari kesengajaan membuat jokes, tingkah laku dan cerita yang menimbulkan tawa. Dari hal-hal lucu itu bisa menjadi cerita yang akan kita kenang suatu hari nanti. Nah, apa jadinya kalau yang mengalami kisah lucu tersebut adalah para penguasa atau tokoh politik ? Apakah kita bisa menertawakannya ?

Secara umum, para penguasa, tokoh-tokoh politik atau pemimpin negara memiliki persona yang menampakkan citra dirinya sebagai orang yang tegas, berwibawa dan berpengaruh sehingga seringkali kisah-kisah lucu dari mereka tidak menjadi konsumsi publik. Namun, seiring waktu kisah-kisah lucu itu dapat kita ketahui melalui penuturan tokoh yang bersangkutan setelah purna jabatan, melalui media massa atau melalui tulisan seperti dalam buku ini. 

Mahawira Abimanyu dalam buku ini menyajikan beberapa kisah lucu dari para politisi baik itu dari Indonesia maupun dunia. Kisah-kisah ini tidak hanya sekadar humor, tetapi juga kisah yang mungkin tidak disangka-sangka dialami oleh mereka. Misalnya, kisah lucu dibalik kumis Adolf Hitler, kisah lucu mengapa Abraham Lincoln memelihara jenggot, kisah dibalik peristiwa Dahlan Iskan ditangkap oleh satpam kantornya sendiri, dan masih banyak lagi.


“Setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak dapat mengelak dari segala kejadian yang tidak pernah direncanakan, sebuah kejadian unik yang kemudian menjadi kisah lucu.”

-Mahawira Abimanyu


Uniknya, selain mendapat kisah-kisah lucu, kita juga akan berkenalan dengan para politisi ini, mulai dari awal mereka lahir, perjalanan hidup, perjalanan karir dan politik sampai bagaimana mereka dikenal oleh rakyatnya. Kita akan mengenal secara singkat biografi dari tujuh presiden Indonesia, para politisi Indonesia salah satunya Susi Pudjiastuti, dan para pemimpin dari berbagai negara salah satunya presiden pertama Amerika, Abraham Lincoln.

Secara keseluruhan gaya bahasa dan penulisannya sangat mudah dipahami, tidak berbelit-belit dan hanya satu dua kata yang salah ketik. Tetapi, satu kritik aku tentang buku ini yaitu penulis kurang memberi ‘feel’ yang memancing pembaca untuk tertawa pada beberapa judul kisah yang dituliskan, sehingga apa yang seharusnya menjadi ‘nyawa’ dalam buku ini menurutku kurang ‘hidup’. Tetapi, hal ini tidak mengurangi inspirasi dan hikmah yang bisa kita dapat dari kisah-kisah para politisi ini. Buku yang unik, sayang kurang lucu. 


“Buku ini bukan bermaksud menyudutkan maupun membuat seseorang ditertawakan, melainkan untuk mengetahui dan mengambil hikmah dari berbagai kisah lucu dan unik tersebut.”

-Mahawira Abimanyu




Selasa, 23 Maret 2021

REVIEW BUKU WHO RULES THE WORLD - NOAM CHOMSKY

 


Judul Buku : Who Rules The World ?

Penulis : Noam Chomsky 

Penerbit : Bentang

Tebal :  398 halaman

Tahun Terbit : 2017

Kategori : Non-Fiksi, Politik

My Rated : 4,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku yang isinya mencoba menelisik siapa yang mengontrol dunia. Noam Chomsky merupakan ahli dalam bidang linguistik dan filsafat. Beliau juga terkenal dengan buku-bukunya yang mengkritik pemerintahan Amerika Serikat. Salah satu yang populer, Who Rules The World ?, baru saja selesai kuhabiskan selama 6 hari ini, lumayan membuat dahi mengernyit.

Investigasi Intelektual dari Chomsky dalam buku ini ibarat menguak sisi Antagonis dari 'polisi dunia', Amerika Serikat. Bagaimana negara ini menjelma menjadi kekuatan 'tak tertandingi' terutama sejak PD II bahkan hingga hari ini ? Negara yang paling lantang menyerukan kebebasan namun sering bertentangan dengan tindakannya, seperti mendukung gerakan pemberontak, ikut campur dalam urusan regional suatu negara, bahkan merasa "berhak" menggunakan kekuatan militer secara sepihak dengan dalih "keamanan atau kemanusiaan".

Chomsky juga dengan brilian mengurai bagaimana para pemimpin dengan kecerdasannya justru mengarahkan umat manusia semakin dekat dengan kehancuran, lewat senjata nuklir. Belum lagi soal pemanasan global yang berujung rusaknya lingkungan di bumi ini juga mendapat kritikan tajam dari Chomsky.


"Adalah hal biasa bagi para pemenang untuk membuang sejarah ke tempat sampah dan para korban menanggapinya dengan keseriusan."

-Noam Chomsky


Cukup melelahkan membaca buku ini, mungkin karena terjemahannya banyak yang kurang 'enak' dibaca, selain itu juga karena Chomsky mengajak pembaca jalan-jalan keliling dunia, menyaksikan sejarah konflik yang terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana darah manusia seperti hanya dianggap statistik belaka. 

Membaca buku ini seperti membaca kekejian dan kengerian dari banyak konflik didunia ini. Sebut saja Kuba, Irak, Suriah, Israel-Palestina, Afrika, Vietnam, Afganistan, dsb. Lalu aku pun bertanya-tanya, sebenarnya sejauh apa peran PBB di dunia ? Apa iya PBB 'kalah' dengan superioritas AS yang dengan tanpa sungkan berlindung dibalik hak impunitas ?  


"Efek samping lain yang disingkirkan dalam sistem pasar : musnahnya makhluk hidup. Risiko sistemik dalam sistem keuangan dapat diatasi oleh wajib pajak, tetapi tidak akan ada yang mau menyelamatkan jika lingkungan hancur."

-Noam Chomsky


Aku salut dengan sikap Chomsky sebagai akademisi yang mengamati perkembangan politik dunia secara porporsional dan tajam, sehinga sebagai pembaca bisa dengan waras dan logis memahaminya. Namun pada akhirnya, tidak mudah menyebut siapa yang mengatur dunia. Apakah itu suatu negara adidaya ? Atau suatu kelompok yang menguasai sistem keuangan ? Diakhir buku ini, Chomsky justru melempar pertanyaan yang lebih tinggi lagi, "Prinsip dan nilai apa yang menguasai dunia ?"


"Amerika Serikat telah menjelma negeri adidaya penipu ulung bagi sebagian besar dunia. Satu satunya ancaman eksternal terbesar bagi masyarakat mereka. Negara penipu ulung hari ini adalah Amerika Serikat." 

-Samuel P. Huntington, Profesor Ilmu Pemerintahan Harvard University. 


REVIEW BUKU THE ANSWER - ALLAN & BARBARA PEASE

 


Judul Buku : The Answer

Penulis : Allan & Barbara Pease

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal :  359 halaman

Tahun Terbit : 2018

Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement

My Rated : 4,8/5


Hallo, Sobat Reader ! Kali ini aku mau mengulas buku self-improvement yang menjadi salah satu buku terbaik yang pernah aku baca di tahun 2020. Judulnya The Answer karya dari Allan & Barbara Pease, wow sebuah jawaban ???


"Tubuh bisa mencapai apa pun yang bisa dipikirkan dan dipercayai oleh benak" 

-Napoleon Hill, 1937 


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menciptakan manusia dengan sangat kompleks. Dimana setiap bagiannya sangat detail, rumit, fungsional dan mustahil bisa di tiru seratus persen oleh tangan manusia. 

Salah satu bagian penting dari tubuh manusia ialah SPR (Sistem Pengaktifan Retikuler) yang berada di otak. SPR adalah pusat komando dan kendali otak. Di buku ini Allan & Barbara menyingkap rahasia dibalik SPR melalui eksperimen pribadi mereka, pengalaman orang lain dan penelitian ilmiah. 

Buku ini menjabarkan cara-cara untuk memutuskan apa yang sungguh-sungguh kita inginkan dalam hidup ini dan bagaimana mewujudkannya. 


"Anda tidak akan pernah meninggalkan tempat Anda berada sampai Anda memutuskan di mana sebenarnya Anda ingin berada" 

-Allan & Barbara Pease


Ya, kita tentu harus memutuskan lebih dulu keinginan hidup kita sebelum mewujudkannya. Setelah memutuskan, Allan menyarankan untuk "tulis ! buatlah daftar!" Haruskah ? Setelah membaca buku ini, jawabanku, "harus". 

Kemudian kita akan memprogram SPR kita, inilah menurutku inti dari buku ini, kesaktian SPR akan menuntun kita, dipadukan dengan afirmasi, visualisasi, dan bergerak maju terlepas dari apa yang orang lain pikirkan, katakan atau lakukan.

Ada 16 bab di buku ini. Dua bab terakhir ialah kisah dua sejoli (Allan dan Barbara) ketika 'pernah' dan 'masih' menerapkan cara-cara di buku ini dalam kehidupan mereka. Perjalanan roller coaster hidup mereka yang menakjubkan, bahkan mustahil secara statistik, diceritakan dengan jujur dan penuh humor. Inspiratif !

Setelah membaca The Answer, aku jadi lebih bersyukur kepada Tuhan atas karuniaNya yang luar biasa ini. Terima kasih kepada Allan dan Barbara telah membangun kepercayaan diri, menyingkap rahasia, membagi pengalaman inspiratif dan menjawab bagaimana cara mewujudkan impian dalam buku ini.

Jadi, untuk kamu yang senang baca buku non-fiksi atau yang ingin menemukan jawaban tentang keinginanmu, buku dengan Cover kuning mencolok ini pastikan ada di rak bukumu.

Review hari ini aku tutup dengan mengutip,


"Orang baik memberi Anda kebahagiaan dan orang buruk memberi Anda pengalaman. Orang terburuk memberi Anda pelajaran dan orang terbaik memberi Anda kenangan" 

-Allan & Barbara Pease


REVIEW BUKU TAK MASALAH JADI ORANG PAYAH - KAREN RINALDI

 


Judul Buku : Tak Masalah Jadi Orang Payah

Penulis : Karen Rinaldi 

Penerbit : Shira Media 

Tebal :  296 halaman

Tahun Terbit : 2020

Kategori : Non-Fiksi, Self Improvement

My Rated : 3,5/5


Hallo, Sobat Reader ! Pernahkah kamu tidak jadi melakukan sesuatu (padahal kamu suka) hanya karena merasa belum mahir ? Apakah kamu pernah malu karena tidak mahir dalam suatu hal ? 

Jika pernah, maka Tak Masalah Jadi Orang Payah mungkin cocok untuk kamu baca. Karen Rinaldi mengenalkan gagasan tentang berdamai dengan ketidakmahiran. Menurutnya, menjadi tidak mahir punya beberapa keuntungan. Yang paling penting adalah jika kita terus-terusan takut melakukan sesuatu hanya karena merasa tidak mahir, maka kita tidak akan kemana-mana. Jadi, lakukan saja, mulailah, lakukan apa yang kita suka, dalam proses itu kita akan berjumpa dengan kegagalan maupun keberhasilan. Justru karena mau membuka diri seperti itu, kita akan banyak mendapatkan pelajaran.

Bahkan, penelitian yang dikutip Rinaldi di buku ini menjelaskan bahwa mempelajari sesuatu yang baru akan mengaktifkan pelbagai respon saraf yang bermanfaat bagi ingatan. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki rasa ingin tahu lebih banyak daripada teman-temannya, memiliki harapan hidup yang lebih tinggi.

Ketidakmahiran Rinaldi dalam berselancar, menjadi fondasi ia menulis buku ini. Berisi campuran pengalaman yang terbaik hingga terburuk. Rinaldi juga tidak lupa untuk berdiskusi dengan para ahli untuk mencari jawaban.


"Perjuangan mencapai kesempurnaan merupakan kata halus dari rasa takut. Takut terlihat bodoh. Takut harus memulai lagi. Takut tidak bisa menguasai dengan baik. Takut tidak mahir."

 -Karen Rinaldi


Buku ini tebalnya hampir 300 halaman, namun 50 halaman terakhirnya adalah daftar pustaka. 70% isi buku ini, Karen Renaldi berputar-putar membicarakan tentang "berselancar." Ya, banyak sekali istilah berselancar, laut dan ombak. Entah gaya menulisnya, atau pengembangan ceritanya atau karena banyak yang diulang-ulang, sehingga aku merasa bosan membacanya. Aku tidak bisa membayangkan bila pembaca sama sekali tidak tertarik dengan dunia berselancar akan bertahan ketika membaca buku ini. Tapi, semoga sesiapa yang membaca buku ini 'bertahan' sampai halaman terakhir.

Menurutku memang banyak gagasan-gagasan yang diutarakan tentang 'kepayahan' dalam buku ini, dan itu bagus, beberapa aku setuju. Tetapi, aku agak kecewa sebenarnya, karena menurutku kebanyakan gagasan tentang 'kepayahan' itu kurang di eksplor sehingga sebagai pembaca, aku kurang dapat gregetnya. 

Buku ini lebih cocok dikemas sebagai novel atau memoar, yang bercerita tentang kehidupan Rinaldi dan dunia berselancarnya sebagai gambaran besarnya.


"Dengan mengucapkan terima kasih yang dalam atas hidup kita --untuk rasa sakit dan senang, di saat-saat yang penuh kesulitan dan sukacita-- kita membantu diri sendiri untuk pulih, baik secara fisik maupun psikis."

 -Karen Rinaldi


Namun, rasa kecewaku sedikit terobati dengan kelucuan yang 'receh' di awal-awal buku ini, dan setiap awal bab ada kalimat yang berfungsi sebagai kompas sehingga pembaca tahu kemana arah pembahasan di bab tersebut. 

Aku suka dengan inti pesan dalam buku ini. Kita semua harus merasa cukup berani untuk mencoba sesuatu yang berarti bagi kita. Siapa tahu dari mencoba hal baru itu, kita jadi menemukan bakat yang selama ini terpendam.


"Hidup bukan untuk memahami semuanya, melainkan untuk menjalani hidup itu sendiri. Untuk berhasil dan gagal, meski kita cenderung mencari kenyamanan. Kita pasti akan bertemu dengan rasa tidak nyaman. Konsep menjadi orang payah, merangkul rasa tidak nyaman itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang indah"

-Karen Rinaldi